Thursday, 14 Zulqaidah 1442 / 24 June 2021

Thursday, 14 Zulqaidah 1442 / 24 June 2021

Lockdown Sebabkan Industri Makanan Mewah Tertekan

Ahad 14 Jun 2020 18:14 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Gita Amanda

Kaviar, (ilustrasi). Industri makanan mewah terkena dampak paling parah akibat pandemi Covid-19.

Kaviar, (ilustrasi). Industri makanan mewah terkena dampak paling parah akibat pandemi Covid-19.

Foto: pixabay
Covid-19 menyebabkan permintaan terhadap makanan premium menurun siginifikan

REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA -- Pandemi Covid-19 menyebabkan permintaan terhadap makanan premium seperti daging wagyu, tuna bluefin (sirip biru) dan kaviar menurun signifikan. Restoran dan hotel-hotel top yang harus tutup akibat kebijakan lockdown di banyak negara menyebabkan industri makanan mewah terkena dampak signifikan.

Para produsen makanan gourmet melakukan berbagai cara untuk bertahan hidup. Beberapa di antaranya langsung menjual ke konsumen, sementara lainnya terpaksa memangkas produksi karena beberapa produk telah kehilangan hampir setengah nilainya sejak awal tahun.

Direktur layanan konsultasi di pialang pertanian IKON Commodities Ole Houe mengatakan, makanan premium merupakan salah satu sektor yang terkena dampak paling parah di dunia. Ia memprediksi, pemulihan industri makanan mewah tidak akan terjadi dalam waktu cepat mengingat banyak negara dalam kondisi resesi.

Wakil Ketua Produsen Sampanye CIVC di Prancis, Jean-Marie Barillere, berharap, orang-orang akan merayakan pelonggaran lockdown dengan makanan ataupun minuman mewah. Tapi, ia tetap memproyeksikan tahun ini akan menjadi momen yang sulit. "Ini benar-benar periode yang terlihat seperti perang," katanya, seperti dilansir Reuters, Jumat (12/6).

Berdasarkan data pemesanan yang dikumpulkan layanan reservasi restoran secara online, OpenTable, terjadi penurunan pengunjung yang melakukan reservasi di restoran di Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Kanada, Australia, Irlandia dan Meksiko tahun ini dibandingkan tahun lalu. Penurunannya bahkan mencapai 80 persen.

Di tengah krisis kesehatan yang mengharuskan tinggal di rumah, masyarakat cenderung mengurangi konsumsi makanan mewah. Mereka juga khawatir tentang situasi keuangan. Meskipun beberapa restoran mewah kini sudah mulai dibuka dengan protokol kesehatan, orang-orang pun masih khawatir dengan penyebaran virus.

Direktur Pelaksana Caviar Perlita, Michel Berthommier, mengatakan, masyarakat kini tidak akan mau mencicipi anggur, lobster ataupun kaviar. "Apabila Anda memaksa orang untuk makan dalam kondisi sekarang, mereka akan lebih memilih pergi ke makanan cepat saji," tuturnya.

Penurunan permintaan telah berdampak pada harga barang-barang mewah. Di Tokyo, misalnya, harga potongan daging sapi wagyu berkualitas tinggi telah turun sekitar 30 persen dibandingkan tahun lalu. Tuna sirip biru juga turun lebih dari 40 persen, sementara harga melon Earl yang terkenal dari Shizuoka merosot 30 persen.

Perusahaan pembibitan ikan sturgeon asal Rusia, Russian Caviar House, bahkan menawarkan diskon 30 persen untuk kaviar hybrid Beluga. “Musim semi dan panas selalu menjadi low season untuk kaviar. Tapi, jika kita bandingkan periode ini dengan tahun-tahun sebelumnya, penjualan di Rusia turun 50 persen,” kata pemilik perusahaan, Alexander Novikov.

Di Prancis, harga kaviar bahkan turun mendekati posisi terendah sepanjang sejarah, penjualan sampanye anjlok, sementara produsen foie gras harus memangkas produksi untuk menopang harga.

Untuk bertahan hidup, banyak produsen makanan kelas atas berusaha menjangkau konsumen secara langsung melalui e-commerce ataupun offline.

Pemilik pialang tuna Yamayuki di Pasar Toyosu, Tokyo, Yukitaka Yamaguchi mengatakan, biasanya, bagian terbaik dari tuna diprioritaskan untuk restoran sushi kelas atas. Tapi, setelah mereka tutup karena pandemi, para pedagang mulai menawarkan tuna berkualitas tinggi kepada pengecer ikan dan supermarket.

Tapi, Yamaguchi mengakui, mencoba berjualan di supermarket jauh lebih tidak menguntungkan dibandingkan menjual ke restoran kelas atas. Di Jepang, restoran papan atas biasanya membayar 400 ribu yen (3.737 dolar AS) untuk 10 kilogram potongan tuna terbaik. Sedangkan, supermarket hanya membayar 25 ribu untuk potongan yang sama.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA