Monday, 16 Zulhijjah 1442 / 26 July 2021

Monday, 16 Zulhijjah 1442 / 26 July 2021

Wall Street Bukukan Hari Terburuk

Jumat 12 Jun 2020 10:06 WIB

Red: Friska Yolandha

Saham-saham di Wall Street melemah tajam pada akhir perdagangan Kamis (11/6). Indeks Dow Jones anjlok lebih dari 1.800 poin di tengah aksi jual pasar yang meluas. Semua indeks utama membukukan hari terburuk mereka sejak pertengahan Maret.

Saham-saham di Wall Street melemah tajam pada akhir perdagangan Kamis (11/6). Indeks Dow Jones anjlok lebih dari 1.800 poin di tengah aksi jual pasar yang meluas. Semua indeks utama membukukan hari terburuk mereka sejak pertengahan Maret.

Foto: Reuters/Carlo Alllegri
Aksi jual membuat Indeks Dow Jones terpuruk lebih dari 1.800 poin.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Saham-saham di Wall Street melemah tajam pada akhir perdagangan Kamis (11/6). Indeks Dow Jones anjlok lebih dari 1.800 poin di tengah aksi jual pasar yang meluas. Semua indeks utama membukukan hari terburuk mereka sejak pertengahan Maret.

Indeks 30-saham unggulan merosot 1.861,82 poin atau 6,9 persen, menjadi ditutup di 25.128,17 poin. Indeks S&P 500 merosot 188,04 poin atau 5,89 persen, menjadi berakhir di 3.002,10 poin. Indeks Nasdaq ditutup anjlok 527,62 poin atau 5,27 persen, menjadi 9.492,73 poin.

Baca Juga

Semua 11 sektor utama S&P 500 anjlok. Sektor energi dan keuangan masing-masing terpuruk sebesar 9,45 persen dan 8,18 persen, memimpin kerugian sektoral.

Pergerakan itu terjadi ketika kasus Virus Corona meningkat di beberapa negara bagian Amerika Serikat yang dibuka kembali setelah penguncian untuk menahan penyebaran penyakit. Lebih dari dua juta kasus Covid-19 dikonfirmasi telah dilaporkan di Amerika Serikat, dengan lebih dari 113.000 kematian pada Kamis sore, menurut Pusat Sains dan Teknik Sistem (CSSE) di Universitas Johns Hopkins.

Para investor juga mencerna kebijakan moneter terbaru Federal Reserve (Fed) dan perkiraan suramnya untuk ekonomi AS. The Fed pada Rabu (10/6) mempertahankan suku bunga acuannya tidak berubah pada level rekor terendah mendekati nol di tengah meningkatnya dampak dari resesi yang diinduksi Covid-19, dan mengindikasikan suku bunga akan tetap pada level saat ini hingga setidaknya 2022.

Dalam data ekonomi, klaim pengangguran awal AS mencatat 1,542 juta pada pekan yang berakhir 6 Juni, karena pandemi terus membebani pasar tenaga kerja, Departemen Tenaga Kerja melaporkan pada Kamis. Level minggu sebelumnya direvisi lebih tinggi menjadi 1,897 juta.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA