Tuesday, 29 Zulqaidah 1443 / 28 June 2022

Muslim di Inggris Miliki Tingkat Kematian Covid-19 Tertinggi

Sabtu 20 Jun 2020 05:45 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Ani Nursalikah

Muslim di Inggris Miliki Tingkat Kematian Covid-19 Tertinggi. Sejumlah warga berjalan membawa tas usai berbelanja di department store Selfridges, London, Senin, (15/6). Setelah tiga bulan ditutup karena lockdown akibat wabah virus Corona, toko-toko yang menjual pakaian, mainan, dan barang-barang lainnya diizinkan untuk dibuka kembali di Inggris untuk pertama kali sejak negara itu memberlakukan lockdown pada bulan Maret

Muslim di Inggris Miliki Tingkat Kematian Covid-19 Tertinggi. Sejumlah warga berjalan membawa tas usai berbelanja di department store Selfridges, London, Senin, (15/6). Setelah tiga bulan ditutup karena lockdown akibat wabah virus Corona, toko-toko yang menjual pakaian, mainan, dan barang-barang lainnya diizinkan untuk dibuka kembali di Inggris untuk pertama kali sejak negara itu memberlakukan lockdown pada bulan Maret

Foto: AP/Matt Dunham
Tingkat kematian Muslim lebih tinggi daripada kelompok lain di Inggris.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Tingkat kematian Covid-19 di Inggris dan Wales mayoritasnya diidentifikasi sebagai Muslim, Yahudi, dan Hindu daripada orang Kristen atau mereka yang tidak beragama. Hal ini sebagaimana dirilis oleh kantor statistik Inggris (ONS), Jumat (19/6). 

Angka-angka terbaru dari Kantor Statistik Nasional Inggris juga mencerminkan studi sebelumnya yang menunjukkan kelompok etnis minoritas kulit hitam dan lainnya memiliki risiko kematian yang jauh lebih tinggi daripada etnis kulit putih. Menurut ONS, yang memeriksa data dari awal Maret hingga 15 Mei tahun ini, tingkat kematian di kalangan Muslim lebih tinggi daripada kelompok lain. Atau lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang Yahudi, Hindu atau Sikh meski kedua kelompok agama ini juga menunjukkan tingkat kematian yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan identifikasi kematian pasien Covid-19 dari agama lainnya. 

Baca Juga

“Dengan etnisitas termasuk, (ini) menunjukkan sebagian besar dari perbedaan dalam kematian antara kelompok-kelompok agama dijelaskan oleh keadaan yang berbeda di mana anggota kelompok ini diketahui hidup. Misalnya, tinggal di daerah dengan tingkat kekurangan sosial-ekonomi yang lebih tinggi dan perbedaan susunan etnis," kata Kepala ONS Nick Stripe. 

Namun demikian, setelah menyesuaikan dengan yang data tersebut diketahui, laki-laki Yahudi berisiko dua kali lipat dibandingkan dengan laki-laki Kristen, dan perempuan Yahudi juga berisiko lebih tinggi. Nick Stripe menambahkan bahwa diperlukan lebih banyak penelitian untuk menjelaskan hal ini. 

Dia membeberkan, tingkat kematian di antara pria Muslim adalah 98,9 kematian per 100 ribu dan 98,2 kematian per 100 ribu untuk wanita. Bagi mereka yang mengatakan tidak memiliki agama dalam sensus Inggris 2011, angkanya adalah 80,7 kematian per 100 ribu pria dan 47,9 kematian per 100 ribu wanita. 

Temuan ini bertepatan dengan lebih banyak statistik yang menunjukkan orang kulit hitam dan Asia di Inggris dan Wales berisiko lebih tinggi terjangkit Covid-19. Angka itu juga menunjukkan tingkat kematian tertinggi adalah di antara pria kulit hitam di 255,7 per 100 ribu dibandingkan dengan tingkat 87 kematian per 100 ribu pria kulit putih. 

Tingkat kematian adalah 119,8 per 100 ribu untuk wanita kulit hitam dan 52 per 100 ribu untuk wanita kulit putih. Hal itu menggemakan sebuah penelitian resmi awal bulan ini yang menemukan orang kulit hitam dan Asia di Inggris hingga 50 persen lebih mungkin meninggal setelah terinfeksi Covid-19.

"Perbedaan signifikan juga ada pada pria Bangladesh, Pakistan dan India," kata Stripe.

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA