Ahad 07 Jun 2020 05:55 WIB

Pebasket IBL Angkat Bicara Soal Isu Rasisme

Sejumlah pebasket IBL angkat bicara soal isu rasisme

Rep: Fitriyanto/ Red: Agung Sasongko
Pebasket Louvre Surabaya Daniel Timothy Wenas (kiri) berusaha mengumpan bola dihadang pebasket Pacific Caesar Surabaya Aga Siedarta Wismaya saat pertandingan seri keenam Indonesian Basketball League (IBL) Pertamax 2020 di DBL Arena, Surabaya, Jawa Timur, Ahad (8/3/2020).
Foto: Antara/Moch Asim
Pebasket Louvre Surabaya Daniel Timothy Wenas (kiri) berusaha mengumpan bola dihadang pebasket Pacific Caesar Surabaya Aga Siedarta Wismaya saat pertandingan seri keenam Indonesian Basketball League (IBL) Pertamax 2020 di DBL Arena, Surabaya, Jawa Timur, Ahad (8/3/2020).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah pebasket Indonesia Basketball League (IBL) Pertamax angkat bicara soal isu rasisme. Mereka sepakat warna kulitseharusnya tidak menjadi pembeda.

Di IBL, perlakuan antar pemain tak pernah membedakan warna kulit. Persahabatan yang terjalin antara penggawa lokal dan asing terbilang erat.

Baca Juga

Bintang Louvre Surabaya, Daniel Wenas, menilai seharusnya tak perlu ada perbedaan perlakuan berdasarkan warna kulit. Daniel percaya, setiap manusia dilahirkan sama.

“Kami memiliki warna darah yang sama, rasisme, dan kekerasan akibat hal itu seharusnya tidak perlu ada,” ujar Daniel dilansir dari laman IBL Indonesia, Ahad (7/6).

Senada dengan Daniel, penggawa Pacific Caesar Surabaya, Yeriho Tuasela, percaya tak ada manusia yang membenci satu sama lain karena warna kulit. Sifat rasis bisa timbul akibat salah persepsi.

“Tidak ada yang terlahir dengan membenci satu sama lain karena warna kulit, latara belakang, atau agama. Orang bisa membenci jika mereka tahu caranya membenci, mereka juga bisa diajarkan cinta, karena cinta pada dasarnya datang dari hati masing-masing,” tulis Yerikho di akun Instagram pribadi miliknya.

Dukungan dengan tanda pagar BlackLivesMatter tengah ramai di media sosial, termasuk pemain IBL. Aksi ini muncul sebagai solidaritas terhadap kematian warga Minneapolis, George Floyd. Ia meninggal setelah terjadi kekerasan oleh oknum polisi .

Insiden yang menimpa Floyd membuat massa melakukan unjuk rasa di Amerika Serikat. Protes dan dukungan turut diberikan olahragawan dunia seperti Michael Jordan, Floyd Mayweather, hingga Jodan Sancho.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement