Monday, 11 Zulqaidah 1442 / 21 June 2021

Monday, 11 Zulqaidah 1442 / 21 June 2021

Imam Besar Istiqlal Tepis Fitnah Alquran Pinggirkan Wanita

Kamis 18 Jun 2020 03:10 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Alquran dalam banyak ayatnya justru tidak memarginalkan wanita.  Membaca Alquran (ilustrasi)

Alquran dalam banyak ayatnya justru tidak memarginalkan wanita. Membaca Alquran (ilustrasi)

Foto: PPPA Daarul quran
Alquran dalam banyak ayatnya justru tidak memarginalkan wanita.

REPUBLIKA.CO.ID, Penafsiran Alquran masih sering dijadikan dasar untuk menolak kesetaraan jender. Kitab-kitab tafsir dijadikan referensi dalam mempertahankan status quo dan melegalkan pola hidup patriarkat yang memberikan hak-hak istimewa kepada laki-laki dan cenderung memojokkan perempuan.

Padahal, misi pokok Alquran untuk membebaskan manusia dari berbagai bentuk anarki, ketimpangan, dan ketidakadilan. Jika ada penafsiran yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip keadilan dan hak asasi manusia, maka penafsiran tersebut harus ditinjau kembali.

Baca Juga

Allah SWT Maha-adil, maka tidak mungkin di dalam kitab-kitab suci-Nya mengandung sesuatu yang tidak sejalan dengan sifat-sifat keadilan-Nya. Di dalam Islam ada beberapa isu kontroversi berkaitan dengan relasi jender, antara lain asal-usul penciptaan perempuan, konsep kewarisan, persaksian, poligami, hak-hak reproduksi, hak talak perempuan, serta peran publik perempuan. Jika membaca sepintas teks ayat-ayat yang berhubungan dengan masalah tersebut, memang mengesankan adanya ketimpangan pada diri perempuan.

Akan tetapi, jika disimak secara mendalam dengan menggunakan metode analisis semantik, semiotik, hermeneutik, dan teori sabab nuzul, maka dapat dipahami ayat-ayat tersebut merupakan suatu proses dalam mewujudkan keadilan secara konstruktif di dalam masyarakat. Semua ayat-ayat yang berhubungan dengan masalah-masalah tersebut di atas, ternyata turun untuk menanggapi kasus-kasus yang terjadi di masa Rasul. Ini artinya ayat-ayat tersebut bersifat khusus.

Menurut Yvonne Yazbeck Haddad, Alquran adalah sumber nilai yang pertama kali menggagas konsep keadilan jender dalam sejarah panjang umat manusia. Di antara kebudayaan dan peradaban dunia yang hidup di masa turunnya Alquran, seperti Yunani (Greek), Romawi, Yahudi, Persia, Cina, India, Kristen, dan Arab (pra-Islam), tidak ada satu pun menempatkan perempuan lebih terhormat dan bermartabat daripada nilai-nilai yang diperkenalkan Alquran. 

Kita juga tidak boleh sertamerta menyalahkan setiap penafsiran yang tidak sejalan dengan pikiran kontemporer, karena setiap mufasir adalah anak zamannya. Mereka juga mempunyai hak dan kemampuan tersendiri di dalam memahami ayat-ayat Alquran menurut logika dan konteks budaya yang sesuai dengan zamannya. Mungkin yang perlu dilakukan ialah bagaimana reinterpretasi Alquran dianggap sesuatu yang on going process, yang harus dilakukan setiap saat seiring dengan perubahan sosial. 

Bagaimana mengartikulasikan sejumlah ayat yang dinilai bias jender ke dalam lingkungan masyarakat kita, dengan melakukan penelaahan ulang secara kritis terhadap ayat-ayat Alquran. Prinsip-prinsp kesetaraan jender di dalam Alquran antara lain ialah laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai hamba dan sebagai khalifah di bumi, laki-laki dan perempuan sama-sama mengemban amanah dan menerima perjanjian primordial dengan Tuhan. 

Alquran berobsesi mewujudkan keadilan di dalam masyarakat. Alquran tidak mentoleransi segala bentuk penindasan, baik berdasarkan kelompok etnis, warna kulit, suku bangsa, dan kepercayaan, maupun yang berdasarkan jenis kelamin. 

Jika ada penafsiran yang bersifat menindas atau menyalahi nilai-nilai luhur kemanusiaan, maka penafsiran tersebut perlu ditinjau kembali. Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya bias jender di dalam menafsirkan Alquran, antara lain pembakuan tanda huruf dan tanda baca. 

Sejumlah ayat Alquran dimungkinkan ditulis dan dibaca lebih dari satu macam, yang dikenal dengan istilah tujuh huruf dan bacaan tujuh. Standardisasi penulisan (rasm) dalam arti pembakuan tanda-tanda huruf (nuqt) dan tanda-tanda baca (syakl), dengan sendirinya mengeliminir beberapa versi bacaan (qiraah) dalam Alquran. Pada masa permulaan Islam, beberapa versi qiraah masih populer digunakan di kalangan sahabat, tetapi setelah fase berikutnya, variasi itu berangsur-angsur tidak lagi populer.

photo
Alquran/Ilustrasi - (Republika/ Wihdan)

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA