Monday, 9 Rabiul Awwal 1442 / 26 October 2020

Monday, 9 Rabiul Awwal 1442 / 26 October 2020

Ilmuwan Temukan Piringan Galaksi Tertua

Sabtu 23 May 2020 11:38 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Dwi Murdaningsih

Galaksi bima sakti (ilustrasi)

Galaksi bima sakti (ilustrasi)

Foto: wikipedia
Galaksi tua ini terbentuk 1,5 miliar tahun setelah Big Bang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ilmuwan menemukan piringan galaksi raksasa berputar terbentuk 1,5 miliar tahun setelah Big Bang. Ilmuwan Jerman dan Amerika Serikat (AS) dari National Center for Radio Astrophysics (NCRA) di Pune membuat penemuan ini dan menerbitkan penelitian dalam jurnal Nature baru-baru ini.

Galaksi itu bernama Wolfe Disk. Nama galaksi Wolfe Disk yang diambil dari nama astronom Arthur M. Wolfe. Ini adalah piringan galaksi yang paling jauh yang pernah diamati. Pengamatan ini dilakukan dengan menggunakan  teleskop The Atacama Large Milimeter/submilimeter Array radio (ALMA) di Cile utara.

Sebagian besar teori pembentukan mengatakan galaksi masif terbentuk melalui penggabungan galaksi yang lebih kecil baru mulai menunjukkan cakram yang jelas, sekitar enam hingga 10 miliar setelah Big Bang. Big Bang terjadi 13,8 miliar tahun lalu.

Seperti yang dilansir dari Times of India, Jumat (22/5), penemuan piringan galaksi ketika alam semesta berusia 1,5 miliar tahun mengindikasikan ada mekanisme lain yang pasti bertanggung jawab atas pembentukan galaksi besar.

Rekan penulis Nissim Kanekar dari NCRA, Pune mengatakan galaksi yang telah terdeteksi ini terlihat berantakan.

“Mereka tampaknya telah mengalami peristiwa penggabungan yang keras, membuatnya sulit untuk membentuk cakram berputar indah, seperti Bima Sakti atau galaksi Andromeda. Wolfe Disk tampaknya telah tumbuh melalui penambahan gas yang stabil, bukan oleh peristiwa gabungan,” kata Kanekar.

Dilaporkan dalam makalah yang muncul di Nature, Wolfe Disk, adalah salah satu galaksi paling produktif di alam semesta awal. Kanekar mengatakan sebagian besar galaksi di alam semesta terdeteksi melalui emisi dari bintang atau gas mereka.

“Tim kami awalnya menemukan Wolfe Disk menyerap cahaya dari quasar yang lebih jauh. Cahaya dari latar belakang quasar ini terlihat diserap seperti melewati sebuah reservoir gas hidrogen yang mengelilingi galaksi,” ujarnya.

Selain itu, tim kemudian menggunakan pengamatan ALMA untuk mengidentifikasi galaksi yang menghasilkan penyerapan. Kemudian, pengamatan ALMA baru melaporkan pemodelan terperinci dari rotasi galaksi.

Fakta para imuwan menemukan Wolfe Diks menggunakan metode penyerapan itu bukan milik populasi galaksi normal yang hadir pada masa yang sangat awal.

“Ketika pengamatan ALMA baru menunjukkan ia berputar dengan cepat, kami menyadari putaran awal tidak jarang seperti yang diperkirakan dan seharusnya ada lebih banyak dari mereka di alam semesta,” kata Kaneker.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA