Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Relawan Turun Bersihkan Sisa Protes Kematian Floyd

Selasa 02 Jun 2020 15:38 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

Seorang wanita yang membantu membersihkan pusat kota berjalan dekat grafiti. Kelompok relawan membersihkan sampah sisa demonstrasi kasus George Floyd.

Seorang wanita yang membantu membersihkan pusat kota berjalan dekat grafiti. Kelompok relawan membersihkan sampah sisa demonstrasi kasus George Floyd.

Foto: Elaine Thompson/AP
Kelompok relawan membersihkan sampah sisa demonstrasi kasus George Floyd

REPUBLIKA.CO.ID, MINNEAPOLIS -- Ketika matahari terbit di Minneapolis, Minnesota pada Senin (1/6) pagi, kelompok-kelompok relawan menyekop puing-puing memasukkannya ke kantong sampah. Mereka menyisir tempat-tempat protes berkecamuk malam sebelumnya.

Dalam upaya untuk membersihkan kota, relawan berbasis komunitas dan sukarelawan individu turun ke jalan Minneapolis selatan hampir setiap pagi. Mereka bekerja sejak demonstrasi terjadi di wilayah itu karena kematian Geroge Floyd dalam tahanan polisi.

Kematian Floyd memicu protes yang kini telah menyebar lebih dari 100 kota di seluruh negeri. Demonstran berbaris melawan penyebab kematian Floyd dan tindakan kekerasan polisi lainnya.

Sementara protes sebagian besar dimulai setiap hari secara damai di kota-kota besar, beberapa telah berubah menjadi kekerasan ketika malam tiba. Vandalisme, penjarahan, dan kebakaran terjadi sehingga meninggalkan kantong-kantong kecil kehancuran yang berserakan setelahnya.

"[Kami ingin] membantu memberkati kota itu, memberikan kota harapan, memberi kota kepercayaan, dan memberikan kota cinta," kata salah satu pendiri kelompok Support the Cities, yang telah membantu melakukan pembersihan, Richie Stark.

Pendeta di Gereja Baptis Bethlehem bersama dengan ratusan sukarelawan telah mengambil puing-puing dan menggunakan sekop salju untuk membersihkan. Mereka berkumpul ketika alat penyiram memadamkan gedung-gedung yang terbakar.

Beberapa telah berpartisipasi dalam protes, sementara yang lain telah menggunakan upaya pembersihan untuk mendukung para demonstran dan mengambil bagian. Mereka melihat dukungan dapat dilakukan dengan banyak cara, termasuk kegiatan relawan itu.

"[Saya] hanya berusaha membuatnya tampak lebih disatukan. Tunjukkan bahwa kita sebagai komunitas dapat mengambil sebagian dari ini dan memberikan kota kita sedikit kebangkitan bahwa segalanya akan menjadi lebih baik," kata Julianna Alex yang pindah ke Minneapolis lima tahun lalu.

Upaya pembersihan serupa telah terjadi di seluruh negeri. Sukarelawan menyapu kaca, mengambil sampah, dan mengecat ulang dinding yang dicoret demonstran. Bersama-sama sukarelawan membereskan sisa-sisa yang tertinggal dengan perasaan campur aduk.

"Saya pikir ada banyak kemarahan. Saya pribadi tidak tahu bagaimana menghancurkan sesuatu memecahkannya. Tetapi jika hal itu membuat orang membicarakannya, sayangnya, masyarakat kita memang menunjukkan kerusuhan lebih daripada menunjukkan protes damai," kata Alex.

Seperti di Minneapolis, ada upaya untuk melindungi bisnis milik masyarakat, tetapi beberapa telah dihancurkan, terutama di koridor Lake Street. Tempat ini dipenuhi restoran, toko roti, dan pasar imigran yang juga terkena imbas kerusuhan dalam protes.

Beberapa warga mengatakan kepada media lokal bahwa bisnis mereka hancur. Namun, mereka juga mendukung para pemrotes dan marah dengan kematian yang dialami oleh Floyd.

Kondisi ini membuat membuat masyarakat menghimpun dana untuk membantu bisnis warga yang terdampak. Lebih dari 2,4 juta dolar telah terkumpul untuk membangun kembali bisnis usaha kecil dan organisasi nirlaba.

"Diperlukan jutaan dolar untuk membangun kembali dan lebih dari 27 ribu orang telah menyumbang untuk mewujudkannya," kata laporan Lake Street Council.

Floyd meninggal Senin (25/5) setelah ditekan tenggorokannya dengan kaki oleh seorang perwira polisi kulit putih selama hampir sembilan menit. Dia sempat terlihat memohon untuk dilepaskan sambil berkata "Saya tidak bisa bernapas".

Petugas itu polisi yang melakukan tekanan itu bernama Derek Chauvin. Dia telah didakwa dengan pembunuhan tingkat tiga. Sedangkan tiga petugas lainnya yang terlibat dalam peristiwa itu belum ditangkap, meski telah dipecat dari satuan kepolisian.

sumber : Aljazirah
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA