Thursday, 16 Safar 1443 / 23 September 2021

Thursday, 16 Safar 1443 / 23 September 2021

Sterling: Perlu Ras Minoritas di Posisi Tertinggi Sepak Bola

Rabu 10 Jun 2020 01:33 WIB

Rep: Afrizal Rosikhul Ilmi/ Red: Endro Yuwanto

Raheem Sterling.

Raheem Sterling.

Foto: Peter Powell/EPA-EFE
Kasus rasisme tidak akan pernah selesai jika hanya dilakukan dengan cara protes.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyerang Manchester City Raheem Sterling mengatakan, kemajuan dalam pertarungan melawan rasisme hanya akan terjadi jika jabatan-jabatan tertinggi sepak bola Inggris ramai diisi oleh orang-orang dari ras minoritas. Sterling menjelaskan, kasus rasisme tidak akan pernah selesai jika hanya dilakukan dengan cara protes atau demonstrasi.

Sepak bola sebagai salah satu olahraga populer di dunia dianggap bisa menjadi media untuk mewujudkannya.

"Protes adalah titik awal yang bagus, untuk membuat suara Anda didengar," kata Sterling dikutip dari BBC, Selasa (9/6). "Tapi hanya memprotes saja tidak akan membuat perubahan di negara ini."

Ribuan orang telah mengambil bagian dalam pawai anti-rasisme di Inggris, menyusul kematian George Floyd di Amerika Serikat pada 25 Mei. Sterling pun memberikan dukungannya untuk aksi tersebut, selama tidak membuat kerusuhan.

Pemain Timnas Inggris berusia 25 tahun itu telah menjadi bagian integral dalam mengatasi masalah ini dan bersumpah untuk terus berbicara dengan harapan akan berkontribusi pada perubahan yang nyata. "Ini adalah bagaimana kita bergerak dari sini. Ini tentang menyoroti hal-hal, masyarakat yang perlu diubah, dan kemudian bertindak berdasarkan itu. Kami telah melakukan banyak bicara, dan sekarang saatnya untuk bertindak," terangnya.

Menurut Sterling, perlu ada perwakilan kulit hitam, Asia, dan minoritas yang lebih besar di antara administrator dan staf kepelatihan dalam sepak bola Inggris, dan bahwa kesempatan yang sama harus diberikan kepada mantan pemain timnas Inggris. Sterling membandingkan empat mantan penggawa timnas Inggris yang jadi pelatih. Frank Lampard, Steven Gerrad serta Sol Campbell dan Ashley Cole yang sama-sama berkulit hitam.

"Mereka sama-sama hebat ketika membela timnas Inggris dan respek dengan klubnya. Tapi, dua lainnya (Campbell dan Coles) yang merupakan orang kulit hitam belum mendapat kesempatan yang sama ketika menjadi pelatih," kata Sterling.

Perlu diketahui, Lampard dan Gerrard sama-sama berstatus sebagai pelatih utama untuk Chelsea dan Rangers. Sementara itu, Campbell menangani Macclesfield & Southend yang merupakan klub di divisi lebih rendah, sedangkan Cole melatih Chelsea U-15.

"Berikan pelatih kulit hitam kesempatan untuk melakukan yang terbaik di bidangnya masing-masing. Saya rasa, itu masih jarang terjadi di sini," ujar Sterling. "Ada sekitar 500 pemain di Liga Primer Inggris dan sepertiganya berkulit hitam. Tapi kami jarang memiliki perwakilan di jabatan tertinggi, termasuk sebagai staf kepelatihan."

Pada tahun 2018, Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) sempat mengumumkan dalam rencana untuk mengatasi masalah kesetaraan adalah dengan melibatkan orang-orang dari ras minoritas sebanyak 5 persen di jabatan kemimpinan dan 13 persen di staf kepelatihan. Mereka berharap, jumlah itu bisa bertambah 11 persen dan 20 persen pada 2021.

"Ketika saya punya masalah dengan klub dan ada orang kulit hitam di FA, saat itulah saya tahu perubahan sedang terjadi," tegas Sterling.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA