Kesan Ramadhan Atlet Prancis: Ada Cinta dan Kemanusiaan

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Muhammad Hafil

 Rabu 20 May 2020 12:08 WIB

Kesan Ramadhan Atlet Prancis: Ada Cinta dan Kemanusiaan. Foto: Ilustrasi Ramadhan Foto: Pixabay Kesan Ramadhan Atlet Prancis: Ada Cinta dan Kemanusiaan. Foto: Ilustrasi Ramadhan

Cinta dan kemanusiaan menjadi kesan atlet Prancis untuk Ramadhan.

REPUBLIKA.CO.ID, DOHA -- Bulan Ramadhan identik dengan semangat kebaikan dan kedermawanan. Sebab dengan berpuasa di bulan Ramadhan itu sendiri dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan menanamkan kesabaran.

Seperti yang diungkapkan oleh ekspatriat asal Prancis yang berbasis di Qatar, Pierre Daniel, yang berbagi pandangannya tentang pengalaman Ramadhan di Qatar dengan komunitas setempat dan soal krisis kesehatan saat ini. Daniel adalah atlet dan olahragawan yang terkenal di Qatar. Pesepeda sekaligus solo trekker ini telah mencatat rekor dunia untuk crossing tercepat di negara itu dari utara ke selatan dengan berjalan kaki.

Daniel telah menetap di Doha bersama keluarganya selama lebih dari 11 tahun. Sebagai orang yang aktif keluar rumah, Daniel mengaku ia berhadapan dengan situasi baru. Ia mengungkapkan, bahwa ia bekerja untuk departemen pemasaran dari Aspire Zone Foundation.

Namun demikian, ia mengatasi sitausi saat ini dengan sabar. Daniel memang merupakan penggemar olahraga luar ruangan. Ia kerap menghabiskan waktu di luar untuk berolahraga dan berlatih bersama teman atau bepergian untuk berpetualang. Akan tetapi, ia menyadari bahwa semua orang harus menghadapi situasi saat dengan filosofi berpikir positif.

"Mengalahkan diri sendiri dengan pikiran negatif tidak ada gunanya dan membuatnya menjadi lebih sulit. Jadi, mengapa tidak fokus pada hal positif dan memanfaatkan situasi sebaik-baiknya," ungkap Daniel, dilansir di Gulf Times, Rabu (20/5).

Selama beberapa pekan terakhir, Daniel dan keluarga tinggal di rumah dan menyulap rumah sebagai tempat untuk sekolah untuk tiga anaknya dan bekerja pun dari rumah. Beruntung, katanya, Aspire segera menyiapkan banyak alat digital untuk memungkinkan mereka terus bekerja, sehingga mereka berusaha menjalankan bisnis seperti biasa.

Sang atlet ini lantas melihat norma jarak sosial sebagai kesempatan untuk menyadari akan nilai sebuah interaksi sosial. Daniel mengungkapkan, bahwa ia percaya jarak sosial dan situasi global yang tidak menguntungkan ini adalah faktor yang dapat membantu menyadari pentingnya nilai interaksi sosial. Menurutnya, manusia sangat membutuhkan satu sama lain untuk pengembangan pribadi.

"Ini membawa kita kembali ke universalitas kemanusiaan. Kita semua dipengaruhi oleh penyakit yang dapat menginfeksi siapa pun di antara kita. Itu telah berhasil mengacaukan ekonomi global kita, dan karenanya kita semua sama-sama membutuhkan interaksi sosial," ujarnya.

Di bulan Ramadhan ini, ia mengaku secara konsisten berpuasa dalam solidaritas dengan teman-teman Muslimnya di Qatar. Ia mengungkapkan, bahwa selama dekade terakhir ia telah berbagi semangat Ramadhan dengan komunitas Muslim di Qatar. Daniel secara konsisten berpuasa dalam solidaritas dengan teman-teman Muslimnya. Hal itu dilakukan pertama kali ketika ia baru saja pindah ke Qatar.

"Saya sangat cepat memiliki banyak teman Muslim dan ketika Ramadhan datang saya sangat ingin mengalaminya sepenuhnya dengan mereka sebagai bagian dari menahan rasa haus saya dari menemukan secara mendalam budaya lokal dan juga karena alasan itu mengumpulkan banyak nilai yang saya hormati, seperti semangat persatuan dan kasih amal serta disiplin diri, kontrol diri dan daya tahan dalam kekurangan," katanya.
 
Tidak hanya itu, ia juga merasakan manfaat fisik dan spiritual dari puasa yang baru-baru ini diterapkan pada gaya hidupnya. Pasalnya, ia mulai berpuasa selama sehari penuh dua kali sepekan setiap hari Senin dan Kamis.

Daniel juga mengungkapkan bahwa ia melihat ada semangat cinta diri dan cinta untuk kemanusiaan di bulan Ramadhan. Ia percaya, terlepas dari penerapan dogma atau mengejar spiritualitas dalam bentuk interaksi dengan diri dan orang lain, cara untuk menghargai dan mengalami segala sesuatu selama Ramadhan adalah sebuah demonstrasi dari universalitas cinta. Menurutnya, hal itu termasuk cinta diri, cinta kepada orang lain, cinta hidup, cinta bekerja, dan kepedulian. Daniel mengatakan, hal itu adalah pola pikir yang dapat diraih oleh semua orang dan itu muncul dalam komunitas Muslim selama bulan suci ini.

Namun demikian, ia mengakui bahwa Ramadhan kali ini agak istimewa. Sebab, orang-orang tidak dapat bertemu dan berbagi momen perkumpulan. Akan tetapi, kata dia, pola pikir itu masih ada. Baik teman atau keluarga mencoba untuk tetap dekat dengan menggunakan semua alat yang tersedia.

Karena itu, pada Ramadhan ini, ia juga memiliki banyak pertemuan digital dengan teman-teman saat waktu berbuka puasa bersama. Beberapa dari mereka bahkan mengirim makanan ke rumahnya sebagai sebuah bingkisan.

"Saya percaya bahwa dengan hal positif dan disiplin kita akan menang dan beradaptasi dan mudah-mudahan segera kembali ke kehidupan yang lebih normal," tambahnya.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X