Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Dampak Pandemi, Rekanan Airbnb Berencana Jual Properti

Selasa 26 May 2020 09:09 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Nidia Zuraya

Sejumlah rekanan Airbnb berencana menjual properti mereka sebagai dampak tidak adanya penyewa. (Foto: ilustrasi platform Airbnb)

Sejumlah rekanan Airbnb berencana menjual properti mereka sebagai dampak tidak adanya penyewa. (Foto: ilustrasi platform Airbnb)

Foto: Wallpaper Flare
Ketika pandemi Covid-19 merebak,model bisnis Airbnb telah dipertanyakan.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Amy Offield telah menjalankan sewa properti selama  musim liburan di Galveston, Texas. Lima tahun lalu, dia dan suaminya Chris membeli rumah di sana yang bisa ditempuh beberapa menit dari pantai.

Mereka pun mulai memulihkan properti itu, yang bernama Blue Skies Beach Bungalow, dengan interior barang-barang vintage, dekorasi retro dan berwarna cerah.

Baca Juga

Seperti dilansir dari laman CNN, Selasa (26/5) ketika coronavirus menyebar ke seluruh Amerika Serikat pada Maret, Offield, yang telah menjadi rekanan di Airbnb selama hampir dua tahun, mulai melihat gelombang pembatalan. Dia tidak mendapatkan satu pun reservasi, dan bungalow pantainya telah kosong selama dua bulan.

Tak hanya itu, suami Offield juga kehilangan pekerjaan di perusahaan penjualan perangkat lunak. Sementara, keluarganya juga harus menanggung beban pembayaran hipotek rumah.

Kondisi tersebut membuat Offield mengambil keputusan sulit untuk menjual bungalow pantai miliknya. "Ini semacam roller coaster emosional. Kami telah kehilangan hampir semua penghasilan kami dalam tiga bulan terakhir," ujarnya.

Dengan dihentikannya perjalanan global selama pandemi ini, sejumlah rekanan di Airbnb berencana untuk menjual properti mereka. Selain menjual properti, beberapa rekanan Airbnb juga menjual serta perabot yang mereka miliki.

"Kami telah bekerja untuk mendukung komunitas kami melalui berbagai upaya, termasuk melakukan 250 juta dolar AS untuk membantu mendukung tuan rumah yang terkena dampak pembatalan tamu terkait Covid-19 dan 17 juta dolar AS untuk Super Host Relief Fund kami," kata juru bicara Airbnb Whiplash.

Ketika pandemi ini merebak, model bisnis Airbnb telah dipertanyakan. Setelah dilaporkan berencana untuk melakukan debut di Wall Street tahun ini, perusahaan malah harus memberhentikan sekitar 25 persen dari tenaga kerjanya. 

Pada saat yang sama, akhir Maret lalu Airbnb membayar sebesar 25 persen dari apa yang biasanya mereka dapatkan melalui kebijakan pembatalan pribadi, tetapi beberapa penyewa mengatakan kebijakan itu tidak cukup jauh untuk membantu, atau mereka menerima pembayaran yang lebih kecil dari yang diharapkan.

Dampak finansial dari pandemi ini dapat menyebabkan eksodus Airbnb seperti Jake Wolf, yang telah berada di platform ini selama lebih dari lima tahun dan menutup satu-satunya listing pada Maret.  

"Aku condong ke arah tidak. Bagi yang lain, ini mengarah pada pilihan menyakitkan tentang properti Airbnb mana yang harus ditinggalkan dan mana yang harus diselamatkan," ucap Wolf.

Christina Zima, tuan rumah Airbnb selama sembilan tahun, telah mengelola 25 rumah penuh waktu terutama di Wilayah Teluk San Francisco. Sejauh ini, dia telah menutup dua daftar properti selama krisis virus corona, salah satunya sudah direncanakan sebelumnya. 

Zima mengatakan beberapa pemilik tempat dia bekerja sedang mempertimbangkan untuk merobohkan lebih banyak properti, atau mencari penyewa jangka panjang, yang selanjutnya membuat bisnisnya menjadi tidak pasti.

"Saya berusaha keras untuk mencari tahu apa yang akan saya lakukan, dan apa yang akan terjadi di masa depan. Aku tidak menghasilkan uang. Dengan bisnis Airbnb, aku hanya berusaha meminimalkan kerugianku. Hanya satu dari rumah yang memenuhi pengeluarannya, yang berarti sewa dan keperluanku," ucapnya.

Enam dari properti yang disewakan Zima dari pemiliknya dengan biaya tetap, berkisar antara 2.800 dolar AS hingga 5.600 dolar AS per bulan dan kemudian menyewakannya di Airbnb sebagai tempat liburan, dalam praktik yang dikenal sebagai arbitrage. Sisanya adalah kemitraan dengan pemilik, di mana dia mengambil potongan untuk mengelola properti dan bertindak sebagai penghubung dengan tamu. 

Dengan beberapa properti Airbnb-nya yang ditutup, Zima juga telah mendaftarkan barang-barang yang ada di properti yang ditutup melalui Facebook Marketplace. Zima mendaftarkan banyak hal di Facebook Marketplace dalam satu hari, sehingga dia diblokir sementara untuk posting selama sehari. 

Offield juga mulai menjual berbagai barang vintage yang telah disimpannya di rumah di Galveston melalui Facebook Marketplace.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA