Jumat 29 May 2020 16:59 WIB

Seoul Korsel Batasi Jumlah Siswa Bersekolah

Korsel mencatat kasus baru Covid-19 tertinggi dalam dua bulan terakhir.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini
Seorang staff kesehatan yang mengenakan alat pelindung menyemprot disinfektan untuk membantu mengurangi penyebaran virus corona baru sebelum sekolah dibuka kembali di kafetaria sekolah menengah di Seoul, Korea Selatan, Senin (11/5). Korea Selatan secara bertahap akan membuka kembali pada Rabu (13/5)
Foto: AP
Seorang staff kesehatan yang mengenakan alat pelindung menyemprot disinfektan untuk membantu mengurangi penyebaran virus corona baru sebelum sekolah dibuka kembali di kafetaria sekolah menengah di Seoul, Korea Selatan, Senin (11/5). Korea Selatan secara bertahap akan membuka kembali pada Rabu (13/5)

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL — Korea Selatan (Korsel) akan membatasi jumlah siswa yang bersekolah di dan sekitar Seoul. Hal itu menyusul ditemukannya kembali klaster baru penyebaran Covid-19. 

Otoritas Korsel hanya mengizinkan satu dari tiga murid di taman kanak-kanak, sekolah dasar, dan sekolah menengah di Seoul bersekolah secara fisik setiap hari. Sementara, sisanya harus belajar dari rumah atau secara daring.

Baca Juga

Selama dua hari berturut-turut, Korsel mencatat lebih dari 50 kasus baru Covid-19. Pada Kamis (28/5), Negeri Ginseng melaporkan 79 kasus Covid-19. Itu merupakan yang tertinggi dalam hampir dua bulan terakhir. 

Kemudian pada Jumat (29/5), Korsel melaporkan 58 kasus baru Covid-19. Sebuah fasilitas distribusi yang dikelola perusahaan niaga elektronik Coupang di Bucheon, sebelah barat Seoul, telah muncul sebagai klaster baru penyebaran corona. 

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (KCDC) Korsel, sebanyak 102 kasus penularan terlacak berasal dari fasilitas tersebut. Coupang dan Market Kurly, sebuah platrform pengirman bahan pangan daring juga melaporkan adanya penularan di pusat logistik mereka di Goyang, utara Seoul, dan Seoul Timur. 

KCDC mengatakan jika klaster di fasilitas logistik tak segera ditangani, hal itu berisiko menyebabkan infeksi massal di Seoul dan daerah sekitarnya. “Kami telah menyarankan karyawan Coupang dan anggota keluarga mereka untuk tidak mengunjungi sekolah mana pun,” kata Wakil Menteri Pendidikan Korsel Park Beag-beom, dikutip laman the Straits Times. 

Menurut otoritas kesehatan, kasus penularan di Seoul menyumbang 88,4 persen dari total 181 infeksi lokal yang dilaporkan selama sepekan terakhir. “Dua pekan ke depan akan menjadi titik kritis dalam mengukur apakah wabah virus akan menyebar ke seluruh wilayah metropolitan,” ujar Wakil Menteri Kesehatan Korsel Kim Ganglip, dikutip laman kantor berita Korsel, Yonhap. 

Saat ini, otoritas kesehatan Korsel sedang melakukan pengujian terhadap 4.351 orang, termasuk 3.600 pekerja, sehubungan dengan fasilitas di Bucheon. Pemerintah pun berencana melakukan inspeksi darurat di 32 pusat logistik yang dikelola tiga operator perdagangan daring utama. 

Hingga berita ini ditulis, Korsel memiliki 11.402 kasus Covid-19 dengan 269 kematian. Sebanyak 10.363 pasien berhasil pulih setelah menjalani perawatan. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement