Wednesday, 30 Ramadhan 1442 / 12 May 2021

Wednesday, 30 Ramadhan 1442 / 12 May 2021

KTNA Dukung Terobosan Kementan Kembangkan Pangan Lokal

Senin 01 Jun 2020 14:08 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

KTNA menilai pengembangan pangan lokal selain beras sesuai dengan masa pandemi

KTNA menilai pengembangan pangan lokal selain beras sesuai dengan masa pandemi

Foto: Kementan
KTNA menilai pengembangan pangan lokal selain beras sesuai dengan masa pandemi

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Strategi jitu Kementerian Pertanian (Kementan) untuk tetap memenuhi kebutuhan pangan di tengah Pandemi Covid 19 diakui Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan Nasional (KTNA) Winarno Tohir. Program pengembangan pangan pokok dan lokal yang menjadi strategi penyediaan pangan dinilai sangat sesuai dengan kondisi sekarang. 

“Memang saat ini kondisi negara sedang sulit, namun saya yakin pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian bisa melakukan terobosan-terobosan penting untuk upaya pencapaian kebutuhan pangan,” demikian ujar Winarno di Jakarta, Senin (1/6).

Seperti diketahui Mentan Syahrul Yasin Limpo melakukan berbagai upaya pemenuhan ketersediaan pangan pokok seperti dengan mulai menggerakkan percepatan tanam padi intensifikasi, pengembangan lahan kering, juga rawa, penguatan cadangan pangan. Bahkan disosialisasikan luas saat ini pengembangan pangan lokal untuk diversifikasi pangan. Dengan demikian tidak bertumpu pada beras, tapi juga pangan lokal lainnya.

"Kami menyadari kebijakan selama ini lebih bertumpu pada komoditas utama seperti padi, jagung, kedelai. Sekarang saatnya kita juga memikirkan komoditas non strategis lainnya. Iya pangan lokal, sedangkan pangan beras tetap lanjut digencarkan," beber Winarno.

Menurutnya, pengembangan pangan pokok dan lokal tersebut dipastikan dapat diwujudkan di berbagai daerah. Sebab Indonesia memiliki potensi besar pangan lokalnya.

"Kita bangkitkan dan gerakkan lagi. Ada komoditas pangan lokal yang mudah ditanam bahkan bisa dilakukan di pekarangan seperti seperti singkong, ubi jalar, jagung lokal, sorgum, talas, ganyong, gadung, gembili, umbi garut, porang, hanjeli, hotong, sukun, pisang, sagu, labu kuning dan lainnya," ungkap Winarno.

Sementara itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi menjelaskan pengembangan pangan lokal sebagai pangan alternatif merupakan pengejewantahan semangat Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo bahwa penyediaan pangan harga mati harus tersedia untuk rakyat dan petani harus eksis di tengah goncangan ekonomi dan khususnya pandemi corona. Mentan Syahrul telah menghimbau para kepala daerah yakni Gubernur, Wali Kota dan Bupati agar fokus mengembangkan pangan pokok dan lokal sesuai dengan keunggulan komparatif wilayah.

"Langkah ini telah direspon cukup baik oleh beberapa Bupati dengan menyediakan lahan-lahan yang belum termanfaatkan untuk ditanam dengan pangan lokal. Demikian halnya Kementerian Pertanian memberikan dukungan fasilitasi kepada beberapa wilayah," kata Suwandi.

Karenanya, Suwandi menyebutkan selain pangan pokok beras, juga dikembangkan pangan lokal. Kegiatannya yakni melalui ekstensifikasi, budidaya, pasca panen dan pemasaran hasil.

"Kementan menyediakan fasilitasi permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR, red) dan pendampingan," ujarnya.

Lebih lanjut Suwandi menuturkan langkah kongkretnya yakni di tahun 2020 ini Kementan mengalokasikan bantuan budidaya pangan lokal seperti sorgum, ubi kayu, ubi jalar, kacang ijo, jagung, dan lainnya. Ada bantuan sarana produksi untuk ubi kayu 11.175 ha, ubi jalar seluas 365 ha, sorgum 3.000 ha, untuk jagung sudah banyak dikembangkan.

Kementan juga mengembangkan sagu dan lainnya. Kegiatannya aspek hulu, budidaya dan hilir serta kemitraannya. Kuncinya ada di demand side, sehingga pendekatannya market driven, kita olah berbagai pangan lokal dengan menu menu ala milenial sekarang. Berbagai ubi, sorgum, jagung disamping untuk konsumsi sendiri, juga agar bisa hadir di restoran, supermarket dan lainnya. Mari kita konsumsi pangan lokal, hasil para petani sendiri.

"Pengembangan pangan lokal ini diyakini mampu memberikan kontribusi posituif bagi perkuatan ketahanan pangan nasional," ungkap Suwandi.

Senada dengan Dirjen Tanaman Pangan Kementan, Suwandi, Ketua Umum Asosiasi Agrobisnis Petani Ubi Jalar Indonesia (ASAPUJI) Ahmed Joe Hara menambahkan, pengembangan penggunaan lahan kering sangat sejalan dengan percepatan peningkatan kesejahteraan masyarakat tani tadah hujan.  Menurutnya, penanaman komoditi Ubi Jalar di lahan tadah hujan akan memberikan dua manfaat, pertama adalah peningkatan pendapatan petani lahan kering, kedua adalah peningkatan ekspor produk olahan ubi jalar. 

"Umur tanam ubi jalar hanya 120 hari atau 1/3 dari umur tanam singkong potensi ini akan mampu mempercepat realisasi peningkatan penghasilan petani lahan kering/ tadah hujan," tutur Ahmed

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA