Sabtu 06 Jun 2020 14:31 WIB

Gubes Unhas: New Normal Jadi Harapan Baru Masyarakat Tani

Guru besar Unhas menyebut New Normal jadi peta jalan petani untuk menggarap lahan

Guru Besar Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Hasanuddin (UNHAS), Imam Mujahidin Fahmid berharap New Normal ini akan mengembalikan gairah yang sempat menurun saat awal pandemi
Foto: Kementan
Guru Besar Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Hasanuddin (UNHAS), Imam Mujahidin Fahmid berharap New Normal ini akan mengembalikan gairah yang sempat menurun saat awal pandemi

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR -- Kebijakan New Normal ramai diperbincangkan di berbagai media sosial, bahkan tagar #NewNormal di twitter menjadi trending topik dalam 3 hari terakhir. Ada yang pro dan kontra, namun hal itu dinamika yang wajar. Bagi Rumah Tangga Produsen atau Petani, kebijakan ini tentu disambut gempita lantaran ada asa baru produk-produk pertanian mereka bisa kembali ke pasaran dan kesejahteraan kembali meningkat.

Guru Besar Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Hasanuddin (UNHAS), Imam Mujahidin Fahmid menilai petani adalah garda terdepan dalam penyediaan pangan di masa pandemi covid-19. Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian (RTUP) menurut SUTAS BPS 2018 didominasi oleh usaha Peternakan sebanyak 13,5 juta, Padi sebanyak 13,1 juta, Perkebunan sebanyak 12 juta, Hortikultura sebanyak 10 juta, dan Palawija sebanyak 7 juta RTUP.

"Mereka tentu berharap New Normal ini akan mengembalikan gairah yang sempat menurun saat awal pandemi,” demikian diungkapkan Prof. Imam saat Seminar Online Bertemakan “Menuju New Normal: Tantangan dan Perubahan Sosial Masyarakat Tani Masa Covid-19” yang digelar Departemen Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Hasanuddin, Makassar, Jumat (5/6).

Prof Imam menyebut beberapa waktu lalu Kepala Badan Ketahanan Pangan, Agung Hendriadi menyampaikan bahwa petani tetap produksi pangan saat pandemi dan pada situasi new normal ini. Sebanyak 11 komoditas pangan strategis mulai dari Beras, Cabai, Bawang hingga Gula Pasir dan Minyak Goreng kondisinya semuanya surplus, artinya kebutuhan tercukupi, produksi banyak. 

Bahkan menurut Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), tidak ada permasalahan di sisi produski, yang menjadi kendala saat pandemi adalah distribusi barang dari produsen dan konsumen sebagai implikasi dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), namun ini wajar dan Kementan telah melakukan intervensi dengan fasilitasi distribusi bahan pangan ke berbagai wilayah yang defisit.

Oleh karenanya, Prof Imam berkeyakinan dengan New Normal ini akan menjadi peta jalan baru bagi masyarakat petani untuk kembali bersemangat menggarap lahan pertanian karena pasar sudah mulai terbuka lebar. Ada beberapa perubahan kecenderungan perilaku masyarakat tani yang akan mengalami pergeseran.

"Pertama, Penggunaan Internet untuk bisnis. Saat ini BPS mencatat ada 4,5 juta petani yang aktif sebagai pengguna internet, dengan adanya pandemi dan new normal ini maka penggunaan sosial media sebagai market place produk pertanian akan meningkat," paparnya.

Kedua, sambung Prof Imam, kreativitas atau inovasi sosial masyarakat tani meningkat karena secara tidak langsung diajari merespon masalah melalui entitas sosial. Ketiga, Peran Governance/Pengambil Kebijakan akan semakin adaptif sehingga ketangguhan sosial lebih kuat.

“Sekarang semua Kementerian atau Lembaga mengalami refocusing anggaran, namun kita bisa lihat petani kita mampu bertahan dengan terus memproduksi pangan, artinya mereka mampu secara kolektif mengatasi dampak dari pandemi dengan caranya," ungkapnya.

"Nah, oleh karenanya negara harus lebih mengulurkan tangannya kepada petani agar interaksi lebih kuat dan problem sosial masyarakat mudah diatasi,” lanjut Prof Imam

Dalam seminar online ini, Ketua Asosiasi Agribisnis Indonesia (AAI), Bayu Krisna Murti bersependapat dengan Prof Imam. Bayu menilai bahwa nyatanya masyarakat petani saat pandemi ini tidak begitu terdampak. Ini dibuktikan dengan produktivitasnya dalam menghasilkan bahan pangan, namun yang perlu diwaspadai adalah sektor off farmnya.

“Kalau on farm tidak terlalu besar risiko nya, yang terdampak besar adalah trading atau pasarnya. Jadi kalau pasarnya terdampak maka akan berimplikasi terhadap gairah memproduksi kan, maka ini perlu menjadi perhatian pemerintah agar sisi distribusi barang tetap dikendalikan,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor UNHAS, Dwia Aries Tina Palubuhu mengapresiasi kinerja Kementan dengan berbagai terobosan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam menghadapi pandemi ini. Pasalnya ketersediaan pangan selama masa pandemi aman.

"Saya terus terang apresiasi kepada Pak Menteri Syahrul Yasin Limpo karena luar biasanya bisa survive menghadapi covid-19 ini sehingga pangan tetap terjaga," tutur Dwia Aries

Acara Seminar online ini dihadiri Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo sebagai keynote speaker. Ia menegaskan persiapan pemerintah dalam menyambut masa transisi new normal terus dilakukan dengan berbagai cara. Utamanya dalam memperbaiki dan mengembangkan sarana prasarana pertanian berbasiskan teknologi.

"Sektor pertanian di masa yang akan datang tidak bisa diolah dengan cara yang biasa. Namun harus dikerjakan dengan cara yang serba maju, serba baru dan lebih modern," ujarnya.

"Minimal dengan terjadinya Covid 19 ini kita semakin menyadari bahwa pertanian tidak boleh lagi diolah dengan cara yang biasa. Harus ada inovasi dan ide-ide kreatif dalam mengelola pertanian," ungkap Syahrul menambahkan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement