Sunday, 6 Ramadhan 1442 / 18 April 2021

Sunday, 6 Ramadhan 1442 / 18 April 2021

Bang Haji Doni Kawal Majelis Ulama Hadapi Covid-19

Selasa 19 May 2020 05:11 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo.

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo.

Foto: Republika/Thoudy Badai
Selain media, mitra strategis Gugus Tugas Covid-19 adalah MUI.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Selamat Ginting, Wartawan Senior Republika

Masjid Raya Baiturrahman. Sebuah masjid yang terletak di pusat kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Masjid ini adalah simbol agama, budaya, semangat, kekuatan, perjuangan dan nasionalisme rakyat Aceh. Menjadi landmark Banda Aceh sejak era Kesultanan Aceh. Selamat dari bencana tsunami pada 26 Desember 2004 silam.

Di Masjid Raya Baiturrahman itulah, bocah Doni Monardo belajar mengaji. Pulang dari Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), Doni belajar agama di salah satu masjid kebanggaan Indonesia tersebut. Bang Doni, begitu sapaan masyarakat Aceh kepada setiap lelaki, termasuk kepada bocah Doni.

“Saya belajar mengaji di Masjid Raya Baiturrahman,” kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letnan Jenderal Doni Monardo (57 tahun), saat berbincang di sela-sela kesibukannya pada Sabtu (16/5/2020) malam. Ia mengenakan baju koko lengan panjang dan celana panjang hitam.

Aceh memang penuh kenangan bagi Kepala BNPB itu. Pada saat tsunami, penulis juga bertemu dengan Letnan Kolonel (Infanteri) Doni Monardo di Lhok Seumawe, Aceh Utara, pada 28 Desember 2004. Saat itu, ia menjabat Kapala tim analis intelijen Komando Pelaksana Operasi TNI di Aceh Utara.  

Saat berbuka hari itu, Doni didampingi istrinya, Santi Ariviani. Saat ditanya, ada apa menggunakan baju koko? Kepala Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-10, Doni Monardo, menjawab, menghormati tamunya, seorang ulama. Sabtu pagi sekitar pukul 10.00 WIB, ia berdialog dengan Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Menyampaikan kebijakan penanganan penanggulangan covid-19 melalui konferensi video. Tamunya adalah Sekretaris Jenderal MUI, Doktor Haji Anwar Abbas, Magister Manajemen, Magister Agama.

Saat konferensi video, di kantornya, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni ditemani Ketua Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Pusat, Masduki Badlowi. Mantan wartawan yang kini juga menjadi staf khusus Wakil Presiden, Prof Dr (HC) KH Maruf Amin.

Anwar Abbas adalah seorang pengajar, ulama, dan ahli ekonomi Islam Indonesia. Ia juga tercatat sebagai Ketua PP Muhammadiyah dan Sekjen MUI Pusat. Doni terbilang pejabat yang sangat cepat beradaptasi. Apalagi setelah mengetahui Anwar Abbas, kelahiran Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat.

Anwar tidak mengira, kalau Doni merupakan putra Minang. Doni tentu tidak asing dengan budaya Minang. Orang tuanya, Letnan Kolonel Polisi Militer (Purnawirawan) Nasrul Saad dan Roeslina, memang orang Minang.

Kelas 2 SMP, Doni kembali mengikuti tugas ayahnya yang dipindahkan dari Banda Aceh ke Kota Padang. Di situ juga Doni kembali belajar mengaji. Kedua orangtuanya memanggil guru mengaji untuk mengajari Doni. Remaja Doni pun menamatkan pendidikan menengah di SMA Negeri 1 di Kota Padang.

Setidaknya, ia memiliki tiga kampung halaman, yakni Cimahi dan Bandung, Lhok Semawe dan Banda Aceh, serta Padang. Maklumlah, ia dilahirkan di Cimahi, saat ayahnya dinas di Pusat Pendidikan Polisi Militer, tahun 1963. Kemudian ditugaskan ke Lhok Seumawe, Aceh Utara. Jangan heran jika Doni bisa berbahasa Sunda, Minang, dan Aceh.

Setamat SMA pun, Doni kembali hijrah ke Bandung. Bersemangat mengikuti bimbingan belajar. Ia ingin menjadi mahasiswa di Bandung. Ingin menjadi sarjana teknik, insinyur. 

Namun, nasib berkata lain. Darah militer rupanya mengalir ke dalam tubuhnya, saat ia membaca peristiwa pembajakan pesawat DC-9 Garuda Woyla di Bandara Don Muang, Thailand, 1981.

Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Indonesia, ketika itu bernama Komando Pasukan Sandhi Yudha (Kopasandha) menjadi tim yang berhasil membebaskan 57 sandera. Berita itu memenuhi headline surat kabar dan TVRI, satu-satunya televisi di Indonesia.

Berita itu mengubah cita-citanya. Ia bertekad menjadi anggota TNI. Lebih khusus menjadi tentara pilihan. Baret merah, Komando Pasukan Khusus. Ia pun mendaftar ke Akademi Militer (Akmil) dan lulus tahun 1985. Keinginannya yang kuat, membuahkan hasil. Ia lulus pendidikan komando dan menjadi perwira spesialis sandi yudha (intelijen perang).

Bahkan pada September 2014 hingga Juli 2015, Doni menjadi Komandan Jenderal Kopassus.  Sebelumnya, ia menjadi Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).  

Nasib media
Dalam obrolan Sabtu (16/5/2020) malam, penulis menemani Doni hingga berganti hari, Ahad (17/5/2020). Ia bekerja hingga berganti hari, pukul 00.17 WIB. Seperti tidak kenal menyerah.

Sebelum berganti hari, ia terus berkoordinasi dengan Menteri Kesehatan, Letjen (Purn) Terawan Agus Putranto hingga pukul 23.30 WIB. Keduanya membahas keberadaan 121 laboratorium yang menangani covid-10. Laboratorium itu milik 11 lembaga yang berbeda, karena tu perlu dikoordinasikan.

Melalui telepon pula, ia memberikan saran-saran kepada Gubernur Bali, I Nyoman Koster, pukul 22.30. Koster memaparkan kerja yang dilakukan pemerintah Provinsi Bali dalam penanganan covid-19. Termasuk menggunakan kearifan lokal, seperti melibatkan majelis desa adat serta Parisadha Hindu Dharma Indonesia.

Doni setuju. Majelis agama menjadi mitra strategis bagi Gugus Tugas Covid-19. Malam itu juga Doni terus memantau persiapan untuk bisa bersilaturahim dengan pimpinan MUI, Ahad (17/5/2020). Tentu saja sebagai tindak lanjut dari pembicaraan melalui konferensi video dengan Sekjen MUI, Anwar Abbas.

Empat personel militer yang mendampingi Doni terus bekerja menjalankan perintahnya. Koordinator Staf Pribdi, Kolonel (Zeni) M Budi Irawan; staf khusus sekretariat, Kolonel (Arhanud) Hasyim Laihakim; staf operasi gugus tugas, Kolonel (Infanteri) Lucky Avianto; dan ajudan Sertu (Topografi) Herry Purnama.

Sesekali ia membalas WA dari sejumlah menteri, anggota parlemen, para kepala daerah, dan sejumlah pihak. Utamanya terkait dengan masalah corona. Matanya pun seperti elang, terus memonitor perkembangan covid-19 di sejumlah negara melalui beberapa saluran televisi.

Malam hari digunakannya sebagai monitoring dan evaluasi. Apa yang harus kami perbaiki? Apa yang belum dilaksanakan?. Masalah apa yang belum ada solusinya? Ia seperti ‘menteri koordinator’ khusus covid. Menjadi dirijen bagi para pejabat negara.

Sekitar pukul 22.00, seperti biasa, Doni kembali menikmati makanan favoritnya martabak telur dan martabak keju. Ia juga menikmati baso ati raja khas Makassar. Tak ketinggalan buah pepaya merah kesukaannya.

Sambi ngobrol, ia juga bertanya kepada penulis, bagaimana nasib media massa dalam dua bulan ini?. Ia mengaku prihatin dan berharap ada solusi dari turunnya pendapatan iklan media massa hingga 80 persen.

“Wartawan menjadi ujung tombak kami, baik diminta maupun dengan kesadaran sendiri. Jika media massa tidak sehat, bangsa ini juga bersedih. Menjadi tidak sehat juga bangsa ini.”

Ia mengharapkan media massa mendahulukan berita-berita positif daripada berita negatif terkait covid-19. Menumbuhkan disiplin serta optimistis dalam kondisi wabah pandemi ini. 
Namun, lanjut Doni, bukan berarti media massa tidak boleh kritis. Semua harus kritis, termasuk menyikapi masyarakat yang terkapar pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat covid-19.

“Saya tidak ingin masyarakat semakin banyak terpapar corona dan terkapar PHK. Ini yang membuat saya sedih dan terus memberikan masukan kepada sejumlah pihak.”

Wartawan senior Metro TV, Suryo Pratomo (Tommy) turut mendampinginya saat buka puasa. Doni juga meminta informasi kepada Tommy soal perusahaan-perusahaan yang melakukan PHK dan nasib koperasi, usaha menengah dan kecil yang terdampak. Begitu juga dengan perbankan yang dalam kondisi terpuruk.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA