Monday, 4 Zulqaidah 1442 / 14 June 2021

Monday, 4 Zulqaidah 1442 / 14 June 2021

Bintang emon

Kisah Lucuan Jerman, Cak Durasim, Kasino,Hingga Bintang Emon

Jumat 19 Jun 2020 09:59 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Komedian Iegendaris nggris Charlie Chaplien, memerankan Hitler.

Komedian Iegendaris nggris Charlie Chaplien, memerankan Hitler.

Foto: Google,com
Kisah lucuan sepanjang zaman

REPUBLIKA.CO.ID, oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Pada tahun 1940-an, pada zaman fasisme kolonialisme Jepang berkuasa di Indonesia, maestro ludruk Cak Durasim terpaksa berurusan dengan kekuasaan. Pasalnya, dia membuat humor yang dianggap sarkas ketika membawakan ngremo atau bersyair ala ludruk yang khas sekaligus jenaka. Syair legendaris itu begini: "Pegupon omahe doro, urip melu Nippon tambah sengsoro" (pegupon rumahnya burung dara, Ikut Nippon semakin sengsara).

Meski parikan (pantun Jawa) kala itu membuat orang tertawa, nasib Cak Durasim yang kelahiran dari kampung yang sama dengan presiden yang terkenal gemar membuat lucuan, Gus Dur, hidupnya kemudian tak enak. Panggung ludruknya berubah petaka. Pemerintah Jepang kala itu marah besar. Cak Duraim ditangkap masuk penjara. Ia meninggal dunia setahun kemudian dan dimakamkan di Makam Islam Tembok. Berkat keberanian itu, namanya dikenang sepanjang masa sebagai seniman serta pahlawan.

Kisah ini memang menjadi salah satu babak paling tragis sekaligus heroik dalam sejarah budaya dan sosial Indonesia. Namun, ini pun sebenarnya tak terjadi di sini saja. Di fenomena negara lain, misalnya Jerman semasa diperintah Hitler pun, ada kisah sama. Kisah jenaka sekaligus tragis tentang dunia lucuan ini pernah dimuat dalam koran terkemuka negeri itu, De Spegiel, beberapa tahun silam. Tulisan lucuan seperti itu begini.

Pada suatu hari, Hitler mengunjungi rumah sakit jiwa. Para pasien memberi hormat kepada Hitler. Saat melewati garis, dia menemukan seorang pria yang tidak memberi hormat.

"Mengapa kamu tidak memberi hormat seperti yang lain?" tanya Hitler dengan nada marah.

"Mein Führer, aku perawat," jawabnya. "Aku tidak gila!"

Menurut De Spiegel, kala itu di Jerman lelucon itu mungkin bukan seuatu yang menakutkan atau screamer sebab diceritakan secara terbuka bersama dengan banyak orang lain tentang Hitler dan antek-anteknya pada tahun-tahun awal Reich Ketiga. Bahkan, ada yang sempat mengumpulkan "lucuan" ini. Selain itu, lucuan ini dituliskan dalam sebuah buku baru tentang humor di bawah Nazi.

Namun, pada akhir Perang Dunia II, lelucon tentang Hitler ini bisa membuat Anda terbunuh. Seorang pekerja amunisi Berlin, diidentifikasi hanya sebagai Marianne Elise K, dihukum dengan tuduhan merusak semangat berperang orang Jerman "melalui komentar dengki". Tak tanggung-tanggung dia kemudian dieksekusi pada tahun 1944 karena mengatakan lucuan seperti ini.

Hitler dan Hermann Göring (petinggi Partai Nazi--Red) berdiri di atas menara radio Berlin. Hitler mengatakan dia ingin melakukan sesuatu untuk menghibur orang-orang Berlin. "Mengapa kamu tidak melompat saja?" saran Göring.

Seorang rekan kerja mendengar dan menceritakan lelucon itu. Dia kemudian melaporkannya ke pihak berwenang. Goring kemudian ditembak, ditahan, diadili, kemudian dieksekusi.

Nasib nahas lain kala itu pun banyak dikomentari. Seorang sutradara serta penulis skenario film di Jerman, Rudolph Herzog, menyatakan, kala itu sebenarnya lucuan itu tidak berusaha hanya membuat orang atau pembaca tertawa. Kemudian, penulis buku di Jerman seperti Herzog pun menjadi ingin memeriksa suasana periode Nazi dari perspektif yang berbeda dengan melihat atau mebandingkan lelucon kontemporer sebagai cara yang baik untuk menunjukkan perasaan orang yang sebenarnya pada saat itu.

"Lelucon mencerminkan apa yang benar-benar memengaruhi, menghibur, dan membuat marah orang. Mereka memberikan pandangan dalam tentang Reich Ketiga yang memiliki keaslian yang biasanya sering dilewatkan orang ketika mengulas teks-teks sastra lainnya," kata Herzog, yang pernah menulis buku Heil Hitler, Babi sudah Mati--serta aneka buku humor dengan tema lelucon Hitler lain.

Bahkan, Herzog mengatakan bahwa lelucon meski menyangkut politik sekalipun sebenarnya bukan merupakan bentuk perlawanan aktif, melainkan malah bisa menjadi katup untuk kemarahan publik yang terpendam. Dengan lelucon yang misalnya dimunculkan di tempat hiburan, pub, di jalan—sebenarnya sebatas hanya untuk mengeluarkan semacan "uap" sambil tertawa. Di Jerman kala itu suasana cocok dengan nuansa rezim Nazi yang sangat tanpa humor memakai istilah "melepaskan uap", yang mengindikasikan ada suasana yang begitu panas hingga harus ada jalur atau sarana untuk melepaskannya supaya hidup terasa segar.

Kala itu juga banyak orang Jerman marah tentang kisah lucuan kucing gemuk Nazi yang mendapatkan pekerjaan teratas di pemerintahan dan industri, tetapi mereka tidak memberontak. Mereka hanya mengatakan istilah itu sebagai lelucon. Lucuannya begini.

Seorang Nazi senior mengunjungi sebuah pabrik. Sesampai di sana ia bertanya kepada manajer apakah dia masih memiliki semangat ideologi sosial demokrat di antara para tenaga kerjanya.

"Ya, 80 persen," jawab sang manajer.

"Apakah Anda juga memiliki anggota Partai Pusat Katolik?" tanya sang Nazi senior.

"Ya, 20 persen," jawab manajer.

"Apakah kamu tidak punya semangat tentang ideologi sosialis-nasional?"

"Ya, tentu kita semua Nazi sekarang!"

Pada masa Hitler dengan partai Nazi-nya yang berkuasa, suasananya memang serbategang. Tak ayal lagi para petinggi negara Jerman kala itu secara diam-diam menjadi bahan olok-olok rakyatnya.

Kesombongan para petinggi Nazi adalah sasaran banyak lelucon itu. Misalnya begini.

"Hermann Göring telah melampirkan panah ke deretan medali di tuniknya. Bunyinya 'lanjut di belakang'. Dengan kata lain, oleh orang Jerman kala itu bila dimaksudkan secara lugas maksudnya sama dengan 'siapa lagi penerusnya'."

Uniknya, kata Herzog, lelucon semacam itu tidak berbahaya bagi Nazi dan tidak mencerminkan penentangan terhadap mereka. Lalu, dia membandingkannya dengan humor yang menjadi cerminan putus asa dari orang-orang Yahudi Jerman ketika hidup terkerangkeng dalam kamp konsentrasi selama dekade tahun 1930-an atau pada tahun-tahun perang dunia. Lucuan di Jerman waktu itu begini.

Dua orang Yahudi akan ditembak. Tiba-tiba datang pesanan untuk menggantung mereka. Yang satu berkata kepada yang lain, "Anda lihat, mereka kehabisan peluru."

Herzog menilai lelucon semacam itu yang diceritakan oleh orang-orang Yahudi adalah bentuk dorongan bersama, yakni ungkapan keinginan untuk terus bertahan hidup. "Bahkan, humor Yahudi paling hitam pun mengekspresikan keinginan yang menantang, seolah-olah juru lelucon itu ingin mengatakan: saya tertawa, jadi saya masih hidup," kata Herzog.

Buku humor yang dikumpulkan Herzog itu dirangkum berdasarkan literatur kontemporer, dari buku harian dan wawancara dengan 20 orang yang kala itu hidup dalam masa Reich Ketiga. Buku ini sampai pada beberapa kesimpulan yang tidak nyaman. Dari tahap awal, orang Jerman sangat menyadari kebrutalan pemerintah mereka kala itu. Negara itu terbuki bahwa tetap tidak dimiliki oleh "roh-roh jahat" dan sebenarnya tidak terhipnotis oleh propaganda brilian Nazi.

Mengapa demikian? Sebab, orang yang dikuasi roh-roh jahat atau terhipnotis tidak akan dapat membuat lelucon. "Jadi, Hitler tidak menghipnotis orang Jerman!" kata Herzog.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA