Sunday, 10 Zulqaidah 1442 / 20 June 2021

Sunday, 10 Zulqaidah 1442 / 20 June 2021

Soal Bansos, Muhadjir: Hati-Hati dan Harus Cepat Itu Sulit

Selasa 19 May 2020 19:05 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko-PMK), Profesor Muhadjir Effendy.

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko-PMK), Profesor Muhadjir Effendy.

Foto: dok. Humas UMM
Pemerintah tetap menargetkan penyaluran bansos selesai sebelum lebaran.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy mengakui proses pendistribusian bantuan sosial (bansos) bagi masyarakat yang terdampak Covid-19 tidak mudah. Proses penyaluran dibutuhkan kesabaran.

"Jadi memang harus perlu kesabaran, perlu waktu tapi di satu sisi perlu cepat seperti yang diinstruksikan oleh bapak Presiden. Antara sabar, hati-hati tapi juga cepat ini memang tidak mudah," kata Muhadjir di kantornya di Jakarta, Selasa.

Muhadjir menyampaikan hal tersebut seusai mengikuti rapat terbatas dengan tema "Ratas Penyederhanaan Prosedur Bansos Tunai dan BLT Dana Desa" yang dipimpin Presiden Joko Widodo.

Ia mengakui, dua hal yang kadang-kadang memang paradoks. Pasalnya,  kalau  mau cepat biasanya harus sembrono. Tapi kalau mau hati-hati harus pelan. "Jadi itu memang itu dua hal yang dikompromikan karena itu mohon dimaklumi tapi sesuai dengan arahan Bapak Presiden, target menjelang Lebaran ataupun juga awal Lebaran dana dari Kemensos maupun dana dari Kementerian Desa akan bisa tersalurkan," tambah Muhadjir.

Pemerintah telah meluncurkan sejumlah program bantuan sosial untuk membantu masyarakat yang terdampak karena pandemi Covid-19. Di antaranya adalah Bantuan Sosial (Bansos) Tunai dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Desa. Namun penyaluran bansos tunai masih sekitar 25 persen dan BLT desa masih kurang dari 15 persen dari total bantuan.

"Target realistisnya, desa-desa yang sekarang sudah ada dananya tinggal kita dorong, jumlahnya sekitar 70 persen dari total desa itu," ujarnya.

Menurut Muhadjir, masalah di BLT Desa adalah data yang dihimpun oleh RT/RW tidak bisa otomatis digunakan untuk dasar membagikan bansos. Ini data harus diverifikasi oleh kabupaten/kota baru dana BLT desa bisa dikucurkan.

"Masalahnya adalah banyak kabupaten/kota yang tidak segera menurunkan itu dengan berbagai macam alasan. Bahkan kadang-kadang turun namanya sudah beda, saya tidak tahu data dari kabupaten/kota itu dari mana dan inilah masalah yang sekarang sudah kita potong," ungkap Muhadjir.

Saat ini pemerintah menyepakati bahwa semua data yang dihimpun RT/RW baik untuk kepentingan Kemensos maupun BLT desa tidak diharuskan untuk diverifikasi dulu di tingkat kabupaten/kota.

"Paling tidak untuk bansos pembagian putaran pertama, soal putaran kedua akan diberlakukan lagi silakan tapi ini untuk memburu agar daya beli masyarakat segara pulih, segara memutar nadi ekonomi yang sekarang mengalami hibernasi agar berputar lagi di lapangan. Saya mohon semua bupati dan wali kota memaklumi, mohon disadari tentang kebijakan ini," ujarnya.

Sedangkan untuk memastikan tidak terjadi moral hazard dalam pembagian bansos tanpa data yang terverifikasi di tingkat kabupaten ini, menurut Muhadjir, Presiden Jokowi telah menginstruksikan penyaluran BLT Desa dikawal oleh Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) dan Bintara Pembina Desa (Babinsa) TNI AD.

"Oleh sebab itu Pak Mendes akan mengirim surat kepada Pak Kapolri agar mengefektifkan peranan Bhabinkamtibmas di masing-masing desa untuk mengawal tiga hal," kata Muhadjir.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA