Sabtu 23 May 2020 09:16 WIB

Mengenal Cordyceps, Jamur yang Berpotensi Tangkal Corona

Cordyceps militaris telah lama dipakai sebagai obat tradisional China.

Rep: Desy Susilawati/ Red: Reiny Dwinanda
Jamur Cordyceps merupakan salah satu bahan alami yang memiliki manfaat antivirus, immunomodulator, antiinflamasi, dan antioksidan.
Foto: India Mart
Jamur Cordyceps merupakan salah satu bahan alami yang memiliki manfaat antivirus, immunomodulator, antiinflamasi, dan antioksidan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Berdasarkan kajian, jamur Cordyceps militaris disinyalir memiliki potensi sebagai penangkal serangan virus dalam tubuh. Cordyceps militaris merupakan salah satu bahan alami yang memiliki banyak manfaat seperti antivirus, immunomodulator, antiinflamasi, dan antioksidan.

“Walaupun masih diperlukan berbagai penelitian lanjutan dan belum sampai pada uji klinis, Cordyceps militaris memiliki potensi yang sangat baik untuk membantu menangkal virus, salah satunya virus corona,” ujar Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam yang juga pakar Biomolekuler Universitas Brawijaya, Malang, Prof Widodo PhD MedSc, dalam webinar Kekuatan Bahan Alami untuk Memperkuat Imunitas Tubuh yang diselenggarakan oleh PT Kalbe Farma Tbk, belum lama ini.

Baca Juga

Widodo menjelaskan, secara alami Cordyceps ditemukan di Tibet, pegunungan Himalaya. Jamur itu kemudian menyebar sampai China dan Korea.

Awalnya, menurut Widodo, Codyceps sifatnya jamur endofit, yakni jamur yang memanfaatkan serangga untuk tumbuh. Dengan teknologi mutakhir, jamur itu bisa ditumbuhkan dengan manfaatkan teknologi kultur jaringan.

Jamur Cordyceps telah lama dikenal sebagai obat tradisional di Asia Timur. Ini merupakan salah satu komponen utama dalam obat tradisional China karena kemampuannya untuk mengobati berbagai penyakit dan sebagai tonik.

Widodo memaparkan, Cordyceps mengandung beberapa senyawa aktif yang dipercaya bermanfaat bagi kesehatan dan bekerja secara sistemik. Ada adenosine yang berpotensi sebagai antivirus, cordycepin yang memiliki sifat sebagai antiinflamasi dan antivirus, serta polisakarida yang memiliki aktivitas imunomodulator atau peningkat daya tahan tubuh, antioksidan, anti-tumor dan anti-aging. Di samping itu, Cordyceps juga mengandung asam amino dan asam lemak.

"Adenosine ini mudah sekali diserap tubuh kita, begitu juga cordycepin," ungkap Widodo.

Mengutip beberapa referensi, Widodo menyebutkan bahwa suntikan Cordyceps dapat memberikan reaksi dalam beberapa menit karena senyawa aktifnya gampang diserap tubuh, sehingga bisa mudah dialirkan ke dalam darah. Sementara itu, butuh waktu lebih lama jika dikonsumsi via oral.

"Mungkin dalam beberapa jam baru memberikan dampak,” jelasnya.

Cordyceps memiliki struktur unik yang memiliki similiaritas dengan senyawa anti virus yang sekarang ada di pasar atau yang disebut dengan nucleus analog. Dia memiliki potensi menghambat replikasi virus secara langsung.

Cordyceps, dengan sifatnya yang multifungsi, maka berpotensi digunakan untuk mencegah dan mengobati Covid-19. Terlebih, salah satu hal yang penting pada penyakit corona adalah mencegah munculnya badai sitokin.

Cara menghambatnya dengan senyawa herbal antiinflamasi. Banyak referensi menyatakan pemberian Cordyceps ini pada hewan dan juga manusia, memang menurunkan sitokin pro inflamasi.

“Dengan demikian harapannya badai sitokin bisa dihambat. Demikian juga pencegahan bisa menimbulkan immunomudolasi dan anti oksidan. Ini sangat penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh,” jelas Widodo.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement