Wednesday, 7 Syawwal 1442 / 19 May 2021

Wednesday, 7 Syawwal 1442 / 19 May 2021

China Dianggap Tangani Wabah Lebih Baik daripada AS

Senin 15 Jun 2020 22:35 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Reiny Dwinanda

Seorang warga mengenakan masker wajah di sebuah supermarket di Beijing, China, Senin (15/6). China dianggap lebih baik merespons pandemi Covid-19 daripada AS.

Seorang warga mengenakan masker wajah di sebuah supermarket di Beijing, China, Senin (15/6). China dianggap lebih baik merespons pandemi Covid-19 daripada AS.

Foto: AP/Ng Han Guan
Lembaga riset Jerman melakukan jajak pendapat tentang penanganan wabah Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN — China dianggap lebih berhasil dalam menangani wabah Covid-19 dibanding Amerika Serikat (AS). Hal itu terungkap dalam survei yang dilakukan Alliance of Democracies Foundation.

Jajak pendapat dilakukan oleh lembaga riset Jerman Dalia Research. Sebanyak 120 ribu responden dari 53 negara dilibatkan dalam survei tersebut.

Hasil survei menunjukkan lebih dari 60 persen responden berpendapat China telah merespons pandemi dengan lebih baik. Sementara itu hanya sepertiga di seluruh dunia yang menganggap AS bertindak efektif dalam menangani wabah.

Kendati demikian, lebih dari separuh responden yang berasal dari AS menilai negaranya telah merespons pandemi dengan baik. Yunani, Taiwan, Irlandia, Korea Selatan, Australia, dan Denmark adalah negara-negara dengan proporsi terbesar orang mengatakan bahwa pemerintah mereka telah menanggapi krisis dengan baik.

Sementara mereka yang berasal dari Brasil, Prancis, Italia, dan Inggris merasa pemerintah mereka menangani pandemi dengan buruk. Survei turut menemukan bahwa kebanyak warga Cina berpikir AS memiliki pengaruh negatif terhadap demokrasi secara global.

Dalam survei tersebut, 45 peren responden turut berpikir bahwa pemerintah mereka telah menerapkan terlalu banyak pembatasan selama pandemi.

“Covid-19 juga merupakan ujian lakmus bagi demokrasi. (Survei) ini harus bertindak sebagai peringatan bagi para pemimpin demokratis bahwa orang menginginkan lebih banyak demokrasi serta kebebasan setelah (pandemi) Covid-19,” kata Ketua Alliance of Democracies Foundation Anders Fogh Rasmussen pada Senin (15/6).

Saat ini, dunia memiliki lebih dari 7,6 juta kasus Covid-19 dengan korban meninggal melampaui 428 ribu jiwa. AS menempati posisi teratas sebagai negara dengan kasus dan kematian tertinggi di dunia akibat virus corona.

Negeri Paman Sam memiliki lebih dari 2,1 juta kasus Covid-19 dengan 117 ribu kematian.



sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA