Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Gula Masih Mahal, Kemendag: Distribusi Belum Optimal

Senin 08 Jun 2020 15:56 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Fuji Pratiwi

Warga menunjukkan gula pasir yang dibelinya saat operasi pasar gula pasir yang digelar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah di Pasar Bitingan, Kudus, Jawa Tengah. Kemendag masih terus menambah pasokan gula ke pasar tradisional dan ritel.

Warga menunjukkan gula pasir yang dibelinya saat operasi pasar gula pasir yang digelar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah di Pasar Bitingan, Kudus, Jawa Tengah. Kemendag masih terus menambah pasokan gula ke pasar tradisional dan ritel.

Foto: ANTARA/Yusuf Nugroho
Kemendag masih terus menambah pasokan gula ke pasar tradisional dan ritel.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gula pasir secara nasional masih dihargai cukup mahal sekitar Rp 17 ribu-Rp 16 ribu per kilogram (kg), berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS). Meski telah dibuka importasi gula dan operasi pasar, pergerakan harga belum menunjukkan penurunan signifikan.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan, Suhanto, mengatakan, pemerintah hingga saat ini masih berupaya untuk terus menurunkan harga gula dengan menambah pasokan di pasar konsumsi. "Kemendag masih terus menambah pasokan gula ke pasar tradisional dan ritel. Namun, proses distribusi masih belum optimal," kata Suhanto kepada Republika.co.id, Senin (8/6).

Baca Juga

Ia menuturkan, berdasarkan laporan dinas perdagangan di seluruh Indonesia, rata-rata harga gula sebesar Rp 15.400 per kg, turun 12,99 persen dibandingkan Mei. Saat ini, sebanyak 56 pasar dari total 223 pasar yang dipantau harganya sudah berkisar Rp 12.500-Rp 14.500 per kg.

Di sisi lain, Suhanto mengatakan, komoditas gula menjadi salah satu bahan pangan yang menyumbang deflasi pada bulan lalu. Karena itu, Kemendag menilai belum turunnya harga gula secara signifikan lantaran proses distribusi yang belum normal pasca lebaran dua pekan yang lalu. Selain itu, ia beralasan sistem Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di berbagai daerah terus memicu perlambatan pengiriman barang.

"Kami bersama semua stakholders terkait masih terus berkoordinasi untuk memperlancar proses distribusi gula supaya lebih cepat turun dan mencapai HET gula Rp 12.500 per kg," kata dia.

Sebagaimana diketahui, pemerintah memutuskan untuk melakukan konversi gula kristal rafinasi (GKR) menjadi gula kristal putih (GKP) pada Maret lalu sebesar 250 ribu ton. Langkah itu menjadi salah satu dari upaya pemerintah untuk mempercepat pengadaan gula lantaran terjadi kenaikan harga imbas pasokan menipis.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA