Thursday, 26 Zulhijjah 1442 / 05 August 2021

Thursday, 26 Zulhijjah 1442 / 05 August 2021

Akibat Covid, Utang Publik Selandia Baru Naik 2 Kali Lipat

Jumat 15 May 2020 09:40 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Friska Yolandha

Selandia Baru pada Kamis (14/5) mengumumkan utang publiknya akan lebih dari dua kali lipat selama tiga tahun ke depan. Hal itu karena negara tersebut meluncurkan rencana investasi besar-besaran untuk mengurangi dampak ekonomi dari pandemi Covid 19.

Selandia Baru pada Kamis (14/5) mengumumkan utang publiknya akan lebih dari dua kali lipat selama tiga tahun ke depan. Hal itu karena negara tersebut meluncurkan rencana investasi besar-besaran untuk mengurangi dampak ekonomi dari pandemi Covid 19.

Foto: AP Photo/Mark Baker
Selandia Baru investasikan Rp 443 triliun untuk mendorong perekonomian.

REPUBLIKA.CO.ID, AUCKLAND -- Selandia Baru pada Kamis (14/5) mengumumkan utang publiknya akan lebih dari dua kali lipat selama tiga tahun ke depan. Hal itu karena negara tersebut meluncurkan rencana investasi besar-besaran untuk mengurangi dampak ekonomi dari pandemi Covid 19.

Negara kepulauan itu akan menginvestasikan 50 miliar dolar Selandia Baru (Rp 443,2 triliun) selama empat tahun ke depan untuk mendorong perekonomian. Akibatnya, utang publik atau rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) diperkirakan akan meningkat dari 20 persen dari PDB menjadi 54 persen pada tahun 2023.

Baca Juga

Tetapi Selandia Baru jauh dari satu-satunya negara yang mengharapkan utang publiknya terkena dampak pandemi. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan bulan lalu bahwa neraca fiskal pada tahun 2020 diperkirakan akan memburuk di hampir semua negara, dengan perkiraan ekspansi yang cukup besar di Amerika Serikat, China, dan beberapa ekonomi Eropa dan Asia lainnya.

Dengan demikian, kawasan Eropa diperkirakan akan melihat utang publik bruto relatif terhadap kenaikan PDB dari 84,1 persen pada 2019 menjadi 97,4 persen tahun ini.

Negara-negara di seluruh dunia mengambil langkah drastis untuk menahan penyebaran pandemi Covid 19 yang mematikan. Lockdown diperkenalkan di setiap benua, membatasi kemampuan orang untuk bergerak dan bertemu, menghentikan seluruh sektor hingga berhenti dan membuat sistem layanan kesehatan berada di bawah tekanan kuat.

Pemerintah di seluruh dunia harus mengungkap rencana investasi besar-besaran untuk menjaga agar bisnis tidak runtuh dan pekerja kehilangan pekerjaan mereka.

Menurut lembaga think tank Bruegel, pemerintah federal Jerman mengumumkan langkah-langkah dukungan bernilai lebih dari 1.400 miliar, sementara Perancis, Italia, Inggris dan AS masing-masing mengajukan 620 miliar, 781 miliar, 520 miliar dan 3.000 miliar.

Menurut proyeksi IMF dalam Monitor Fiskalnya yang dirilis bulan lalu, Yunani dan Italia akan tetap menjadi negara yang paling berhutang dengan rasio utang terhadap PDB Yunani diperkirakan naik dari 179,2 persen menjadi 200,8 persen. Belgia, Siprus, Prancis, Portugal, dan Spanyol sementara itu diperkirakan akan melewati ambang batas 100 persen.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA