Sabtu 13 Jun 2020 13:21 WIB

China Kebut Pembuatan Vaksin Corona

China diingatkan tentang metode pembuatan vaksin secara non-konvensional.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Indira Rezkisari
Seorang wanita mengenakan masker sebagai upaya pencegahan dari virus Covid-19. Banyak negara dan sejumlah perusahaan medis serta lembaga berupaya keras menemukan vaksin bagi Covid-19 termasuk China.
Foto: EPA-EFE/RITCHIE B. TONGO
Seorang wanita mengenakan masker sebagai upaya pencegahan dari virus Covid-19. Banyak negara dan sejumlah perusahaan medis serta lembaga berupaya keras menemukan vaksin bagi Covid-19 termasuk China.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING — China terus berupaya mengembangkan vaksin untuk Covid-19. Proses dipercepat dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk militer.

Akademi Militer Ilmu Kedokteran di China adalah salah satu pihak yang dilibatkan dalam proses pengembangan dan pembuatan vaksin. Ia menjalin kemitraan dengan perusahaan farmasi.

Baca Juga

China telah memberi otorisasi prosedur jalur cepat yang memungkinkan fase praklinis, seperti uji coba pada hewan dan penelitian lain, dapat dilakukan di waktu bersamaan. Dengan demikian, ia meniadakan prosedur yang biasanya dilakukan secara runut.

Namun Dekan Fakultas Ilmu Farmasi di Beijing’s Tsinghua University Ding Sheng memperingatkan tentang penggunaan metode pembuatan vaksin secara non-konvensional. “Saya mengerti bahwa orang-orang sangat menantikan vaksin. Tapi dari sudut pandang ilmiah, kita tidak bisa menurunkan kriteria kita, bahkan dalam keadaan darurat,” katanya dikutip laman, Japan Times, Sabtu (13/6).

Ding turut mempertanyakan keputusan untuk mengotorisasi fase satu dan dua uji klinis secara bersamaan. Sebab hal itu memungkinkan laboratorium menghindari keharusan mencari otorisasi sebelum melanjutkan dari satu ke yang lain.

Menurut Nick Jackson dari The Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI), China bukan satu-satunya negara yang mempercepat prosedur pembuatan vaksin. “Banyak organisasi secara global sedang melakukan uji coba adaptif yang memungkinkan transisi cepat dari fase satu ke dua. Pendekatan ini diperlukan mengingat kebutuhan mendesak akan vaksin,” ujarnya.

Dunia telah mencatatkan lebih dari 7,7 juta kasus Covid-19 pada Sabtu (13/6). Sementara angka kematian telah melampaui 428 ribu jiwa.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement