Tuesday, 6 Syawwal 1442 / 18 May 2021

Tuesday, 6 Syawwal 1442 / 18 May 2021

Ini Saran buat Jadi Penulis Storytelling

Senin 08 Jun 2020 21:22 WIB

Red: Muhammad Akbar

menulis storytelling

menulis storytelling

Foto: carolinacatri.com
storytelling yang penting adalah authencity, keaslian.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -– Menulis storytelling bukanlah hal sulit. Namun untuk memberikan kekuatan maka perlu diberikan kekuatan cinta, baru passion.

“Jika hanya sekadar menulis, tanpa cinta, hasilnya bakal tidak karuan,” kata Nursodik Gunarjo, penulis buku The Story of Gondes, dalam diskusi virtual KAGAMA Menulis V, Senin (8/6).

Gun mengawali pembicaraannya dengan pertanyaan mengapa seseorang memilih menulis. Menurut dia, menulis itu murah dan mudah.

Namun, hal yang dia tekankan adalah semua orang bisa menulis. Satu bukti ditunjukkan oleh alumnus S3 Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan UGM ini.

Bukti itu adalah skripsi, tesis, dan berbagai karya tulis yang bisa dihasilkan oleh para audiens. “Saya yakin bapak ibu bisa. Menulis skripsi yang panjang saja bisa, masa storytelling yang pendek tidak,” kata Gunarso.

“Yakinlah bahwa penulis itu tidak dilahirkan, tetapi diciptakan. Tidak ada satu orang bayi pun lahir dengan membawa bolpen,” jelas pria  yang akrab disapa Pakde Gondes ini.
               
Gun kemudian kembali bertanya kepada audiens ketika dia memberikan gambar sebuah gelas. Ternyata, tak ada satu pun audiens yang memberikan deskripsi sama atas gelas yang ditampilkan.

Hal itu menjadi bukti bahwa setiap orang punya sudut pandang masing-masing dalam memandang sesuatu.
               
“Bahan yang sama dan sederhana itu bisa ditulis sebagai bahan tulisan Anda,” tutur Gun.   

“Jangan khawatir, storytelling yang penting adalah authencity, keaslian.”
               
“Selama Anda bisa mendefinisikannya dengan baik, itu akan menjadi hal yang menarik,” terangnya.
               
Oleh karena itu, pria yang juga bekerja di Kementerian Kominfo tersebut menekankan, dalam membuat sebuah tulisan, penulis tidak sekadar menyampaikan sesuatu.

Namun, lanjut Gun, seperti apa cara penyampaian yang dipilih dalam sebuah tulisan. Hal ini ada kaitannya dengan siapa audiens yang disasar.

Pria kelahiran Wonosobo ini kemudian mengibaratkan dengan warung sate di satu kota yang jumlahnya banyak. Namun, setiap orang pasti akan memiliki kecenderungan untuk mengunjungi warung tertentu karena kecocokan rasanya.

Hal itu jika dikembalikan pada konteks semula, maka berarti tulisan juga tentang sebuah rasa. Oleh sebab itu, Gun berpesan, untuk tidak meniru tulisan dari penulis manapun.  
               
“Bikinlah tulisan Anda sendiri karena itu memiliki rasa tersendiri,” ucap Gun.
               
Storytelling yang bagus bukanlah berbicara tentang hal-hal hebat. Tetapi membicarakan sesuatu secara hebat,” terang pria kelahiran 1968 ini.
              
Lebih lanjut, bahan yang sifatnya remeh-temeh, kata Gun, bisa diolah dan disajikan dengan tidak biasa dan unik.

Hanya dengan berlatih seseorang bisa melakukannya. Kata Gun, jika seseorang sudah biasa menulis, itu tandanya dia bisa.
                 
“Setiap orang memiliki ciri tersendiri, memiliki gaya sendiri, dan memiliki cara menceritakan sesuatu sendiri. Jagalah itu sebagai modal untuk menulis,” tutur Gun.
               
“Setiap orang itu genuine, tidak sama, dan ciri-cirinya akan kelihatan. Itu DNA Anda, yakinlah Anda unik. Itu harus dijaga!” ujarnya.

               

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA