Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Landasan Globalisasi Barat dan 2 Sikap Terbelah Umat Islam

Kamis 11 Jun 2020 04:55 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Umat Islam terbelah menyikapi globalisasi yang ditawarkan Barat. Ilustrasi globalisasi

Umat Islam terbelah menyikapi globalisasi yang ditawarkan Barat. Ilustrasi globalisasi

Foto: Pixabay
Umat Islam terbelah menyikapi globalisasi yang ditawarkan Barat.

REPUBLIKA.CO.ID, Saat ini pandangan Barat terhadap umat Islam dan dunia ketiga umumnya dibakukan dalam bentuk hegemoni kapitalisme yang dibungkus dengan slogan globalisasi. Dalam globalisasi, secara mendasar tersimpan bias dan kepentingan kolonialisasi terhadap dunia ketiga.

Globalisasi merupakan bentuk improvisasi dan evolusi yang paling mutakhir dari ideologi kapitalisme yang sebelumnya pernah terbukti membangkrutkan kehidupan masyarakat negara berkembang. Globalisasi adalah produk Barat yang paling canggih setelah mereka melakukan hegemoni lewat jalur kolonialisasi dan imperalisme budaya.

Baca Juga

Dalam kolonialisasi, mereka menghegemoni umat manusia dengan jalan kekerasan dan perampasan hak-hak kemerdekaan sebuah bangsa. Sementara itu, pada imperalisme, mereka menggunakan hegemoni budaya lewat produk-produk pengetahuan yang diimpor ke negara dunia ketiga agar tetap bergantung kepada Barat. 

Menurut Edward Said (Orientalism, 1990), proses kolonialisasi lewat jalur budaya inilah yang hingga sekarang masih membentuk pola pikir dan pandangan bias Barat terhadap semua produk pemikiran dan kreativitas masyarakat dunia ketiga. Dalam pola hegemoni dan kolonialisasi ini, semua yang berasal dari Timur dianggap sebagai sesuatu yang tidak beradab, tidak modern, tidak demokratis, tidak pluralis, dan label negatif lainnya. Oleh karena itu, semuanya harus diganti dengan produk pengetahuan Barat yang dianggap sebagai superpower dalam segala bidang kehidupan. 

Dalam globalisasi ini, semua hal yang bersifat sosial dan pembelaan terhadap orang marginal dianggap tidak berlaku lagi di dunia. Pasalnya, semua hal ditentukan oleh individu, kekuatan pasar, dan harga materi. Oleh karena itu, paham solidaritas dan perlindungan terhadap yang lemah dianggap sebagai budaya primitif yang tidak lagi kompatibel dengan perkembangan zaman. Orang yang kuat dan berkuasa secara ekonomi dan politiklah yang akan menang, begitu juga sebaliknya.

Yang lebih urgen dilakukan adalah bagaimana menginvestasi materi sebagai modal usaha, mengundang investor, melakukan swastanisasi perusahaan publik, menyewa konsultan luar negeri, menerima pinjaman dana luar negeri, serta mengerdilkan peran negara dalam menangani persoalan kemasyarakatan (James Petras dan Henry Veltmeyer, 2001).

Akibatnya, kesemua urusan kehidupan sebisa mungkin diserahkan dan diselesaikan rezim kapitalisme global yang bertuhankan pasar bebas dan uang. Dalam tatanan dunia Barat yang tidak bersikap adil itu, tentu saja nasib rakyat miskin dan kaum marginal makin terpinggirkan dan menyedihkan.

Dalam menyikapi hegemoni globalisasi Barat ini, pandangan umat Islam umumnya terbagi menjadi dua, yaitu fundamentalis dan liberal. Pertama, bagi kaum fundamentalis, Barat haruslah terus dilawan dan globalisasi harus ditolak sekuat dan sekeras mungkin. Mereka menganggap bahwa globalisasi adalah bentuk hegemoni Barat yang berpandangan sekuler dan mendasarkan keyakinannya pada manusia saja.

Di tambah lagi, semua yang berasal dari Barat, baik ilmu pengetahuan maupun barang material, dianggap sebagai alat untuk membumihanguskan ajaran Islam di muka bumi. Dengan demikian, sebagai jalan keluarnya, mereka akan menolak semua produk Barat itu dan menyerukan untuk kembali ke bentuk autentik Islam. Autentisitas Islam ini mereka maknai sebagai semua bentuk kehidupan, baik pemikiran maupun perilaku masyarakat Islam saat Nabi Muhammad masih hidup. 

Oleh karenan itu, tidak heran jika dalam resistensinya, mereka suka memakai identitas ala orang Arab seperti jilbab panjang, membentuk komunitas ekskluif, memanjangkan jenggot, istilah-istilah Arab, serta menganggap orang bukan Islam sebagai orang yang pasti dijamin masuk neraka. Islamisasi umumnya sering mereka samakan dengan Arabisasi. Bentuk paling keras dari resistensi mereka terhadap hegemoni Barat tampak dari tindakan Usamah bin Ladin, Imam Samudra, Amrozi, dan lainnya yang dengan tegas mengatasnamakan Islam dalam meledakkan simbol-simbol "kekafiran". Orang-orang itu mereka anggap sebagai pahlawan abad ke-20 yang betul-betul memperjuangkan Islam. 

Jihad melawan globalisasi mereka yakini sebagai pilihan logis dan strategis dalam melawan hegemoni Barat ini. Padahal, jika dipikir secara jernih, belum tentu semua yang menjadi target sasaran itu adalah masyarakat Barat dan non-Islam. Justru bisa jadi akibat perbuatan yang tergesa-gesa itu ada masyarakt Islam yang dirugikan karena mengalami musibah kehilangan pekerjaan, kecelakaan, atau kematian.

Selain itu, perbuatan tersebut tentu makin menyenangkan Barat dengan secara tidak langsung membuktikan tudingannya yang minor terhadap Islam sebagai pelopor terorisme. Penggunaan kekerasan dan aksi simbolis dalam melawan hegemoni Barat ini juga hanya akan menenteramkan dalam jangka pendek. Padahal, perlawanan itu tentu tidak bisa dilakukan secara langsung dan sekali saja. 

Kedua, bagi kaum liberal atau yang juga sering menamakan dirinya kaum moderat, hegemoni Barat tidaklah harus dilawan dengan kekerasan atau ditolak. Sejelek apa pun hegemoni Barat dan globalisasi, bagi mereka pasti terdapat segi-segi nilai yang positif dan beradab. Alasannya, sebagai sebuah bangsa dan peradaban, Barat-lah yang saat ini dianggap paling modern, sesuai perkembangan zaman, canggih dalam teknologi, dan mapan dalam tradisi ilmu pengetahuan.

Selain itu, kultur yang ada di masyarakat Barat pun menurut mereka tentu lebih beradab dibandingkan dengan bangsa lainnya. Hal itu tampak terlihat dari budaya demokrasi, disiplin, kebebasan berpikir, penerimaan terhadap pluralitas, penggunaan akal dalam menalar, serta penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia.

Menurut mereka, nilai-nilai itu haruslah ditransfer dalam masyarakat Islam. Sebab, bila hanya kembali pada masa lalu ketika zaman Nabi hidup, Islam tidaklah dapat menyamai Barat, bahkan akan cenderung tertinggal terus-menerus atau kehilangan maknanya. Yang perlu dilakukan sekarang, menurut mereka, adalah "membaratkan Islam" agar masyarakatnya mampu berpikir rasional, bersikap demokratis, dan bisa hidup di tengah zaman modern ini.

Sebagai konsekuensinya, mereka kebanyakan kehilangan sikap kritis terhadap Barat dan cenderung menjadi "juru bicara" Barat di negara-negara Islam (Moeslim Abdurrahman, 2004). Bahkan, bisa jadi mereka akan bersedia diperhadapkan dengan kaum fundamentalis yang cenderung melawan Barat.

Model "pembaratan Islam" biasanya mereka lakukan dengan turut aktif membenarkan hampir semua pandangan dan nilai Barat serta keinginannya menerapkan secara sama di negara yang kultur dan masyarakatnya berbeda. Model "pembaratan Islam" sebetulnya merupakan bentuk ketidaktegasan sikap terhadap hegemoni Barat. Selain itu, hal tersebut bentuk pengingkaran terhadap masa lalu dengan melupakan begitu saja segala perlakuan Barat terhadap Islam.

Padahal, tentu tidak bisa dimungkiri bahwa dalam semua pandangan Barat sebetulnya juga masih tersimpan bias hubungan masa lalu dan terdapatnya perasaan terancam bila eksistensi umat Islam makin berkembang. Selain itu, dalam model ini terdapat ketidakjelasan sikap, apakah mereka membela kepentingan Barat atau membela Islam?

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA