Wednesday, 7 Syawwal 1442 / 19 May 2021

Wednesday, 7 Syawwal 1442 / 19 May 2021

Bima Arya Apresiasi Pengelolaan Penumpang KRL

Senin 15 Jun 2020 10:22 WIB

Rep: Nugroho Habibi/ Red: Friska Yolandha

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (ketiga kanan) bersama Wali Kota Bogor Bima Arya (kedua kiri) dan Direktur Keuangan PT KAI (Persero) Rivan A Purwantono (kiri) meninjau penumpang KRL Commuter Line di Stasiun Bogor, Jawa Barat, Senin (15/6/2020). Gubernur DKI Jakarta melakukan kunjungan kerja untuk meninjau kepadatan penumpang di Stasiun Bogor dan penyediaan layanan bus gratis oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Kota Bogor untuk penumpang KRL Commuter Line pada masa transisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (ketiga kanan) bersama Wali Kota Bogor Bima Arya (kedua kiri) dan Direktur Keuangan PT KAI (Persero) Rivan A Purwantono (kiri) meninjau penumpang KRL Commuter Line di Stasiun Bogor, Jawa Barat, Senin (15/6/2020). Gubernur DKI Jakarta melakukan kunjungan kerja untuk meninjau kepadatan penumpang di Stasiun Bogor dan penyediaan layanan bus gratis oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Kota Bogor untuk penumpang KRL Commuter Line pada masa transisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Foto: ANTARA/Arif Firmansyah
Masyarakat pengguna KRL semakin sadar untuk tak berangkat bersamaan.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meninjau kondisi Stasiun Bogor pada Senin (15/6) bersama Wali Kota Bogor, Bima Arya. Bima Arya mengapresiasi upaya pengelolaan penumpang KRL agar tidak ada kepadatan.

Dia menilai, adanya bus bantuan dari DKI Jakarta sebanyak 30 unit, Pemkot Bogor 10 unit, dan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) 10 unit bus sangat membantu mengurai kepadatan penumpang KRL. "Jadi relatif lebih cair," katanya, Senin.

Ia juga mengapresiasi sistem antrean yang lebih baik oleh temen-temen PT KAI dan KCI. Menurutnya, sistem antrean lebih lebih rapi dan tidak menumpuk.

Baca Juga

Selain itu, Bima mengatakan, masyarakat juga mulai sadar untuk tak berangkat secara bersamaan. Menurut laporan, sambung dia, sejumlah masyarakat telah lebih dahulu berangkat pada malam hari.

"Ada data, banyak yang memilih untuk berangkat tadi malam," ujar Bima.

Jika dibandingkan pekan lalu yang meningkat 10 persen dari 9.000 penumpang, Bima menjelaskan, situasi di Stasiun Bogor relatif terkendali. Meskipun, dia tak menapik penumpang KRL tetap padat.

"Jadi saya terima kasih kepada PT KAI, Pak Gubernur yang ikut sama-sama berkoordinasi sehingga bisa mengurangi penumpukan penumpang di sini," ujarnya.

Meskipun demikian, Bima menyatakan, akan tetap mengevaluasi situasi penumpang KRL jelang pemberlakuan new normal. Sebab, jumlah penumpang yang saat ini memadati Stasiun Bogor masih jauh dari jumlah penumpang normal dengan jumlah mencapai 22.000 penumpang.

"Mudah-mudahan ini berjalan lebih baik karena harus dicatat. Ini belum sampai 50 persen penumpang, jadi ketika lebih lagi tentunya harus ada koordinasi dan pengaturan lebih lanjut," ucapnya.

Meskipun telah diberlakukan shift kerja, Bima mengaku, masih belum efektif mengurangi kepadatan penumpang KRL di Stasiun Bogor. Namun, dia berharap, shift kerja dapat efektif mengurangi kepadatan KRL seiring berjalannya waktu.

"Sudah ada tapi mungkin ini belum maksimal karena ini kan baru beberapa hari juga. Mudah-mudahan ini berjalan lebih baik," kata Bima.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA