Tuesday, 24 Zulhijjah 1442 / 03 August 2021

Tuesday, 24 Zulhijjah 1442 / 03 August 2021

Rasulullah Persilakan para Ahli Mengurusi Bidangnya

Kamis 28 May 2020 04:15 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Ani Nursalikah

Rasulullah Persilakan para Ahli Mengurusi Bidangnya.

Rasulullah Persilakan para Ahli Mengurusi Bidangnya.

Foto: Republika/Kurnia Fakhrini
Nabi Muhammad tidak akan memaksakan kehendak apabila tidak menguasai ilmunya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai sosok yang paling bijaksana. Beliau tidak akan memaksakan kehendak sendiri apabila tidak menguasai suatu aspek ilmu. 

Sehingga, Rasulullah pun selalu mempersilakan para ahli untuk mengurusi bidang yang dipahaminya untuk dikerjakan. Dalam buku Islam dan Teknologi karya Ustadz Ahmad Sarwat dijelaskan, Rasulullah SAW pernah bertanya tentang teknologi pertanian dan penyerbukan kurma. 

Baca Juga

Beliau bersabda: "Antum a'lamu bi umuri dunyakum." Yang artinya: "Kalian lebih mengerti dengan urusan dunia kalian." Hadits ini berkadar shahih dan diriwayatkan oleh Imam Muslim. 

Dijelaskan meski terdapat ulama yang berpendapat bahwa mungkin bagi Rasulullah memahami teknologi, namun terdapat pandangan sejumlah ulama yang percaya dalam hal teknologi, hal itu tidak bisa disandarkan langsung kepada Rasulullah. Untuk hukum dan syariah, silakan merujuk Rasulullah karena itu merupakan tugas beliau untuk mengajarkannya. 

Namun dalam urusan ilmu pengetahuan dan teknologi, Rasulullah SAW sendirilah yang justru mempersilakan manusia mengambil peran. Sehingga umat Muslim dianjurkan untuk jangan terjebak dengan teknologi era kenabian. 

Dalam teknlogi pertanian misalnya, meskipun Rasulullah SAW tinggal di Arab yang banyak tumbuh pohon kurma, namun demikian hal itu tidak secara otomatis membuat beliau menjadi ahli dalam urusan bertani kurma. Hal itu mengingat Rasulullah bukanlah orang Madinah asli. 

Rasulullah yang merupakan penduduk asli Mekkah identik dengan ilmu perniagaan mengingat beliau tumbuh besar dalam hiruk pikuk kafilah-kafilah dagang bangsa Mekkah. Sedangkan di Madinah, masyarakatnya identik menjadi petani sebab di sana terdapat banyak perkebunan kurma. 

Maka wajar sekali bila Rasulullah SAW tidak mengetahui bagaimana cara mengawinkan bunga kurma (talqih). Bahkan justru Rasulullah kemungkinan akan keliru apabila memberi masukan sehingga dapat berakibat pada gagalnya panen. 

Kisah tersebut pun dengan jujur disampaikan oleh Anas bin Malik dalam riwayat shahih di kitab Shahih Muslim. 

Haditsnya berbunyi: "An Anasin anna an-Nabiyya SAW marra biqaumin yulaqqihuna faqala: lau lam taf'alu lasholuha. Qala: fakharaja syushon. Famarra bihim faqala: ma linakhlikum? Faqalu: qultu kadza wa kadza, qala: antum a'lamu biamri dunyakum."

Yang artinya: "Dari Anas bin Malik, Nabi SAW melewati suatu kaum yang sedang melakukan talqih (menyerbukkan bunga kurma). Lalu beliau berkata: seharusnya jangan dilakukan, biar hasilnya lebih baik. Namun, lalu hasil panen mereka itu buruk hasilnya. Ketika Nabi SAW melewati mereka lagi, beliau pun bertanya: Mengapa hasil panen kurma kalian buruk? Mereka pun menjawab karena ini dan itu. Lalu Rasulullah SAW bersabda: kalian lebih mengerti urusan dunia kalian (yang kalian ahli dalam bidang tersebut)." 

Kisah ini amat terkenal dan pernyataannya pun menjadi sebuah pedoman bahwa Rasulullah SAW bukan ahli di bidang pengetahuan teknologi pertanian. Beliau bahkan mengakui urusan teknologi tersebut bisa diserahkan saja kepada para ahlinya.

Hal ini juga membuktikan di samping sikap bijaksana yang kerap tersemat dalam pribadi seorang Rasulullah, beliau juga merupakan sosok yang legawa dalam memberikan tugas kepada orang-orang yang memang layak mengurusi bidang tersebut. 

Dalam hal ini, beliau mengajarkan sebagai seorang Nabi beliau justru tidak dapat diberikan masukan. Terutama dalam hal yang tidak ada sangkut-pautnya dengan keahlian ataupun kemampuan keilmuan Rasulullah SAW sebagai seorang Nabi. Meski demikian, tak sedikit pula para ulama yang percaya Rasulullah juga memahami teknologi dengan berbagai hujah dan dalil yang menyertainya. Namun tentu saja sebagai seorang Muslim, pendapat dari kedua kelompok ulama ini harus kita sikapi dengan lapang agar dapat menambah wawasan khazanah keislaman dalam diri. 

Wallahu a'lam. 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA