Thursday, 20 Muharram 1444 / 18 August 2022

Emil Perpanjang Masa PSBB Proporsional Sampai 26 Juni

Jumat 12 Jun 2020 21:23 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Hiru Muhammad

Gubernur Jabar Ridwan Kamil, memantau pelaksanaan Mobile Rapid Tes Covid-19 di salah satu pusat perbelanjaan di Cimahi, Selasa (9/6).

Gubernur Jabar Ridwan Kamil, memantau pelaksanaan Mobile Rapid Tes Covid-19 di salah satu pusat perbelanjaan di Cimahi, Selasa (9/6).

Foto: Humas Provinsi Jabar
Dalam proses new normal masih ditemukan pergerakkan kasus Covid-19

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG--Gubernur Jabar, Ridwan Kamil memutuskan untuk memperpanjang masa pembatasan sosial bersekala besar (PSBB) secara proporsional sampai 26 Juni 2020. Menurut Ridwan Kamil, ini dilakukan karena di Jabar masih ditemukan kasus Covid-19.  

Ridwan Kamil mengatakan, dalam situasi proses new normal atau adaptasi kebiasaan baru (AKB), masih ditemukan ada pergerakkan kasus Covid-19 yang harus diwaspadai. 

Secara statistik, kata dia, pergerakkan kasus tersebut sejalan dengan adanya pergerakkan orang dan barang. Perpanjangan PSBB ini juga, untuk mewadahi kabupaten/kota yang berada di zona kuning. Khusus untuk wilayah Bodebek (Kota dan Kabupaten Bogor, Kota Depok, Kota dan Kabupaten Bekasi) akan di sesuaikan dengan Jakarta yang PSBB-nya akan berakhir pada 2 Juli 2020.

“Jadi di Jabar ada 3 situasi, pertama PSBB proporsional yang berakhir 26 Juni. Kedua PSBB yang akan berakhir pada 2 juli, dan yang ketiga tidak melaksanakan PSBB karena berada di zona biru,” ujar Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil, Jumat (12/6).

Menurut Emil, ada penambahan untuk zona biru menjadi 17 masuk zona biru, 10 zona kuning. Sebelumnya zona biru ada 15 dan Kuning 12 daerah. Ia berharap, pada dua pekan ke depan akan ada daerah yang masuk zona biru dan zona hijau. Contohnya, Kabupaten Pangandaran dan Kabupaten Bandung Barat sudah naik kelas, ke zona biru.

Begitu juga, angka reproduksi Covid-19 di Jabar masih sangat dinamis. Sempat berada di angka 0,68 dua pekan lalu, kini memasuki pertengahan Juni berada di angka 0,82. Oleh karena itu, ia meminta para kepala daerah di Jabar untuk tetap mewaspadai penyebaran virus corona ini.

"Jadi, walaupun angka reproduksi di bawah angka satu ini sudah lampu kuning kepada wali kota/bupati untuk tidak melonggarkan pengawasan," katanya.

Menurut Emil, ia sudah menyiapkan 627 mobil Covid-19 tes. Yang diprioritaskan, pengetesan di pasar tradisonal. Sedangkan untuk rata-rata pasien positif Covid-19 selama dua pekan terakhir berada di angka 25 orang per hari. Jumlah itu menurun dibandingkan dengan periode pertengahan hingga akhir Mei yang rata-ratanya mencapai 42 orang.

“Dalam dua pekan terakhir Gugus Tugas Covid-19 Jabar menyimpulkan penularan Covid-19 masih beredar di lingkup perkotaan," katanya.

Terutama, kata dia, wilayah Bodebek dan Bandung raya. Oleh karennya, bupati dan wali kota di Bodebek dan Bandung raya harus lebih waspada karena kepadatan manusia berbanding lurus dengan penyebaran Covid-19. "Sementara di luar Bodebek dan Bandung raya relatif sedikit," katanya. 

Dalam hal penyebaran kasus positif Covid-19, kata dia, Jabar relatif terkendali. Hal itu berdasarkan statistik jumlah kasus dibandingkan dengan jumlah populasi. Jabar sendiri, berada di peringkat 26 dari 34 provinsi. "Tingkat kesembuhan lima kali lipat lebih banyak dari jumlah orang meninggal," katanya.

Dalam proses AKB, Emil mengimbau agar masyarakat berdisiplin dalam menggunakan maker, cuci tangah, dan jaga jarak. Sebab, banyak contoh negara yang terkena gelombang kedua kasus Covid-19, seperti India dan Pakistan, karena banyak yang tidak disiplin menggunakan masker. 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA