Thursday, 16 Safar 1443 / 23 September 2021

Thursday, 16 Safar 1443 / 23 September 2021

Mencari Lembaga Pendidikan Pasca Covid-19

Ahad 17 May 2020 16:04 WIB

Red: Irwan Kelana

Suasana webinar bertajuk

Suasana webinar bertajuk "Memikirkan Kembali Pendidikan Kita: Refleksi di Tengah Pandemi Covid-19" yang diadakan oleh Sekolah Bakti Mulya 400.

Foto: Dok BM 400
Lembaga pendidikan harus menjadi lembaga yang paling cepat mengalami perubahan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada situasi situasi pandemi Covid-19  ada dua sisi menarik, yaitu keterbatasan gerak dan keharusan untuk kreativitas. “Keterbatasan karena kebijakan  Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)  yang mengharuskan kita bekerja dari rumah. Namun dalam waktu yang bersamaan kita harus berpikir kreatif agar pekerjaan tersebut bisa selesai,” kata Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said pada pembuka webinar dengan "judul Memikirkan Kembali Pendidikan Kita: Refleksi di Tengah Pandemi Covid-19".

Webinar yang berlangsung Sabtu (16/5)  itu  sekaligus acara openhouse Sekolah Bakti Mulya 400 Jakarta. Kegiatan ini diikuti oleh praktisi pendidikan dan orang tua siswa baru sekolah tersebut. Webinar yang diikuti 130 peserta itu  berlangsung dengan lancar mulai pukul 8.30 sampai 10.00 WIB.

Siaran pers Sekolah Bakti Mulya 400 yang diterima Republika.co.id menyebutkan, acara tersebut ditujukan kepada praktisi pendidikan dan orang tua. Untuk praktisi pendidikan diharapkan mampu membuat langkah parktis pasca Covid 19. Kepada orang tua diharapkan memiliki wawasan pentingnya memilih lembaga pendidikan pasca Covid 19. 

Tampil sebagai MC dan moderator acara, Eliyani Umas, kepala SD Bakti Mulya 400 dengan susunan acara paparan program sekolah, pengarahanan umum dan seminar pendidikan. Paparan program disampaikan oleh Hadi Suwarno, manager SBM-2 sedangkan pengarahan umum disampaikan oleh Ketua Pelaksana Harian (KPH), Bakti Mulya 400, Sutrisno Muslimin. 

Dengan mengutip, futurolog Alvin Tofler  penuis buku Future Shock, Sutrisno Muslimin mengingatkan bahwa orang yang buta huruf di abad 21 bukan mereka yang yg tidak mampu membaca. “Orang yang buta huruf abad 21 adalah orang yang tidak mampu belajar, orang yang tidak mau belajar dan orang yang tidak mau belajar kembali,” ujar Sutrisno.

Karena itu, lanjut Sutrisno, lembaga pendidikan harus menjadi lembaga yang paling cepat mengalami perubahan. Perbahan itu dimulai dari guru yang mampu menyesuaikan perubahan dengan menciptakan pembelajaran kolaboratif, aktif dan partisipatif. “Guru harus menjadi hebat dalam hal membuat siswa kreatif, inovatif dan compassion terhadap ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Bahkan Sutrisno Muslimin mengingatkan, “Siapapun yang menjadi tenaga pendidik pada hari ini yang tidak berubah mengikuti perubahan fundamental maka mohon maaf mereka akan tergeser, terpinggirkan karena perubahan zaman.”

Dengan menyadari hal tersebut, Sekolah Bakti Mulya 400  juga terus menyesuaikan dalam aspek infrastruktur dan suprastruktur. "Sekolah melakukan perbaikan yang berkelanjutan pada guru, sarana baik fisik, maupun sarana pembelajaran sesuai perubahan paradigma," papar Surisno Muslimin.

Selaras dengan pentingnya dinamika perubahan, Sudirman Said menyampaikan beberapa pointer paparan seminarnya. Pertama, sekarang ini ada kecenderungan perusahaan-perusahaan besar menerima pegawainya bukan berdasarkan ijazah tapi berdasarkan capability pekerja. “Sekolah harus memberikan bekal ketrampilan (skill), pengetahuan maupun attitude,”  ujarnya.

Kedua, orang yang sukses dalam berkarir umumnya karena didorong oleh passion mereka. Banyak orang besar yang sukses meskipun tidak sesuai dengan bidang pendidikan yang ditempuh sebelumnya. “Dengan demikian lembaga pendidikan sebaiknya selain berperan memberikan bekal pengetahuan teknis, tapi  juga memberikan the ability to ajust, tempat mencari passion, mencari apa yang menjadi minat utama siswa menjadi penting” ungkap Sudirman Said.

Pada bagian ketiga, Sudirman Said mengingatkan adanya prediksi bahwa Indonesia akan menjadi negara dengan pendapatan perkapita terbesar ke-4 di dunia pada tahun 2050. “Prediksi tersebut bisa masuk akal apabila Indonesia mampu menggunakan potensi penduduk yang besar, kaya sumber daya alam dan tata kelola pemerintahan yang baik,” tuturnya.

Terkait dengan persoalan ini maka pendidikan yang menekankan sumberdaya manusia menjadi hal yang strategis. “Pendidikan itu penting dan memilih lembaga pendidikan terbaik adalah kunci dari perjalanan masa depan bangsa kita,” ujarnya.

Pada bagian keempat, Sudirman Said menyampaikan “Kunci Inggris Kehidupan”. "Pada prinsipnya,  bila kita ingin membekali anak dengan  ketrampilan yang tidak akan lekang oleh waktu maka bekalilah dengan empat hal. Keempat hal itu adalah  integrity/kejujuran, kompetensi (teknis, manajerial, sosial) networking (berteman, masuk berbagai organisasi, minat)  dan learning to learn (memupuk minat belajar)," paparnya.

Mengakhiri paparan seminar Sudirman Said menyampaikan pesan kepada orang tua yang sedang memilih sekolah,  “Bakti Mulya 400 is the best choice, karena keseimbangan antara kemampuan teknikal, pemahaman global, nasionalisme, juga fondasi keagamaan terbangun dengan baik secara seimbang, Pada akhirnya soft skill yang akan menentukan apakah seseorang akan survive pada dunia yang cepat berubah.” 

Pada acara tersebut juga tampil testimoni orang tua siswa yang memberikan apresiasi terhadap program sekolah. Ibu Rosa,  salah satu orang tua SD Bakti Mulya 400 menyampaikan bahwa putrinya mampu menampilkan bakat optimalnya karena peran guru sekolah. Demikian juga Ibu Irene Librawati orang tua SMP Bakti Mulya 400 memberikan respons positif karena anaknya menjadi pribadi yang lebih matang dan percaya diri.

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA