Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Uji Kemampuan Mencium Bau Bisa Menjadi Skrining Covid-19

Kamis 11 Jun 2020 10:08 WIB

Rep: Farah Noersativa/ Red: Reiny Dwinanda

Menutup hidung karena mencium bau tak sedap. Ketidakmampuan hidung mencium aroma serta kesulitan lidah mengenali rasa telah dimasukkan sebagai gejala Covid-19 di Inggris.

Menutup hidung karena mencium bau tak sedap. Ketidakmampuan hidung mencium aroma serta kesulitan lidah mengenali rasa telah dimasukkan sebagai gejala Covid-19 di Inggris.

Foto: ist
Inggris telah memasukkan ketidakmampuan mencium bau sebagai gejala Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengecekan gejala Covid-19 telah marak dilakukan di berbagai tempat umum, misalnya dengan memasang sensor suhu tubuh di toko, sekolah, tempat kerja, hingga stasiun. Ke depannya, tak tertutup kemungkinan, akan ada tes bau juga.

Dilansir laman Health 24, bulan lalu, para peneliti dan dokter mulai melaporkan bahwa pasien yang terinfeksi Covid-19 mengalami kehilangan kemampuan untuk mencium aroma (anosmia) dan lidahnya kesulitan mengenali rasa (ageusia). Kondisi itu muncul tanpa hidung meler, terutama pada pasien dengan gejala yang lebih ringan atau tanpa gejala Covid-19.

Saat ini, para peneliti dari King’s College London telah meminta gejala khusus ini untuk digunakan secara lebih efektif dalam proses penyaringan penyakit Covid-19.  Menurut sebuah makalah yang diterbitkan dalam The Lancet, peneliti meyakni tes bau mungkin menjadi indikator yang lebih baik dari penyakit daripada demam yang lebih dikenal dan batuk terus-menerus.

photo
Gejala terbaru Covid-19 menurut CDC AS. - (Republika)


Layanan Kesehatan Nasional Inggris telah menambahkan gejala kehilangan bau dan rasa ke daftar mereka untuk kualifikasi untuk tes. Ketua Layanan Kesehatan Nasional Inggris, Profesor Tim Spector menyebut kehilangan kemampuan mencium bau dan mengecap rasa dapat membantu melacak sekitar 16 persen kasus di mana gejala lain tidak ada.

Dia juga mencatat bahwa gejala ini berlangsung rata-rata sekitar lima hari, sedangkan demam hanya berlangsung dua hari. Menurut penelitian lain, itu juga membantu dokter menentukan seberapa jauh pasien dalam penyakit, seperti yang terjadi begitu awal dalam infeksi.

Temuan ini didukung oleh aplikasi crowdsourcing yang dikembangkan bersama dengan Rumah Sakit Umum Massachusetts. Menurut laporan Harvard Gazette, mereka melacak gejala dari 3,7 juta pengguna di AS dan Inggris.

Pada 18 ribu peserta yang dites positif, dilaporkan sebanyak 65 persen mengalami anosmia dan ageusia. Gejala populer lainnya juga termasuk kelelahan dan kehilangan nafsu makan.

Spector menyarankan bahwa tes skrining dengan cara mencium aneka aroma dapat digunakan di tempat kerja untuk mendeteksi orang yang terinfeksi dengan sedikit gejala lainnya. Saran lain adalah orang yang kehilangan indera penciuman dan pengecap harus segera mengisolasi diri selama tujuh hari atau sampai mereka mendapatkan tes.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA