Perayaan Ramadhan di Maroko Jauh Lebih Tenang

Rep: Rossi Handayani/ Red: Ani Nursalikah

 Ahad 24 May 2020 03:25 WIB

Perayaan Ramadhan di Maroko Jauh Lebih Tenang. Masjid Koutoubia di Kota Marrakech, Maroko. Foto: bestourism.com Perayaan Ramadhan di Maroko Jauh Lebih Tenang. Masjid Koutoubia di Kota Marrakech, Maroko.

Muslim Maroko merayakan Ramadhan bersama keluarga di rumah.

REPUBLIKA.CO.ID, RABAT -- Pihak berwenang di Maroko telah memberlakukan peraturan lockdown yang cukup ketat pada 20 Maret. Saat itu, Maroko memiliki 80 kasus Covid-19 yang dikonfirmasi. Dengan sistem kesehatan yang tidak siap untuk wabah besar, pemerintah tidak ingin mengambil risiko.

Baca Juga

Penerapan ini tentu berpengaruh pada ibadah umat Muslim yang memasuki bulan suci Ramadhan. Tidak ada lagi keramaian di sekitar jalan-jalan di Maroko.

Biasanya, di taman, pantai, dan ruang tamu di seluruh Maroko, semua keluarga berkerumun di sekitar meja yang dipenuhi makanan, menunggu panggilan adzan. Ini merupakan bulan suci Islam Ramadhan, jadi inilah saatnya berbuka puasa dengan sejumlah makanan berbuka.

"Banyak orang, langsung setelah berbuka puasa, mereka akan keluar di kafe, berjalan-jalan, bersosialisasi," kata seorang penulis Amerika-Maroko (29 tahun), Soukaina Rachidi, dilansir dari laman Pri, Sabtu (23/5).

Dia mengatakan, Ramadhan biasanya terasa begitu sibuk, dengan semangat berbuka puasa, makan malam larut malam dan pertemuan tanpa akhir. Namun, tidak untuk tahun ini.

Pemberlakukan lockdown membatasi pergerakan di siang hari, namun masih diperbolehkan hanya untuk berbelanja penting dan kunjungan ke dokter. Mereka juga memberlakukan wajib menggunakan masker di depan umum, dan menerapkan jam malam malam mulai pukul 19.00. Hal ini membuat kemeriahan acara Ramadhan terhalangi.

"Ini pengalaman yang sangat berbeda karena orang tidak bisa keluar", kata Rachidi.

Kendati demikian, menurut Rachidi ini ada hikmahnya. "Saya merasa seperti detoksifikasi, mengatur ulang pikiran dan tubuh dan juga ruh. Ketika iman Anda diuji, saat itulah Anda tahu apakah itu hanya ritual atau sesuatu yang benar-benar Anda yakini," ucapnya.

Ia mengatakan, Ramadhan secara tradisional merupakan waktu orang pergi ke masjid dan berdoa di masjid. Itulah hati dan jiwa dari pengalaman Ramadhan.

Untuk pertama kalinya yang dapat diingat siapa pun, masjid ditutup untuk bulan Ramadhan. Itu masalah besar di negara, di mana orang banyak biasanya datang berdoa setiap malam bulan ini. Masjid terbesar Maroko, Hassan II di Casablanca, dapat menampung hingga lebih dari 200 ribu orang secara berdempetan.

Semua orang melewatkan sholat berjamaah. Beberapa Muslim bahkan mengutuk penutupan itu karena negara dianggap meninggalkan Islam, namun mereka akhirnya ditangkap karena hasutan kebencian.

"Apakah kamu tidak berdoa di masjid berarti Ramadhan batal demi hukum? Atau apakah itu berarti kamu bisa sendirian di kamar dan nilainya sama?" tanya Rachidi.

Di samping itu, bagi Mehdi Ouizid (24) yang tinggal di jantung kota tua Marrakech, juga sulit untuk menerima keadaan ini. "Ini sedikit membuat frustrasi karena itu tidak seperti seharusnya. Tidak ada sholat di masjid, tidak ada tarawih jadi, kami semacam terkunci di sini juga," kata dia.

Tapi dengan masjid ditutup, Ouizid mengatakan, dalam keluarga seperti dia menemukan komunitas, dan ada kesucian di ruang tamu rumahnya. "Sepertinya kita melakukannya, di masjid kecil di sini di rumah. Saya orang yang berdoa bersama keluarga saya, saya di garis depan, ayah saya di belakang saya dan kemudian di belakang ada ibu dan saudara perempuan saya, dan saya menjadi Imam, saya sholat bersama mereka," ungkap Ouizid.

Sebelum pandemi, Ouizid bekerja sebagai penyanyi di sebuah hotel. Sekarang, dia menggunakan suaranya untuk membaca ayat-ayat suci di rumah.

"Ini pengalaman pertama saya dan ini benar-benar berkah," katanya.

Seperti Ouizid, akuntan Zakaria el-Aggari (39) juga memimpin sholat tarawih di rumahnya di Rabat. "Ketika Anda melakukan shalat tarawih, Anda merasa lebih dekat dengan Allah," kata dia.

Aggari bekerja di bidang pariwisata, dan dia harus mematikan penggunaan Airbnb-nya. Tapi dia tidak memikirkan pendapatan yang hilang. Dia berterima kasih atas waktu ekstra dengan istri dan ibunya, dan untuk kesempatan bermain dengan dua putrinya yang masih kecil.

"Sekarang kita lebih mengenal satu sama lain," kata Aggari.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X