Monday, 11 Zulqaidah 1442 / 21 June 2021

Monday, 11 Zulqaidah 1442 / 21 June 2021

China: Virus Corona Beijing Berasal dari Eropa

Jumat 19 Jun 2020 19:16 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Seorang pasien didorong melewati warga yang mengantre untuk menunggu tes di klinik, Beijing, China, Senin (15/6). Ibukota Cina bersiap-siap untuk gelombang kedua virus Corona setelah lebih dari 100 kasus baru dilaporkan baru-baru ini di kota yang belum pernah melihat kasus penularan lokal dalam lebih dari sebulan

Seorang pasien didorong melewati warga yang mengantre untuk menunggu tes di klinik, Beijing, China, Senin (15/6). Ibukota Cina bersiap-siap untuk gelombang kedua virus Corona setelah lebih dari 100 kasus baru dilaporkan baru-baru ini di kota yang belum pernah melihat kasus penularan lokal dalam lebih dari sebulan

Foto: AP/Ng Han Guan
Virus corona yang merebak di Beijing diduga berasal dari produk makanan beku Eropa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- China mengumumkan data pengurutan genom virus corona jenis baru (SARS-CoV-2), penyebab Covid-19, yang belum lama ini mewabah di Beijing. Hasil penelusuran awal menunjukkan virus berasal dari Eropa, menurut pihak terkait.

"Berdasarkan hasil kajian genom dan epidemiologi awal, virus ini berasal dari Eropa, tetapi berbeda dengan virus yang saat ini beredar di Eropa," kata anggota Pusat Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit Menular China (CDC), Zhang Yong, lewat sebuah artikel yang ditayangkan Jumat.

Menurut Zhang, virus itu usianya lebih lama daripada virus yang saat ini beredar di Eropa. Kemungkinan, virus itu menempel pada produk makanan beku impor atau bersembunyi di lingkungan yang gelap dan lembap seperti di Xinfadi, dengan lingkungan yang belum disemprot disinfektan atau disterilisasi, tulis Zhang dalam artikel yang diunggah laman Komisi Pusat Inspeksi KedisiplinanChina.

Data dari laman Pusat Data Mikrobiologi Nasional China menunjukkan, pengurutan data genom itu berasal dari tiga sampel, yang terdiri dari dua sampel manusia dan satu sampel lingkungan. Ketiganya dikumpulkan pada 11 Juni.

Otoritas di Beijing pada hari yang sama, 11 Juni, melaporkan penularan lokal Covid-19 pertama dalam beberapa bulan terakhir. Delapan hari sejak itu, Beijing mencatat total 183 kasus penularan lokal, yang seluruhnya terkait dengan klaster di pasar Xinfadi, yang berada di kawasan barat daya kota itu.

Otoritas setempat mengatakan data tersebut telah diserahkan ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). China sebelumnya mendapat tekanan dari banyak negara karena dianggap terlambat mengumumkan temuan Covid-19.

photo
Warga memakai masker saat berbelanja di supermarket menyusul konfirmasi adanyanya kasus baru virus corona, SARS-CoV-2, di Beijing, China, Selasa (16/6). - (EPA-EFE/WU HONG)
Saat itu, pengumuman soal kemunculan wabah baru disampaikan saat kasus positif Covid-19 telah melonjak tinggi di Beijing, ibu kota negara. Sementara itu, ahli epidemiologi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), Wu Zunyou, awal pekan ini mengatakan, rantai virus yang tersebar di Beijing mirip dengan jenis yang ada di Eropa.

Akan tetapi, temuan itu tidak serta-merta menunjukkan virus corona jenis baru yang kembali mewabah di Beijing itu berasal dari negara-negara Eropa. Wu tidak menjelaskan lebih lanjut pendapatnya yang disampaikan sebelum hasil pengurutan genom diumumkan ke publik.

Wu mengungkapkan, bentuk virus corona yang ditemukan di Amerika Serikat dan Rusia sebagian besar berasal dari Eropa. Klaster penularan Covid-19 pertama ditemukan di pasar basah Huanan di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, pada Desember tahun lalu. Sejak saat itu, virus SARS-CoV-2 telah menyerang hampir 8,5 juta orang dan menewaskan sekitar 450 ribu jiwa.

Baca Juga

sumber : Antara, Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA