Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

Cerita Andien Saat Melahirkan Dua Buah Hatinya

Kamis 04 Jun 2020 01:55 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Nora Azizah

Prosesi persalinan penyanyi Andien Aisyah memang selalu menjadi sorotan (Foto: penyanyi Andien)

Prosesi persalinan penyanyi Andien Aisyah memang selalu menjadi sorotan (Foto: penyanyi Andien)

Foto: Antara
Prosesi persalinan penyanyi Andien Aisyah memang selalu menjadi sorotan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Prosesi persalinan penyanyi Andien Aisyah selalu menjadi sorotan. Ketika melahirkan kedua anaknya, Anaku Askara Biru (Kawa) dan Anaku Tarisma Jingga (Tabi), Andien mengenakan wastra Nusantara yang berbeda.

Pada kelahiran Kawa, Andien memakai kain Sumba, kemudian mengenakan kain Alor pada kelahiran Tabi 1 Mei 2020 silam. Andien mengaku tak ada filosofi khusus terkait pilihan itu, tapi karena dia punya koleksi kain.

Baca Juga

'Kain lahiran' Kawa didapat Andien saat datang ke sebuah desa di Sumba. Dia mengagumi kain berusia 20 tahun yang sedang dipakai seorang nenek dan membelinya. Sementara, 'kain lahiran' Tabi merupakan kiriman seorang sahabat.

Pelantun lagu "Gemintang" itu menganggap kehamilan sebagai periode yang sangat istimewa. Akan tetapi, di awal kehamilan pertama Andien sempat merasa ragu dan tidak siap. Dia belum merasa dirinya pantas menjadi sosok ibu.

Andien sempat cemas dengan perubahan tubuh dan merencanakan prosedur untuk mengembalikan fisik seperti semula. Semua berubah setelah pakar kesehatan holistik Reza Gunawan membagikan sebuah video kepada Andien.

Video tentang filosofi kehamilan dan persalinan gentle birth itu menjadi referensi menyentuh bagi Andien. Setelah menontonnya, Andien dan suaminya menangis terharu dan menyadari kelahiran adalah sebuah proses sakral.

"Ternyata yang namanya kehamilan lebih dari sekadar yang aku kira. Ada jiwa yang dititipkan, bagaimana pentingnya kehamilan dijalankan begitu lembut, persalinan mengantarkan bayi dengan minim trauma," ungkap Andien.

Andien mengetahui bahwa trauma besar manusia adalah ketika dilahirkan. Itu sebabnya dia memilih laku gentle birth dengan metode water birth yang membuat transisi dari alam kandungan yang basah ke alam dunia menjadi lebih lembut.

Perempuan 34 tahun yang kembali belajar di Akademi Psikoterapi Indonesia menyebut kelahiran hampir sama seperti bernyanyi. Persiapan yang dilakukan benar-benar harus serius sebelum hari-H. Andien lebih memilih repot di awal sehingga pascapersalinan jadi lebih ringan.

"Aku ikut education class, tiap hari meditasi dua kali, jaga makanan, jalan enam ribu langkah tiap hari. Banyak hal aku lakukan untuk memberdayakan diri, di hari-H melepaskan segala ekspektasi itu," kata dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA