Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

Trump Ancam Tutup Medsos, Wall Street Ditutup Melemah 

Jumat 29 May 2020 09:23 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Friska Yolandha

Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup di zona negatif pada perdagangan Kamis (28/5) malam.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup di zona negatif pada perdagangan Kamis (28/5) malam.

Foto: Reuters/Carlo Alllegri
Presiden Donald Trump mengancam akan menutup perusahaan media sosial seperti Twitter.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup di zona negatif pada perdagangan Kamis (28/5) malam. Dilansir Reuters, Saham Facebook terkoreksi cukup dalam dan membebani pasar setelah Presiden Donald Trump mengancam akan menutup perusahaan media sosial. 

Saham Twitter Inc berakhir melemah 4,4 persen dan Facebook turun 1,6 persen seiring mencuatnya pemberitaan mengenai penandatanganan perintah eksekutif oleh Trump terkait perusahaan media sosial. Surat perintah eksekutif tersebut menghapus sejumlah fasilitas yang selama ini dinikmati oleh perusahaan media sosial. 

Baca Juga

Selain itu, sentimen lainnya yang membuat Wall Street mengalami pelemahan yaitu hubungan politik AS dengan China. Penasihat ekonomi Gedung Putih, Larry Kudlow mengatakan, Hong Kong harus diperlakukan seperti China dalam hal perdagangan dan urusan lainnya. Pernyataan tersebut membuat kondisi semakin memanas. 

Di sisi lain, hampir sepanjang perdagangan Wall Street bergerak naik didorong kayakinan investor terhadap pemulihan ekonomi sebagai dampak dilonggarkannya aturan lockdown. Namun, Wall Street berbalik arah di akhir perdagangan setelah Trump mengeluarkan pernyataan terkait perusahaan media sosial. 

Dow Jones Industrial Average (DJIA) jatuh sebesar 0,58 persen atau kehilangan 147,63 poin ke level 25.400,64. Sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,46 persen atau turun 43,37 poin ke level 9.368,99 dan disusul S&P 500 yang terkoreksi 0,21 persen atau 6,4 poin ke posisi 3.029,73. 

Meski demikian, S&P 500 masih berada jauh di atas titik terendahnya sejak Maret lalu. Para pelaku masih optimistis karena sejumlah aktivitas bisnis mulai dibuka kembali setelah berminggu-minggu ditutup. Pemberian stimulus secara besar-besaran juga mendorong harapan pelaku pasar akan pemulihan ekonomi. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA