Wednesday, 6 Zulqaidah 1442 / 16 June 2021

Wednesday, 6 Zulqaidah 1442 / 16 June 2021

Korsel Wajibkan Pelacakan Covid-19 Pakai Teknologi QR

Rabu 10 Jun 2020 10:47 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Korsel sempat jadi berita utama di seluruh dunia karena uji corona ala drive thru. Ilustrasi.

Korsel sempat jadi berita utama di seluruh dunia karena uji corona ala drive thru. Ilustrasi.

Foto: EPA
Tempat berisiko tinggi Korsel diwajibkan memakai QR untuk lacak pasien Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Korea Selatan melaporkan 50 kasus saat pemerintah mulai mewajibkan klub malam, tempat karaoke, dan gym untuk mencatat konsumen mereka dengan menggunakan teknologi kode QR sehingga dapat segera dipetakan bila dibutuhkan.

Pada Rabu (10/6), Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Korsel (KCDC) mengumumkan saat ini total jumlah infeksi di Negeri Ginseng sebanyak 11.902 kasus dan 276 pasien di antaranya meninggal dunia. Sebanyak 44 dari 50 kasus baru berasal dari Metropolitan Seoul.

Baca Juga

Pemerintah kesulitan untuk melacak penularan di ibu kota tersebut. Pasalnya, penularan terjadi di tempat-tempat hiburan, gereja dan rumah pekerja pendapatan rendah yang tidak bisa tetap tinggal di rumah.

Sejak akhir Mei lalu, Korsel melaporkan 30 sampai 50 kasus per hari. Meningkatnya jumlah kasus infeksi harian mengancam menghancurkan upaya untuk menurunkannya selama berbulan-bulan karena masyarakat mulai melonggarkan kewaspadaan.

Kewajiban ruang-ruang 'risiko tinggi' untuk menggunakan teknologi QR diterapkan di seluruh negeri setelah sempat diuji coba di Seoul, Incheon, dan Daejeon. Di mana sekitar 300 tempat usaha menggunakan aplikasi yang dikembangkan perusahaan internet Korsel, Naver, untuk mengumpulkan data konsumen.  

Pemerintah juga mendorong gereja, perpustakaan, rumah sakit, dan bioskop menggunakan teknologi itu secara sukarela. Korsel memang sangat agresif menggunakan teknologi dalam melacak penularan dan memaksa karantina.

Negara Ginseng memperkuat undang-undang penyakit menular setelah wabah Middle East Respiratory Syndrome (MERS) 2015 lalu. Sehingga pemerintah dapat mengumpulkan data telepon pintar, kartu kredit dengan cepat dan memasang berbagai kamera pengawas di berbagai titik. 

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA