Monday, 4 Zulqaidah 1442 / 14 June 2021

Monday, 4 Zulqaidah 1442 / 14 June 2021

Adik George Floyd Beri Kesaksian di Hadapan Kongres AS

Kamis 11 Jun 2020 10:40 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Peti jenazah yang membawa jasad George Floyd tiba dengan kereta kuda di Houston Memorial Gardens untuk pemakamannya di Pearland, Texas, AS, Selasa (9/6). Video CCTV yang diposting online pada 25 Mei, memperlihatkan George Floyd (46) memohon kepada petugas yang menangkapnya bahwa dia tidak bisa bernapas saat seorang petugas berlutut di lehernya. Pria kulit hitam tak bersenjata itu kemudian meninggal dalam tahanan polisi dan keempat petugas yang terlibat dalam penangkapan itu telah didakwa dan ditangkap.

Peti jenazah yang membawa jasad George Floyd tiba dengan kereta kuda di Houston Memorial Gardens untuk pemakamannya di Pearland, Texas, AS, Selasa (9/6). Video CCTV yang diposting online pada 25 Mei, memperlihatkan George Floyd (46) memohon kepada petugas yang menangkapnya bahwa dia tidak bisa bernapas saat seorang petugas berlutut di lehernya. Pria kulit hitam tak bersenjata itu kemudian meninggal dalam tahanan polisi dan keempat petugas yang terlibat dalam penangkapan itu telah didakwa dan ditangkap.

Foto: EPA-EFE/AARON M. SPRECHER
Adik George Floyd menungkapkan rasa sakitnya dan meminta rasisme diakhiri.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Adik dari George Floyd, Philonise menyampaikan kesaksian di hadapan Kongres Amerika Serikat. Dalam teks kesaksian tersebut Philonise mengatakan ia sangat lelah dengan rasa sakit yang terasa setiap kali ada warga kulit hitam yang dibunuh tanpa alasan.

"Saya tidak bisa membantu George saat ia dibunuh, tapi mungkin dengan berbicara dengan Anda sekalian hari ini, saya dapat memastikan kematiannya tidak sia-sia, memastikan wajahnya lebih dari sekadar cetakan di kaus, namanya lebih daripada tercantum di daftar yang terus bertambah," kata Philonise, Kamis (11/6).

Baca Juga

Kematian Floyd yang dicekik dengan tekanan lutut oleh petugas polisi kulit putih di Minneapolis memicu unjuk rasa besar-besaran di Amerika dan Eropa. Floyd menjadi wajah perlawanan terhadap rasialisme dan diskriminasi polisi. Philonise Floyd mengatakan George selalu berkorban untuk keluarganya dan bahkan orang asing.

Ia kerap membantu orang lain, Philonise menyebut kakaknya 'raksasa kami yang lembut'. Ia mengatakan hingga akhir hayatnya George selalu bersikap dengan sopan. Philonise mengatakan hal itu dapat dilihat dalam video pembunuhan George.

Laki-laki itu tidak melawan balik, mendengarkan petugas polisi, dan tetap memanggil mereka 'pak', bahkan kepada orang yang mencekiknya selama delapan menit 46 detik hingga tewas ketika ia memohon untuk nyawanya.

"Saya tidak bisa memberitahu Anda rasa sakit yang Anda rasakan saat menonton sesuatu seperti ini, melihat kakak Anda, orang yang selalu Anda contoh seumur hidup Anda, tewas, tewas memanggil ibu Anda," kata Philonise Floyd.

"Saya lelah, lelah dengan rasa sakit yang saya rasakan sekarang, dan saya lelah dengan rasa sakit yang saya rasakan setiap kali ada warga kulit hitam dibunuh tanpa alasan, hari ini di sini saya meminta Anda untuk menghentikannya, menghentikan rasa sakit, menghentikan rasa lelah kami," ujarnya.

Ia mengatakan permintaan tolong George diabaikan, karena Philonise memohon kepada Kongres agar permintaannya dan keluarganya serta semua orang yang ada di jalan di seluruh dunia, seluruh orang dari berbagai latar belakang, ras, dan gender yang menuntut perubahan.

"Hormati mereka, hormati George, dan buat perubahan yang berarti menjadikan penegakan hukum sebagai solusi dan bukan masalah, minta pertanggungjawaban mereka ketika mereka melakukan kesalahan, ajari mereka apa artinya memperlakukan orang dengan empati dan respek," kata Philonise.

Ia meminta penegak hukum mengajari personel mereka kekuatan yang diperlukan, memberitahu mereka kekuatan mematikan hanya digunakan sekali-sekali dan hanya digunakan bila mengancam nyawa. Dalam teks tersebut, Philonise mengatakan saat di hari kematiannya George tidak melukai siapa pun.

"Dia tidak pantas mati hanya untuk dua puluh dolar, saya bertanya pada Anda, berapa harga nyawa laki-laki kulit hitam? dua puluh dolar? Ini 2020, cukup adalah cukup, orang-orang berpawai di jalan-jalan memberitahu Anda cukup adalah cukup, jadi pemimpin di negeri ini, yang dunia butuhkan, lakukan hal yang benar," ujarnya.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA