Jumat 05 Jun 2020 20:27 WIB

Pria Botak Lebih Berisiko Covid-19?

Faktanya, lebih banyak pria meninggal karena Covid-19 daripada wanita.

Rep: Abdurrahman Rabbani/ Red: Indira Rezkisari
Penelitian baru mengklaim, pria dengan berkepala botak bisa memiliki risiko lebih tinggi terkena gejala Covid-19 yang parah.
Foto: wikimedia
Penelitian baru mengklaim, pria dengan berkepala botak bisa memiliki risiko lebih tinggi terkena gejala Covid-19 yang parah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penelitian baru mengklaim, laki-laki dengan berkepala botak bisa memiliki risiko lebih tinggi terkena gejala Covid-19 yang parah. Hubungan antara kebotakan dan gejala parah ini dinilai memiliki kaitan yang kuat sehingga dianggap faktor risiko.

Peneliti di Brown University, Carlos Wambier, mengatakan kepada Daily Telegraph bahwa ia berpikir kebotakan adalah prediktor sempurna dari tingkat keparahan dari virus corona. Namun, profesional medis lain meminta Wambier agar berhati-hati dan menjelaskan lebih banyak bukti yang diperlukan untuk mendukung pernyataan tersebut.

Baca Juga

Dalam studi lebih lanjut, yang diterbitkan dalam Journal of American Academy of Dermatology, Profesor Wambier menemukan hampir 80 persen dari 122 pasien Covid-19 laki-laki di Madrid botak. "Kami pikir androgen atau hormon pria jelas merupakan pintu gerbang bagi virus untuk memasuki sel kita," katanya dilansir dari The Independent, Jumat (5/6).

Penelitian ini muncul setelah bukti menunjukkan bahwa pria lebih mungkin meninggal karena Covid-19 daripada wanita. Para ilmuwan percaya bahwa androgen, hormon seks pria yang dapat menyebabkan rambut rontok, juga bisa meningkatkan kemampuan virus untuk menyerang sel.

Oleh karena itu, beberapa peneliti telah mulai menyelidiki apakah perawatan yang menekan hormon ini dapat membantu pasien dengan Covid-19. Beberapa terapi ini digunakan untuk mengobati penyakit seperti kanker prostat.

Sementara, Kepala kebijakan di Prostate Cancer UK, Karen Stalbow mendesak kehati-hatian atas temuan seperti Prof Wambier. “Sekarang ada beberapa studi klinis mulai yang berharap untuk mengatasi masalah ini, tetapi banyak bukti yang diperlukan sebelum kita dapat mengetahui apakah terapi hormon ini akan menjadi pengobatan yang efektif untuk Covid-19,” katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement