Teks Khutbah Idul Fitri di Rumah dari Wasekjen MUI

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil

 Jumat 22 May 2020 07:35 WIB

Teks Khutbah Idul Fitri di Rumah dari Wasekjen MUI. Foto: Ilustrasi khutbah Idul Fitri Teks Khutbah Idul Fitri di Rumah dari Wasekjen MUI. Foto: Ilustrasi khutbah Idul Fitri

Wasekjen MUI sampaikan contoh teks khutbah Idul Fitri di rumah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--JAKARTA -- Pelaksanaan Idul Fitri 1441 2020 H diperkirakan akan jatuh pada 22 Mei 2020. Umat Islam diimbau untuk melaksanakan sholat Idul Fitri di rumah. Hal ini karena masih terjadinya pandemi covid-19.Wasekjen MUI KH Sholahudin Al Aiyubi, memberikan contoh teks khutbah Idul Fitri di rumah. Berikut ini adalah contoh khutbahnya:

Khutbah Idul Fitri: Musibah Sebagai Ujian Agar Semakin Dekat kepada Allah SWT

Oleh: KH. Sholahudin al-Aiyubi, M.Si, Wakil Ketua Satgas Covid MUI/Wakil Sekjen MUI Pusat

KHUTBAH PERTAMA

الله أَكْبَرُ – الله أَكْبَرُ – الله أَكْبَرُ –الله أَكْبَرُ – الله أَكْبَرُ – الله أَكْبَرُ –الله أَكْبَرُ – الله أَكْبَرُ – الله أَكْبَرُ –لا إله إلا الله والله أَكْبَرُ، الله أَكْبَرُولله الحمد.
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرًا مُبَارَكَةً ورَحْمَةً، ومَغْفِرَةً ِلأُمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إلِهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ. أمَّا بعدُ، فيا عباد الله! اتَّقوا الله وأطيعوا وكبِّروه تكبيرا.

Kaum muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Sejak tadi malam, terdengar gema takbir, tahlil, dan tahmid membahana angkasa, menyambut kehadiran Hari Raya Idul Fitri 1441 H. Syukur Alhamdulillah, kita dapat bertemu dengan Hari Raya yang mubarok ini. Hari raya Idul Fitri tahun ini kita rayakan dalam suasana penuh keprihatinan, karena masih dalam situasi pandemi Covid-19.

Perayaan hari raya yang selama ini kita jalankan dengan leluasa, saat ini tidak bisa kita lakukan seperti itu lagi. Pandemi Covid-19 membatasi ruang gerak kita, sehingga kita harus memperhitungkan sedemikian rupa hal-hal yang akan kita lakukan, apakah akan membawa penularan bagi kita sendiri atau orang lain.

Sebagai seorang muslim, tidak boleh kita melakukan aktivitas yang bisa berdampak bahaya pada diri kita ataupun orang lain. Sesuai sabda Rasulullah SAW, "La Dharara Wala Dhirar". Pandemi Covid-19 ini merupakan musibah bagi semua umat manusia.

Musibah ini diharapkan dapat menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua umat Islam, terutama dalam rangka memperkuat keimanan dan kesabaran. Sebab, musibah ini boleh jadi merupakan ujian dari Allah ta'ala kepada kita semua untuk menguji keimanan dan kesabaran kita.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 155-157:

Baca Juga

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ. الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ. أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, de ngan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buahbuahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun". Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."

Apapun kehendak Allah dari musibah yang saat ini melanda hampir semua belahan bumi, hendaknya kita terima dengan ikhlas, ridha, pasrah dan tetap berbaik sangka pada semua ketentuan Allah, seraya senantiasa bermohon kepada Allah agar musibah ini segera diangkat oleh-Nya.

Kita juga tetap harus melakukan ikhtiar terbaik untuk bisa bertahan dan memenangkan pertempuran melawan wabah ini. Kita bermohon pada Allah agar kita tetap diberikan kesabaran dalam menghadapi musibah ini dan diberikan ketawakkalan untuk menyerahkan segala sesuatu pada kehendak-Nya.

Di sisi lain kita juga harus introspeksi, muhasabah, bahwa bisa jadi musibah ini diturunkan oleh Allah karena terlalu banyak dosa dan kesalahan yang kita perbuat. Selama ini terlalu sering kita tidak menghiraukan ketentuan Allah, terutama terkait dengan kehalalan makanan yang kita konsumsi.

Kita abai untuk menyeleksi makanan yang betul-betul halal untuk dikonsumsi. Kita juga tidak menghiraukan dari mana kita dapat uang untuk membeli makanan tersebut. Sepertinya kita mempunyai anggapan bahwa hukum Allah tidak menjangkau apa yang kita lakukan. Oleh karena itu, mari kita memohon ampun kepada Allah.

Mari azamkan dalam diri kita untuk senantiasa menjaga diri dari mengonsumsi sesuatu yang haram, baik dari sisi barangnya ataupun dengan uang apa kita membelinya. Andaipun Allah menurunkan ujian ini karena kesalahan dan dosa yang kita lakukan, kita tetap bermohon kepada-Nya agar ujian ini tetap terpikulkan oleh kita. Dan kita juga bermohon agar Allah tidak menurunkan musibah kepada anak cucu kita karena dosa dan kesalahan yang kita lakukan.

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَافَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ 

"Rabbana laa tu'akhizna innasiina aw akhto'naa robbanaa wa laa tahmil 'alaina isron kamaa hamal tahuu alalladziina min qoblinaa robbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thoo qotalanaa bih wa'fuanna waghfirlanaa warhamna anta maulaana fansurnaa alal qowmil kaafiriin."

Ma'asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah...

Kita perlu merenungi apa yang telah menimpa nabi Ayyub 'alaihissalam, sebagaimana diceritakan dalam al-Qur'anul Kariim. Beliau mendapatkan cobaan dan ujian yang cukup berat, berupa penyakit kronis, hartanya habis terbakar dan ditinggalkan oleh keluarganya. Beliau tetap sabar dan pasrah menerima semua cobaan dan ujian itu, dan tidak berputus asa untuk selalu mengharap belas kasih Allah SWT.

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ، فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآَتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ.

"Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang". Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al-Anbiya: 83-84)

Kisah tersebut menjadi 'ibrah atau pelajaran bagi kita, bahwa apapun musibah yang kita alami, bila Allah menghendaki, niscaya dengan belas kasih-Nya akan dicabut dan dihilangkan musibah itu. Allah juga akan mengembalikan apa-apa yang telah hilang akibat musibah itu. Oleh karena itu, mari kita panjatkan doa terbaik kita. Semoga Allah segera mencabut musibah ini dan mengembalikan kita pada kehidupan yang normal dalam keadaan yang lebih baik lagi. Amin ya rabbal 'alamin.

بارك الله لي ولكم وتقبل الله صيامنا وصيامكم وجعلنا وإياكم من العائدين والفائزين والمقبولين والحمد لله رب العالمين.


KHUTBAH KEDUA

الله أَكْبَرُ – الله أَكْبَرُ – الله أَكْبَرُ –الله أَكْبَرُ – الله أَكْبَرُ – الله أَكْبَرُ –اللهُ أَكْبَرُلاَ إلِهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ  لِلَّهِ حَمْدًا  كَثِيْرًا  كَمَا  أَمَرْ.  أَشْهَدُ  أَنْ  لاَ  إِلَهَ  إِلاَّ  اللهُ  وَحْدَهُ  لاَ  شَرِيْكَ  لَهُ إِرْغَاماً  لِمَنْ  جَحَدَ  بِهِ  وَكَفَرْ.  وَأَشْهَدُ  أَنَّ  سَيِّدَنَا  مُحَمَّداً  عَبْدُهُ  وَرَسُوْلُهُ  سَيِّدُ  الخَلاَئِقِ  وَالْبَشَرْ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرْ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ! اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. فَقَالَ  اللهُ  تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمْ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ :إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنْ، وَعَلَيْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنْ.
اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.
اَللّهُمَّ انْصُرِ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْفَاجِرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. آمِيْنَ يَا مُجِيْبَ السَّائِلِيْنَ.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، والحمد لله رب العالمين.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X