Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Thailand Gelar Aksi Protes Anti Rasisme Lewat Zoom

Senin 08 Jun 2020 17:20 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Christiyaningsih

Seorang pemrotes berdiri seaat demonstrasi protes Black Lives Matter. Ratusan warga Thailand gelar aksi protes virtual kematian George Floyd lewat Zoom. Ilustrasi.

Seorang pemrotes berdiri seaat demonstrasi protes Black Lives Matter. Ratusan warga Thailand gelar aksi protes virtual kematian George Floyd lewat Zoom. Ilustrasi.

Foto: AP / Frank Augstein
Ratusan warga Thailand gelar aksi protes virtual lewat Zoom

REPUBLIKA.CO.ID, BANGKOK -- Sekitar 300 warga Thailand dengan warga negara lainnya bergabung dalam sebuah aksi protes yang digelar secara virtual melalui Zoom. Aksi ini bertujuan untuk menyerukan keadilan atas kematian seorang pria Afrika-Amerika, George Floyd, oleh perwira polisi kulit putih

Pembatasan sosial akibat pandemi virus corona membuat ratusan pengunjuk rasa menggelar aksinya secara daring. Melalui plaform Zoom, mereka bersama-sama menonton rekaman video detik-detik kematian Floyd.

"Saya sudah tinggal di tiga benua sekarang. Saya punya teman baik yang berasal dari komunitas Afrika, yang juga orang Amerika berkulit hitam, dan Anda melihat perbedaan yang mencolok dalam bagaimana mereka diperlakukan," ujar salah satu penyelenggara aksi protes, Natalie Bin Narkprasert (28 tahun).

Natalie mengatakan Marthin Luther King telah lama menyerukan kebebasan pada 1963. Namun, persoalan rasisme masih terus ada hingga 2020.

"Sangat gila bahwa mereka masih memiliki ini (rasisme) pada tahun 2020, ketika pada tahun 1963 Martin Luther King melakukan pidato kebebasannya," ujar Natalie.

Para peserta unjuk rasa daring mengamati detik-detik kematian Floyd pada menit kedelapan dalam rekaman video tersebut. Ketika itu, seorang perwira polisi tetap menekan lututnya di leher Floyd, meski dia sudah tak bisa lagi bernafas.

Kematian Floyd telah memicu aksi prots anti-rasisme terbesar di Amerika Serikat dan seluruh dunia. Ribuan orang diprediksi akan berkumpul di jalan-jalan ketika jenazah Floyd dibawa ke kota asalnya Houston untuk dimakamkan pada Selasa (9/6).

Berdasarkan rekaman video, Floyd terbaring telungkup di jalan dengan seorang perwira polisi, Derek Chauvin menekan lututnya di bagian leher. Floyd tampak terengah-engah dan mengerang "Saya tidak bisa bernafas" berulang kali. Chauvin tetap mempertahankan lututnya di leher Floyd selama hampir sembilan menit. Dua petugas polisi lainnya menekan lutut mereka ke punggung Floyd.

Chauvin telah dipecat dan didakwa dengan pembunuhan tingkat dua. Tiga petugas lainnya yang berada di tempat kejadian juga telah dipecat dan didakwa membantu serta bersekongkol.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA