Rabu 27 May 2020 13:40 WIB

Lembaga HAM Desak Investigasi Pembakaran Desa di Myanmar

Human Rights Watch minta ada penyelidikan pembakaran desa di Myanmar

Rep: Anadolu Agency/ Red: Christiyaningsih
Kambing milik penduduk etnis Rohingya berkeliaran di reruntuhan rumah yang terbakar di Rakhine, Myanmar. Human Rights Watch minta ada penyelidikan pembakaran desa di Myanmar. Ilustrasi.
Foto: AP Photo
Kambing milik penduduk etnis Rohingya berkeliaran di reruntuhan rumah yang terbakar di Rakhine, Myanmar. Human Rights Watch minta ada penyelidikan pembakaran desa di Myanmar. Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA - Sekitar 200 rumah dan bangunan lainnya dibakar awal bulan ini di sebuah desa yang sebagian besar sepi di negara bagian Rakhine yang dihancurkan Myanmar, lapor lembaga HAM Human Rights Watch (HRW) pada Selasa.

HRW mencatat penyelidikan yang tidak memihak harus segera dilakukan untuk menentukan siapa yang bertanggung jawab atas pengrusakan tersebut. Pada 16 Mei, sebuah satelit lingkungan mendeteksi kebakaran hebat yang terjadi di Let Kar. Sementara pencitraan satelit yang direkam pada tanggal 18 Mei menunjukkan bahwa sekitar 70 persen desa telah hancur.

Baca Juga

Populasi desa yang mayoritas beragama Buddha Rakhine telah melarikan diri lebih dari setahun sebelumnya, kata HRW. Sejak Januari 2019, bentrokan antara militer Myanmar dan gerilyawan Arakan yang berjuang untuk otonomi yang lebih besar dari etnis Budha Rakhine telah menewaskan banyak orang dan memaksa ribuan orang mengungsi dari rumah mereka.

"Pembakaran desa Let Kar memiliki semua ciri pembakaran militer Myanmar di desa Rohingya dalam beberapa tahun terakhir," kata Phil Robertson, wakil direktur HRW Asia.

"Investigasi yang kredibel dan tidak memihak sangat dibutuhkan untuk mencari tahu apa yang terjadi, kemudian menghukum mereka yang bertanggung jawab, dan memberikan kompensasi kepada penduduk desa yang dirugikan," imbuhnya.

Seorang relawan dari kota Mrauk-U mengatakan dia melihat asap datang dari arah Let Kar hari itu, menurut HRW. "Tidak ada yang tinggal di sana setelah pertempuran tahun lalu karena [penduduk] telah melarikan diri, tetapi orang tua benar-benar tidak punya tempat untuk pergi sekarang," katanya.

Sebagian besar penduduk telah berlindung di kamp-kamp pengungsi internal di desa Tein Myo dan Bu Ywat Ma Nyo dan setidaknya bisa pulang untuk mengambil barang-barang mereka dari waktu ke waktu, tetapi mereka sekarang tidak punya apa-apa, dia menambahkan.

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai orang yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan akan serangan sejak belasan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada 2012.

Menurut Amnesty International, lebih dari 750 ribu pengungsi Rohingya yang kebanyakan wanita dan anak-anak, melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke negara tetangga Bangladesh. Mereka melarikan diri setelah pasukan Myanmar melancarkan penumpasan terhadap komunitas Muslim minoritas pada Agustus 2017, sehingga jumlah orang yang dianiaya di Bangladesh di atas 1,2 juta.

Sejak 25 Agustus 2017, hampir 24 ribu Muslim Rohingya telah dibunuh oleh pasukan negara Myanmar, menurut sebuah laporan oleh Ontario International Development Agency (OIDA).

Lebih dari 34 ribu Rohingya juga dilemparkan ke dalam api, sementara lebih dari 114 ribu lainnya dipukuli, kata laporan OIDA, berjudul Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman Tak Terungkap.

Sebanyak 18 ribu perempuan dan gadis Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan lebih dari 115 ribu rumah Rohingya dibakar sementara 113 ribu lainnya dirusak, tambahnya.

sumber : https://www.aa.com.tr/id/dunia/lembaga-ham-desak-investigasi-pembakaran-desa-di-myanmar/1854475
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement