Kamis 18 Jun 2020 15:26 WIB

India Makamkan Tentara Korban Pertempuran dengan China

India bersiap untuk mengadakan pemakaman untuk beberapa dari 20 tentara meninggal

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih
Aktivis India memegang foto-foto Presiden Cina Xi Jinping dan meneriakkan slogan-slogan terhadap Cina selama protes di Bangalore, India, Kamis (18/6/2020). India bersiap untuk mengadakan pemakaman untuk beberapa dari 20 tentara meninggal akibat bentrok dengan tentara China. Ilustrasi.
Foto: EPA-EFE/JAGADEESH NV
Aktivis India memegang foto-foto Presiden Cina Xi Jinping dan meneriakkan slogan-slogan terhadap Cina selama protes di Bangalore, India, Kamis (18/6/2020). India bersiap untuk mengadakan pemakaman untuk beberapa dari 20 tentara meninggal akibat bentrok dengan tentara China. Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- India bersiap untuk mengadakan pemakaman untuk beberapa dari 20 tentara yang meninggal dalam pertempuran dengan pasukan China, Kamis (18/6). Proses ini terjadi di tengah kondisi kedua negara sedang mencari jalan penyelesaian masalah untuk menghindari bentrokan ulang.

Lusinan orang berbaris di jalan di kota selatan Suryapet ketika tubuh kolonel tentara B. Santosh Babu yang dibungkus dengan bendera India dibawa pulang. Pemakaman anggota tentara lain juga akan berlangsung di kota dan desa asal masing-masing, termasuk beberapa di negara bagian Bihar timur.

Baca Juga

"Pengorbanan prajurit kita tidak akan dibiarkan sia-sia," kata Perdana Menteri India Narendra Modi.

Sehari sebelumnya, Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar berbicara dengan diplomat China, Wang Yi. Kedua belah pihak sepakat untuk tidak mengambil langkah-langkah peningkatan masalah dan menjamin perdamaian serta stabilitas di perbatasan yang diperebutkan.

Meski terjadi pembicaraan yang sedikit menyejukkan, keduanya saling menyalahkan atas bentrokan perbatasan paling mematikan sejak 1967. Mereka mengatakan masing-masing negara harus mengendalikan pasukan.

"Kebutuhan waktu itu adalah bagi pihak China untuk menilai kembali tindakannya dan mengambil tindakan korektif," kata Kementerian Luar Negeri India mengutip perkataan Jaishankar kepada Wang.

Sedangkan Wang mengatakan India harus menghukum tokoh-tokoh yang bertanggung jawab atas konflik tersebut. India juga harus mengendalikan pasukan garis depannya.

Setelah pembicaraan, tentara tetap bersiaga di Lembah Galwan di Himalaya. Kelompok-kelompok nasionalis garis keras India yang memiliki hubungan dengan partai Bhiatiya Janata telah meningkatkan seruan untuk memboikot barang-barang China dan pembatalan kontrak dengan perusahaan-perusahaan China.

"Dalam situasi saat ini, masalah China tidak boleh dianggap enteng. Dalam banyak kasus, mungkin ada uang China yang diinvestasikan, tapi saya pikir hal-hal biasa yang kita beli dari pasar, kita harus memastikan bahwa kita menghindari produk-produk China," kata Menteri Urusan Makanan dan Konsumen Ram Vilas Paswan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement