Friday, 19 Syawwal 1443 / 20 May 2022

Cara Umar bin Khattab Mengaudit Harta Pejabat (3-Habis)

Rabu 17 Jun 2020 04:00 WIB

Red: Muhammad Hafil

Cara Umar bin Khattab Mengaudit Harta Pejabat. Foto: Sahabat Nabi (Ilustrasi)

Cara Umar bin Khattab Mengaudit Harta Pejabat. Foto: Sahabat Nabi (Ilustrasi)

Foto: Republika
Umar bin Khattab kerap mengaudit harta pejabat.

REPUBLIKA.CO.ID, MADINAH -- Khalifah Umar bin Khattab menulis surat kepada Amr bin Ash yang menjabat sebagai Gubernur Mesir.

Dari     : Hamba Allah, Umar bin KHattab

Baca Juga

Kepada: Amr bin Ash

Assalamualaikum

Amma ba'du

Melalui surat ini saya kabarkan, bahwa saya mendapatkan laporan, Anda telah terserang wabah penyakit yang membahayakan, yaitu penyakit duniawi; memiliki kuda, unta, kambing, sapi, dan budak. Sewaktu saya mengangkat Anda sebagai pejabat dulu, Anda tidak memiliki harta benda apapun. Untuk itu, layangkan kepada saya laporan dari mana semua itu Anda dapatkan. Dan, jangan pernah menutup-nutupi sekecil apapun! Sekian

Wassalam

Setelah Amr bin Ash membaca surat dari Umar di Madinah, dia langsung membalas surat itu.

Dari          : Amr bin Ash

Kepada Yth: Amirul Mukminin Umar bin Khattab

Assalamualaikum

Segala puji hanya layak dihaturkan kepada Allah. Tiada Tuhan selain Dia. Amma ba'du.

Saya sudah menerima surat yang dilayangkan Tuan Amirul Mukminin kepada saya tentang berita itu. Terus terang, saya senang menerimanya. karena Tuan benar-benar mengenal saya sebelum menjabat dan mengetahui betul, saya ini tidak memiliki harta sedikit pun.

Selanjutnya, saya ingin mengabarkan kepada Amirul Mukminin, bahwa harga barang di sini relatif murah. Di sini saya menggalakkan dan mengembangkan pertanian. Alat pertanian digalakkan. Karena mata pencaharian penduduk pribumi mayoritas bertani. Saya tidak mencari nafkah dari jabatan itu.

Amirul Mukminin yang syaa hormai. Demi Allah, jika saja berkhianat itu diperbolehkan, sungguh saya tetap tidak akan mengkhinati Tuan. Silahkan adili saya. Sesungguhnya kami di sini mempunyai pekerjaan yang lebih baik daripada bekerja kepada Tuan. Nanti setelah selesai menjabat dan kembali, kami sudah mempunya pencarian sendiri dan tetap. Setahu saya, Tuan tidak mencela mata pencarian seseorang dan tidak mencela dirinya pula. Seingat saya, Tuan pernah mengatakan bahwa ada orang-orang Muhajirin pertama yang lebih baik daripada saya. Sedangkan kami tidak pernah membuka sesuatu yang telah Tuan kunci, dan tidak pula berbuat khianat dalam bekerja kepada Tuan.

Seusai surat balasan yang dilayangkan Amr bin Ash dibaca oleh Umar bin Khattab, dia kemudian membalas suratnya itu kembali.

Dari : Hamba Allah, Umar bin Khattab

Kepada: Amr bin Ash

Assalamualaikum

Amma ba'du

Demi Allah, saya tidak termasuk ke dalam golongan yang engkau maksudkan. Ketahuilah, engkau mengatakan hal yang tidak ada bukti dan faktanya! Yang terpenting sekarang adalah bersihkan dirimu! Sekarang saya mengutus Muhammad bin Musallamah untuk mengaudit harta dan kekayaanmu. Kalina para pejabat duduk di atas limpahan harta tanpa alasan. Kalian mengumpulkan harta itu untuk anak-anak. Dan, mempersiapkannya untuk bekal diri kalian nanti. Ketahuilah! Sesungguhnya kalian sedang mengumpulkan kehinaan dan mewariskan neraka.

Wassalam.

Delegasi sang Khalifah Amirul Mukminin Umar bin Khattab, Muhammad bin Musallamah berangkat ke Mesir menjalankan tugasnya. Sesampainya di sana, dia dijamu oleh Gubernur Mesir Amr bin Ash dengan berbagai macam makanan yang lezat. Utusan khalifah Umar enggan mencicipinya. Melihat tingkahnya itu, Amr bertanya dan berbincang dengannya.

"Apakah makanan ini haram bagi kalian?" tanya Amr.

"Kalau saya datang sebagai tamu, dan disajikan makanan, pastilah saya akan mencicipinya. Tetapi sekarang ini, engkau sedang menyajikan makanan sebagai pembuka dari keburukan. Demi Allah, saya tidak akan meneguk setetes air darimu. Kalau begitu, cepatlah berikan laporan keungan dan catatan hartamu, serta jangan ada yang engkau tutup-tutupi," kata utusan itu.

Tanpa memperpanjang bicara, Muhammad bin Musallamah mengaudit semua aset dan harta milik Amr bin Ash. Setelah dipilih-pilih dan dihitung, yang tersisa hanya dua pasang sandalnya. Muhammad bin Musallamah mengambilnya sepasang, dan sepasang lagi untuk dipakai Amr bin Ash. Melihat tindakan itu, Amr bin Ash semakin geram dan marah sambil bertanya kepadanya.

"Wahai Muhammad bin Musallamah, ALlah menghina masa ini, di mana seorang Amr bin Ash yang menjabat sebagai bawahan Umar bin Khattab. Demi Allah, sungguh saya mengenal Al Khattab. Dulu di atas kepalanya dia sering membawa seikat potongan kayu bakar, begitu juga di atas kepala anaknya. Kumpulan kayu bakar itu membuat bekas bintik-bintik di pergelangannya. Demi Allah, Al Ash bin Wail tak akan rela mengenakan baju sutera dilapisi emas dan perak palsu"! kata Amr.

Muhammad bin Musallamah menjawab, "Tutup mulutmu. Diamlah! Demi Allah, Umar lebih baik daripadamu. Adapun ayahnya dan ayahmu sama-sama di neraka. Demi Allah! Kalau bukan karena masa lalumu, pastilah engkau sudah mendapatkan kambing. Engkau senang bisa menyembelihnya dan sedih karena tangisannya!"

"Ini sebagai amanah Allah bagimu," kata Amr.

Kejadian selama menjalankan tugas itu, kemudian dilaporkan Muhammad bin Musallamah kepada Umar bin Khattab.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA