Jumat 12 Jun 2020 03:13 WIB

Stigma Dirasakan Warga Kampung Baeud Saat Karantina Mandiri

Warga Kampung Baeud, Garut merasa distigma saat menjalani karantina mandiri.

Suasana Kampung Baeud, Desa Samida, Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, yang menerapkan karantina mandiri, Kamis (11/6).
Foto: Republika/Bayu Adji P.
Suasana Kampung Baeud, Desa Samida, Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, yang menerapkan karantina mandiri, Kamis (11/6).

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Bayu Adji P

Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Jawa Barat (Jabar) dan Kabupaten Garut menggelar tes swab massal di Kampung Baeud, Desa Samida, Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, pada Kamis (11/6). Ditargetkan, 1.000 warga di kampung itu diambil sampelnya untuk diperiksa.

Baca Juga

Berdasarkan pantauan Republika, antusias warga untuk melakukan tes swab masih rendah. Dari target 1.000 orang yang dites, hingga sore hari baru sekira 250 orang yang datang memeriksakan diri di dua lokasi pelaksanaan tes swab di kampung itu. Padahal, terdapat sekira 559 kepala keluarga (KK) yang dikarantina mandiri di Kampung Baeud.

Kendati demikian, terdapat pula warga yang menyambut baik pelaksanaan tes swab massal itu. Salah seorang warga yang melakukan tes swab, Aus Komaria (58 tahun) mengaku tenang setelah melakukan tes swab. Selama ini, ia mengaku was-was karena terdapat pasien positif Covid-19 di kampungnya.

"Ya tenang setelah dites. Apalagi kalau hasilnya bisa cepat," kata dia kepada Republika.

Sebelum menjalani tes swab massal, sekira 558 KK warga di Kampung Baeud telah menjalani karantina mandiri sejak 29 Mei. Sebab, di kampung itu ditemukan delapan pasien positif Covid-19.

Aus mengatakan, selama karantina mandiri dirinya hanya menjaga warung di rumahnya. Namun, warga tak bisa keluar kampung karena seluruh akses jalan ditutup dan dijaga oleh petugas.

Kendati demikian, kebutuhan pangan warga selama karantina mandiri ditanggung oleh pemerintah. "Saya dapat beras dan lauk-pauk selama karantina," kata dia.

Aus berharap karantina mandiri dapat segera diakhiri. Sebab, selama karantina warga tak bisa beraktivitas.

"Semoga cepat selesai. Soalnya sudah capek, mau seperti biasa," kata dia.

Salah seorang warga lainnya, Suwendi (47) mengaku sudah bosan dengan karantina mandiri yang dilakukan di kampungnya. Sebab, selama karantina, warga sama sekali tak bisa keluar dari kampung.

"Kerja tidak bisa. Ya hanya di rumah saja," kata lelaki yang sebelumnya bekerja sebagai pedagang di Bandung itu.

Dengan adanya kegiatan tes swab massal, ia berharap, tak ada lagi penambahan kasus positif Covid-19 dari kampungnya. Sebab, warga khawatir karantina mandiri akan dilanjutkan. Menurut dia, warga ingin kembali beraktivitas normal seperti sedia kala.

Sementara itu, seorang warga lainnya, Ode Hermawan (43) mengatakan, selama karantina mandiri hanya berdiam diri di rumah. Menurut dia, warga masih bisa bersktivitas, tapi hanya di sekitar kampung. Beberapa warga masih berkebun, tapi lebih banyak yang tidak bekerja. Warga dilarang untuk keluar kampung, kecuali untuk keperluan darurat.

"Dengan ada tes massal ini, sebenarnya kita juga menyambut. Soalnya dengan ini bisa dipastikan keadaan kita," kata dia.

Ia mengatakan, saat ini warga sudah bosan dengan karantina mandiri. Warga umumnya menolak jika karantina mandiri harus dilanjut. Sebab, banyak dampak yang dirasakan warga akibat pelaksaan karantina mandiri di Kampung Baeud.

Menurut Ode, bukan dampak ekonomi yang paling membuat warga kesal dengan pelaksanaan karantina mandiri. Lebih dari itu, warga lebih kesal dengan stigma masyarakat. Akibatnya, kondisi psikologi warga Kampung Baeud terganggu.

Ia mengaku banyak mendengar pandangan negatif dari masyarakat sekitar kepada warga Kampung Baeud. Seolah-olah, kata dia, warga Kampung Baeud itu membawa sesuatu yang negatif.

"Dari kampung sebelah kadang suka menghindar dan mencemooh kita kalau bertatap muka. Saya kan punya anak, kalau anak saya digituin juga kesal," kata dia.

Ode berharap, pemerintah dapat meningkatkan lagi sosialisasi kepada masyarakat agar tak ada lagi stigma kepada warga Kampung Baeud. Sebab, selama ini warga menanggung beban psikologis akibat stigma itu.

Hal yang sama dirasakan oleh Oop Hayatullah (32). Ia mengaku sering mendengar cemoohan kepada warga Kampung Baeud. Hal itu yang membuat warga menanggung beban psikologis.

"Kadang kalau ketemu di kebun, ada warga lain langsung bilang 'awas ada orang Kampung Baeud'. Kalau tidak tahan emosi mah bisa ribut," kata dia.

Karena itu, lanjut dia, umumnya warga tak ingin karantina wilayah diperpanjang. Selain itu, ia meminta pemerintah juga mengembalikan nama baik warga Kampung Baeud. Artinya, pemerintah diminta menggiatkan sosialisasi kepada masyarakat agar tak lagi memandang negatif warga Kampung Baeud.

Sementara itu, Camat Selaawi, Ridwan Effendi memastikan karantina mandiri di Kampung Baeud tak akan diperpanjang. Karantina mandiri akan berkahir pada Jumat (12/6) setelah dilakukan sejak 29 Mei.

"Hasil pertimbangan Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Garut tidak akan diperpanjang. Pertimbangan utamanya adalah masalah medis. Karena dipandang sudah cukup untuk karantina mandiri," kata dia.

Ihwal antusias warga yang rendah untuk tes swab, ia mengatakan, hal itu adalah hal normal. Sebab, warga khawatir dinyatakan positif Covid-19.

Menurut Ridwan, pihaknya sudah melakukan sosialisasi kepada warga untuk melakukan tes swab. Ia menilai, tes swab massal itu adalah momen yang baik untuk memberikan kepastian kalau warga di kampung itu sudah bebas Covid-19.

"Kalau positif, akan ada penangannnya. Kalau negatif, dia akan percaya diri untuk berkegiatan kembali," kata dia.

Terkait stigma yang dirasakan warga Kampung Baeud, Ridwan menyayangkan adanya hal itu. Menurut dia, Covid-19 bukanlah penyakit yang memalukan.

"Jangankan untuk yang belum jelas statusnya, untuk yang positif pun jangan sampai ada stigma," kata dia.

Ia menyebutkan, untuk terhindar dari Covid-19 sebetulnya sederhana. Masyarakat hanya harus menerapkan protokol kesehatan.

Ridwan menambahkan, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Dengan begitu, warga Kampung Baeud tak lagi mendapatkan pandangan negatif dari masyarakat lainnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement