Monday, 5 Syawwal 1442 / 17 May 2021

Monday, 5 Syawwal 1442 / 17 May 2021

Yakin Mau Belanja ke Pasar? Ini Bahayanya

Selasa 19 May 2020 12:19 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Natalia Endah Hapsari

Suasana aktivitas jual beli di kawasan Pasar Baru, Jalan Otto Iskandar Dinata (Otista), Kota Bandung, Senin (18/5). Meski penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Jawa Barat masih berlaku hingga 19 Mei 2020 mendatang, namun sebagian oknum pedagang tetap menggelar lapaknya di sejumlah titik seperi di atas trotoar dan pinggir jalan

Suasana aktivitas jual beli di kawasan Pasar Baru, Jalan Otto Iskandar Dinata (Otista), Kota Bandung, Senin (18/5). Meski penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Jawa Barat masih berlaku hingga 19 Mei 2020 mendatang, namun sebagian oknum pedagang tetap menggelar lapaknya di sejumlah titik seperi di atas trotoar dan pinggir jalan

Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Potensi penyebaran virus di pasar sangat tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG--- Ahli epidemiologi Universitas Padjadjaran (Unpad) Panji Fortuna Hadisoemarto meminta masyarakat berhati-hati dan waspada akan bahaya penyebaran virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit Covid-19 di pusat niaga seperti pasar dan toko swalayan. Apalagi, saat ini banyak warga di beberapa daerah yang tidak mematuhi peraturan kesehatan dengan memenuhi toko pakaian ataupun pusat niaga lain.

Menurut Panji, gelombang pertama yang belum selesai ini juga berpotensi naik drastis jika tidak ada pengetatan PSBB, bahkan ada rencana pelonggaran PSBB di Jawa Barat. "Apalagi, saat ini sudah banyak warga yang kembali berbelanja untuk keperluan Lebaran. Ini bisa memperluas penyebaran,” ujar Panji di Kota Bandung, Selasa (19/5).

Panji mengatakan, penyebaran virus di pusat niaga seperti toko baju sangat mudah karena droplet dari pembawa virus (carrier) bisa menempel di permukaan benda-benda yang ada di pusat perniagaan. Jika permukaan benda yang terkena droplet ini disentuh, virus dapat berpindah dan menginfeksi orang yang menyentuhnya.

“Potensi penyebaran (di pusat niaga) tinggi. Bayangkan masyarakat menganggap situasi saat ini normal dengan berdesakan di toko baju, toko emas, tanpa mempertimbangkan protokol kesehatan. Ini sangat meningkatkan risiko penularan,” kata Panji.

Panji mengatakan, pergerakan dan kontak anggota masyarakat menjadi kunci dalam menekan kasus Covid-19 di Jawa Barat. Semakin kecil persentase pergerakan masyarakat, pandemi Covid-19 semakin cepat ditanggulangi. Hal tersebut didapat berdasarkan permodelan yang dia buat. 

Dia membuat simulasi bagaimana Covid-19 akan menyebar di Jabar dalam beberapa skenario. Yang pertama, skenario kondisi sekarang. "Nampaknya, walau PSBB sudah berhasil menurunkan transmisi, tetapi ada sisa transmisi yang menyebabkan kita masih melihat ada kasus baru setiap hari," kata Panji. 

Sebaliknya, menurut dia, jika pergerakan masyarakat tidak dapat ditekan lebih kecil, pandemi Covid-19 baru bisa teratasi sampai tiga tahun mendatang. Untuk itu, Panji merekomendasikan kepada pemerintah daerah (pemda) Provinsi Jabar agar pergerakan masyarakat terus ditekan. 

"Intinya, PSBB ini kalau saya simulasikan dengan pengetatan sedikit lagi saja, itu bisa mempercepat habisnya wabah Covid-19 di Jabar, bahkan dalam waktu kurang dari satu bulan," kata Panji.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA