Monday, 16 Zulhijjah 1442 / 26 July 2021

Monday, 16 Zulhijjah 1442 / 26 July 2021

Amerika Serikat Sengaja Ciptakan Isu Terorisme Islam?

Kamis 11 Jun 2020 04:55 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Gerakan ISIS (ilustrasi)

Gerakan ISIS (ilustrasi)

Foto: VOA
Sejumlah pengakuan menyebut isu terorisme dihembuskan Amerika.

REPUBLIKA.CO.ID, Penghuni penjara-penjara di Irak memang orang-orang sial. Antara 70 90 persen tahanan, menurut Komisi Palang Merah Internasional (ICRC) adalah korban salah tangkap. Sudah begitu mereka mendapat siksaan-siksaan yang selain menyakitkan, juga teramat memalukan. Luka yang ditimbulkan tidak hanya fisik melainkan juga batin.

Luka batin ini tentulah teramat dalam bagi manusia-manusia beradab yang mempunyai harga diri tinggi. Dan, penyiksaan-penyiksaan yang terpampang dalam serangkaian foto, ''kebetulan'' hanya Irak, sementara penyiksaan berlangsung di seluruh penjara yang ditangani tentara Amerika di pelbagai tempat di dunia, hanya akan memunculkan orang-orang yang ingin membunuh orang Amerika.

Baca Juga

Menurut perwira intel yang menangani interogasi terhadap para tahanan di penjara Abu Ghuraib, semua itu merupakan ''bagian dari proses.'' Jadi, seperti kata Direktur Operasi ICRC, Pierre Kraehenbuehl, ada pola besar yang menggerakkan itu semua, secara sistematik, tak hanya pekerjaan para oknum belaka. Tak ada yang namanya hak asasi manusia dalam benak ''Donald Rumsfeld yang Mahakuasa.''

photo
Pasukan ISIS (Ilustrasi) - (VOA)
Alhasil, secara sistematik pula proses itu menciptakan teroris-teroris, bumerang bagi Amerika sendiri yang sesumbar akan melancarkan perang terhadap terorisme. Kita tak perlu heran bahwa teroris-teroris yang bermunculan akhir-akhir ini sedikit banyak pernah menerima didikan dari pihak Amerika, langsung atau tidak, sewaktu Uni Soviet mengagresi Afghanistan, termasuk Ali Ghufron dan kawan-kawannya,  tetapi kemudian berbalik akibat perlakuan Amerika sendiri yang tak sepatutnya. 

Di lain sisi, Menteri Pertahanan AS, Donald Rumsfeld ketika itu, mengatakan tak tahu menahu soal penyiksaan itu sampai ia melihat foto-foto, yang membuat Presiden George Bush ''muak', dipampangkan di media pekabaran. Ini ironis karena dia sendirilah yang menetapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan interogasi para tahanan, mulai dari kamp Guantanamo di Kuba.

Dialah yang menetapkan dibolehkannya interogasi lebih dari 24 jam ''sekali periksa'', atau membiarkan para tahanan berada dalam kegelapan. Seperti dilansir Newsweek, para pengacara Rumsfeld bahkan mengatakan bahwa penempatan tahanan dalam ''posisi stres'' yang lebih menyakitkan, menyuruh mereka berdiri berjam-jam, melarang tahanan tidur atau menelanjangi mereka pun tak melanggar Konvensi Jenewa.

Malah tahanan-tahanan yang ''bernilai tinggi'', termasuk pejabat-pejabat tinggi di masa Saddam, harus menghadapi isolasi di sel sempit selama 23 jam sehari semalam. Amerika benar-benar memanfaatkan fasilitas penyiksaan peninggalan diktator Saddam Hussein. Apalagi ''bumbu'' yang kurang dalam resep penciptaan teroris? Amerika menuai apa yang ditanamnya.

Rumsfeld sendiri mengakui bahwa ulah orang-orangnya di Irak telah melenyapkan hasil-hasil perolehan serbuannya menumbangkan Saddam Hussein. Toh tuntutan mundur terhadap Rumsfeld ditolak Bush, dan dalam beberapa jajak pendapat Bush tetap mendapat nilai tinggi, sementara tuntutan bagi mundurnya Rumsfeld pun cuma ditanggapi dingin oleh para responden. Inikah yang akan ditanamkan dan disebarkan di Dunia Arab dan Islam, bahkan ke seluruh dunia, melalui dalih penyebaran demokrasi dan nilai-nilai Amerika?

Sejak awal rakyat Irak sudah melawan, kini, terlebih dengan pemampangan foto-foto penyiksaan dan penistaan terhadap harga diri orang Irak. Kalau terjadi aksi-aksi teror lebih lanjut terhadap Amerika, itu adalah buah tangan Bush, Rumsfeld dan orang-orangnya sendiri. Tak perlu berkilah ke mana-mana, merekalah yang menciptakan teroris-teroris itu.

Amerika tak berhak lagi mengaku dirinya sebagai pembawa obor peradaban modern. Mereka hanyalah sebuah bangsa yang dekaden, hipokrit, barbar, dan tiranik. Adapun soal kejayaan mereka di bidang teknologi, pengetahuan, ekonomi, dan politik hanyalah seperti 'kehebatan peradaban maju' di masa lampau yang dibangun di atas tumpukan bangkai manusia. Tentu kita ingat pada peradaban yang dibangun para Firaun. Kita kagum pada teknologi yang mereka kembangkan, tapi tidak pada manusianya.

Artikel ini adalah Tajuk Harian Republika 2004.

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA