Thursday, 3 Ramadhan 1442 / 15 April 2021

Thursday, 3 Ramadhan 1442 / 15 April 2021

IHSG Berpotensi Melemah Setelah Libur Lebaran

Selasa 26 May 2020 06:56 WIB

Red: Ahmad Fikri Noor

Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (20/5).

Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (20/5).

Foto: M RISYAL HIDAYAT/ANTARA
IHSG berpotensi melemah karena sebagian besar sentimen pasar negatif.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi melemah setelah libur Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah.

"Melihat sebagian besar sentimen pasar yang ada relatif negatif di tengah terkoreksi pasar saham dunia pada saat pasar Indonesia libur, kami perkirakan IHSG akan cenderung konsolidasi melemah di awal pekan dan berpotensi mengalami rebound pada akhir pekan," kata Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee di Jakarta, Senin (25/5).

Menurut Hans, IHSG pekan ini diperkirakan akan dipengaruhi sejumlah sentimen yaitu rencana undang-undang keamanan nasional baru Cina yang membuat Beijing punya kontrol yang lebih besar pada Hong Kong.

RUU tersebut ditentang Amerika Serikat dan berpotensi menimbulkan perang dingin kedua negara yang merupakan ekonomi terbesar dunia saat ini.

Sentimen lainnya adalah tuduhan Presiden AS Donald Trump pada ketidakmampuan Cina mengatasi pandemi Covid-19 yang menyebar ke seluruh dunia, yang berpotensi menaikkan tensi kedua negara.

Lalu, rancangan undang-undang yang disetujui Senat AS terkait peningkatan pengawasan terhadap perusahaan Cina, yang dinilai sebagai sentimen negatif di pasar keuangan dan kemunduran dalam perkembangan pasar modal dunia khususnya Amerika Serikat.

Kemudian, pelonggaran bertahap lockdown oleh sebagian negara bagian Amerika Serikat dan negara-negara dunia, menjadi sentimen positif.

"Tetapi kekhawatiran gelombang kedua menjadi perhatian pasar. Sejauh ini tidak ditemukan tanda-tanda gelombang kedua Covid-19," ujar Hans.

Sementara itu, angka klaim pengangguran AS masih tinggi biarpun dalam tren turun. Tetapi yang dikhawatirkan adalah setelah pelonggaran lockdown ternyata tidak terjadi penciptaan lapangan kerja seperti yang diharapkan.

"Beberapa pekan ke depan menjadi periode penting bagi pasar keuangan dunia karena pelaku pasar akan mencermati apakah pelonggaran lockdown mampu mengembalikan daya beli dan mengembalikan ekonomi kembali normal sebelum pandemi Covid-19," katanya.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA