Selasa 09 Jun 2020 12:40 WIB

Harga Minyak Dunia Naik Didorong Kesepakatan OPEC

Kenaikan harga minyak juga didorong pelonggaran pembatasan sosial di sejumlah negara.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Friska Yolandha
Harga minyak mentah dunia naik pada perdagangan Selasa (9/6). Meningkatnya harga minyak ini didorong oleh optimisme pasar terhadap pelonggaran pembatasan sosial yang berdampak kepada pemulihan ekonomi global.
Foto: AP Photo/Sue Ogrocki
Harga minyak mentah dunia naik pada perdagangan Selasa (9/6). Meningkatnya harga minyak ini didorong oleh optimisme pasar terhadap pelonggaran pembatasan sosial yang berdampak kepada pemulihan ekonomi global.

REPUBLIKA.CO.ID, MELBOURNE -- Harga minyak mentah dunia naik pada perdagangan Selasa (9/6). Meningkatnya harga minyak ini didorong oleh optimisme pasar terhadap pelonggaran pembatasan sosial yang berdampak kepada pemulihan ekonomi global. 

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik 1,3 persen menjadi 38,69 dolar AS per barel. Pada perdagagan Senin (8/6), WTI sempat mengalami penurunan sebesar 1,36 dolar AS.

Baca Juga

Sementara itu, minyak mentah berjangka Brent naik 1,4 persen, menjadi 41,36 dolar AS per barel. Sedangkan kontrak benchmark turun 1,50 dolar AS pada Senin kemarin menghentikan kenaikan beruntun selama tujuh hari berturut-turut.

"Dengan posisi Brent yang sangat baik di atas 40 dolar AS, ada pembicaraan di antara para pedagang bahwa WTI akan menguji tingkat itu segera," kata kepala strategi pasar di CMC Markets, Michael McCarthy dikutip Reuters, Selasa (9/6).

New York mulai membuka kembali aktivitas ekonomi pada Senin kemarin setelah sekitar tiga bulan menerapkan pembatasan sosial. Hal ini dapat memicu peningkatan permintaan bahan bakar seperti sebelum terserang wabah Covid-19.

Stok minyak mentah AS diperkirakan turun 1,5 juta barel pekan lalu. Sejumlah analis memperkirakan persediaan bensin turun sekitar 100 ribu barel dalam sepekan hingga 5 Juni. Namun, cadangan distilasi, termasuk diesel dan minyak pemanas diperkirskan naik 2,9 juta barel.

"Ekonomi akan kembali pulih secara bertahap. Namun masih ada kelebihan pasokan yang sangat besar, sehingga OPEC dan teman-teman perlu mengendalikan barel yang masuk ke pasar. Tapi itu sulit," kata kepala riset komoditas di National Australia Bank, Lachlan Shaw. 

Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), Rusia dan produsen lainnya, pada Sabtu lalu juga sepakat menurunkan produksi sebesar 9,7 juta barel per hari. Namun, Arab Saudi, Kuwait dan Uni Emirat Arab tidak akan memperpanjang tambahan 1,18 juta barel per hari.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement