Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

Bank Korea Pangkas Suku Bunga ke Level Terendah Sejak 1999

Kamis 28 May 2020 09:47 WIB

Rep: Adinda Pryanka / Red: Friska Yolandha

Seorang pialang mengamati perdagangan saham di KEB Hana Bank, Seoul, Korea Selatan, Rabu (20/5).

Seorang pialang mengamati perdagangan saham di KEB Hana Bank, Seoul, Korea Selatan, Rabu (20/5).

Foto: AP Photo/Ahn Young-joon
Bank Korea menurunkan proyeksi ekonomi tahun ini menjadi kontraksi 0,2 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Bank sentral Korea Selatan (BOK) memangkas suku bunga kebijakan ke level terendah pada Kamis (28/5). Kebijakan ini sebagai upaya koordinatif dengan pemerintah untuk memperluas likuiditas ke dunia usaha yang terkena dampak pandemi Covid-19.

Dewan kebijakan Bank Korea melakukan voting untuk memotong suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 0,5 persen. Seperti dilansir Reuters, Kamis, yang mengutip pesan dari bank sentral, ini menjadi suku bunga terendah sejak bank mengadopsi sistem kebijakan seperti sekarang pada 1999.

Baca Juga

Kebijakan Bank Korea juga sejalan dengan prediksi 12 dari 19 ekonom yang disurvei Reuters. Mereka memperkirakan, bank sentral akan mengambil langkah signifikan guna memberikan likuiditas.

Pelonggaran ini menjadi pelonggaran kedua sepanjang 2020, menandai langkah terbaru pembuat kebijakan dalam meningkatkan stimulus. BOK sebelumnya menjanjikan likuiditas tidak terbatas hingga Juni melalui perjanjian pembelian kembali (repurchase agreement) dan mulai meminjamkan uang kepada perusahaan sekuritas untuk pertama kalinya dalam 70 tahun sejarah BOK.

Analis memperkirakan, BOK akan meningkatkan pembelian langsung obligasi pemerintah untuk menyerap penerbitan utang publik yang diperlukan. Ini guna menutupi kebutuhan anggaran tambahan ketiga.

Sementara itu, Bank Korea menurunkan proyeksi ekonomi tahun ini menjadi kontraksi 0,2 persen, turun signifikan dibandingkan perkiraan pertumbuhan positif 2,1 persen pada Februari. Kontrkasi akan menjadi yang terbesar sejak krisis keuangan Asia 1998. Bank sentral juga memprediksi terjadinya penurunan inflasi tahun ini menjadi 0,3 persen, turun dari perkiraan semula, 1,0 persen.

Oh Suk-tae dari SG Securities di Seoul mengatakan, penurunan ekspor dan produksi manufaktur akan lebih besar dibandingkan kemungkinan rebound pada konsumsi maupun produksi jasa. "Jadi, kita kemungkinan akan berakhir dengan pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) dari kuartal-ke-kuartal yang negatif di kuartal kedua," tuturnya.

Oh menjelaskan, pihaknya kini melihat kebijakan pelonggaran kuantitatif telah dilakukan BOK secara diam-diam. Yakni, pembelian berkelanjutan BOK atas obligasi pemerintah pemerintah tanpa pengumuman resmi.

Ekonomi terbesar keempat Asia ini bergabung dengan Amerika Serikat, Australia, Inggris dan Selandia Baru dalam operasi pembelian obligasi guna mempertahankan ekonomi di tengah pandemi.

Korea Selatan kini sedang mempersiapkan anggaran tambahan ketiga karena ekspor April mengalami kemerosotan terburuk dalam 11 tahun. Di sisi lain, lapangan pekerjaan menghilang dengan kecepatan tertinggi sejak 1999.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA