Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Ada Pandemi, Neraca Dagang Indonesia Masih Surplus

Jumat 15 May 2020 10:11 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Friska Yolandha

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kinerja neraca dagang Indonesia selama periode Januari hingga April 2020 mengalami surplus 2,25 miliar dolar AS. Sementara nilai ekspor tercatat 53,95 miliar dolar AS, kinerja impor adalah 51,71 miliar dolar AS.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kinerja neraca dagang Indonesia selama periode Januari hingga April 2020 mengalami surplus 2,25 miliar dolar AS. Sementara nilai ekspor tercatat 53,95 miliar dolar AS, kinerja impor adalah 51,71 miliar dolar AS.

Foto: Tim Infografis Republika.co.id
Neraca dagang sejak Januari mengalami surplus 2,25 miliar dolar AS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kinerja neraca dagang Indonesia selama periode Januari hingga April 2020 mengalami surplus 2,25 miliar dolar AS. Sementara nilai ekspor tercatat 53,95 miliar dolar AS, kinerja impor adalah 51,71 miliar dolar AS.

Kepala BPS Suhariyatno mengatakan, kinerja empat bulan pertama tahun ini menunjukkan perbaikan dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Pada Januari-April 2019, neraca dagang indonesia mengalami defisit hingga 3,23 miliar dolar AS.

Baca Juga

Dengan memperhatikan dampak pandemi Covid-19 terhadap kinerja perekonomian dan perdagangan banyak negara, kondisi neraca dagang yang surplus patut diapresiasi. "Performa Januari-April 2020 lebih baik. Tentunya ke depan, mudah-mudahan performa ini bisa lebih baik lagi," ujar Suhariyanto dalam konferensi pers secara live streaming, Jumat (15/5).  

Tapi, Suhariyanto mengatakan, ada beberapa hal yang tetap harus menjadi catatan. Di antaranya, kinerja impor bahan baku/penolong yang kontraksi 7,30 persen menjadi 39,05 miliar dolar AS pada Januari-April 2020.

Performa serupa terjadi pada barang modal. Pada periode Januari-April 2020, nilainya turun 14,12 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu, menjadi 7,83 miliar dolar AS. Suhariyanto mengatakan, kontraksi pada impor dua jenis barang ini patut diwaspadai dan dicermati dari waktu ke waktu.

"Karena, dampaknya ke sektor industri, perdagangan dan investasi akan cukup besar," tuturnya.

Suhariyanto mengatakan, selama empat bulan pertama ini, banyak hal mempengaruhi kinerja neraca dagang Indonesia. Khususnya perekonomian berbagai negara yang diwarnai ketidakpastian, hingga menyebabkan perlambatan perekonomian atau bahkan kontraksi.

Di sisi lain, Suhariyanto menambahkan, adanya pelambatan inflasi yang menunjukkan penurunan daya beli di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dampaknya, harga komoditas juga mengalami penurunan cukup dalam. 

"Ini mewarnai performa neraca dagang Indonesia pada April maupun Januari hingga April," katanya.

Untuk April saja, neraca dagang Indonesia mengalami defisit 350 juta dolar AS. Rinciannya, kinerja ekspor mencatatkan nilai 12,19 miliar dolar AS, sementara impor mencapai 12,54 miliar dolar AS. Meski defisit, Suhariyanto menilai, posisi neraca dagang April masih lebih baik dibandingkan tahun lalu yang mengalami defisit hinga 2,3 miliar dolar AS. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA