Ahad 14 Jun 2020 17:51 WIB

Wajib Rapid Test Bikin Galau Pengurus Ponpes, Ini Solusi Bupati Ipong

Pengasuh ponpes di Ponorogo galau untuk buka 15 Juni 2020.

Rep: jatimnow.com/ Red: jatimnow.com
.
.

jatimnow.com - Pengurus Pondok Pesantren (Ponpes) di Kabupaten Ponorogo mengaku galau jelang new normal pesantren 15 Juni 2020. Sebab new normal pesantren bisa diberlakukan bila ada surat bebas Covid-19 dengan melakukan rapid test semua elemen di ponpes.

Aturan itu sesuai dengan keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 188/3344/101.1/2020 tertanggal 29 Mei 2020 yang ditujukan kepada bupati dan wali kota dan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama di Jawa Timur. Juga diperkuat dengan Surat Edaran (SE) Bupati Ponorogo Nomor 713/1531/405.01.2/2020.

Dalam dua surat itu terdapat poin tentang keikutsertaan surat bebas Corona atau Covid-19 dibuktikan telah melakukan rapid test.

"Memang kami sedang dirundung kebimbangan atau kalau sekarang bilang galau tentang new normal di ponpes," ungkap Direktur Ponpes Al Islam Joresan Ponorogo, Usman Yudi, Minggu (14/6/2020).

Usman menambahkan, di Ponpes Al Islam terdapat santri yang bermukim dan pulang pergi ke rumahnya dengan total 2.000 orang. Dari jumlah itu, 1.500 mereka pulang pergi dan 500 bermukim. Yang bermukim tersebut, 80 persen warga Ponorogo.

Usman juga mengaku sudah menerima dua surat tersebut. Salah satunya keterangan sehat dari puskesmas asal dan di-rapid test.

"Ini yang kami harapkan dibantu, karena rapid test mahal. Jadi saya harap bisa gratis. Kalau kami tanggal 9 Juli baru ada santi datang," jelasnya.

Dia sempat melakukan konfirmasi ke Bagian Kesejahteraan Masyarakat (Kesra) Pemkab Ponorogo. Dan rupanya belum deal rapid test bagi santri asal Ponorogo akan dibantu.

"Ini letak kegalauan kami. Karena kan harus mematuhi perintah. Tapi ndak mungkin kami membebani mereka dalam artian wali santri," ungkap Usman.

Menurutnya, sejauh ini di Ponpes Al Islam baru menyiapkan tempat cuci tangan, thermo gun dan menyiapkan model pembelajarannya.

"Kalau selama ini satu minggu masuk enam hari. Kalau seperti ini, mata pelajaran satu minggu akan disampaikan dua minggu," tambahnya.

Artinya, 1.000 santri masuk pada hari Sabtu, Mingga dan Senin. 1.000 santri lainnya masuk Selasa, Rabu dan Kamis. Sementara Jumat libur.

"Sehingga kelasnya menjadi jarang dan nanti tidak ada istirahat. Masuknya sampai jam 12.00, mulai jam 7. Lalu pembelajaraannya 5 jam. Pembelajarannya juga tidak terlalu serius, tapi santai," sambung Usman.

Sementara Wakil Ketua DPRD Ponorogo Dwi Agus menyebut banyak ponpes yang galau. Karena tahun ajaran baru sudah di depan mata, tetapi belum ada persiapan.

"Masih banyak pondok pesantren yang galau di saat memasuki tahun ajaran baru dan kedatangan santri sudah harus dilaksanakan. Sehingga pondok pesantren harus siap menuju new normal sedang pandemi Covid-19 belum berakhir," tegas Dwi Agus.

Dia menambahkan, pemberlakuan new normal di Ponorogo sudah ada dasar hukum yaitu SE Bupati Ponorogo tersebut. Sehingga ponpes perlu lebih bersinergi dengan pihak-pihak terkait untuk mencegah penyebaran Covid 19.

Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni meminta agar para pengasuh dan pengurus ponpes tidak perlu galau.

"Tidak perlu galau. InsyaAllah ada bantuan dari Pemkab Ponorogo," jelas Bupati Ipong.

Dia melanjutkan, saat ini Pemkab Ponorogo melalui dinas kesehatan menghitung berapa jumlah santri asal Ponorogo. Mereka akan dibantu biaya rapid test.

"Bisa kami bantu biayanya. Bisa separuh bisa juga gratis. Masih kami hitung, tapi insyaAllah kami bantu," pungkasnya.

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan jatimnow.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab jatimnow.com.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement