Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

WHO: Corona Kemungkinan tidak Bisa Hilang Meski Ada Vaksin

Kamis 14 May 2020 18:53 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Agus Yulianto

Virus corona dalam tampilan mikroskopik. (ilustrasi)

Virus corona dalam tampilan mikroskopik. (ilustrasi)

Foto: EPA/CDC
WHO memperingatkan agar tidak mencoba memprediksi kapan virus akan hilang.

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa virus corona kemungkinan tidak akan bisa hilang. Berbicara pada briefing pada hari Rabu (13/5), Direktur kedaruratan WHO Dr Mike Ryan memperingatkan, agar tidak mencoba memprediksi kapan virus akan hilang.

Bahkan, dia menambahkan, jika vaksin ditemukan, mengendalikan virus akan membutuhkan upaya besar-besaran. Apalagi, hampir 300 ribu orang di seluruh dunia dilaporkan meninggal akibat virus corona, dan lebih dari 4,3 juta kasus tercatat.

"Virus ini dapat menjadi virus endemik lain di komunitas kita, dan virus ini mungkin tidak akan pernah hilang," kata Dr Ryan pada konferensi pers virtual dari Jenewa, dilansir di BBC, Kamis (14/5).

"HIV belum hilang, tetapi kita telah sepakat dengan virus ini," tambahnya.

Dr Ryan kemudian mengatakan, dia tidak percaya siapa pun dapat memprediksi kapan penyakit ini akan hilang. Saat ini ada lebih dari 100 vaksin potensial dalam pengembangan, tetapi Dr Ryan mencatat ada penyakit lain, seperti campak, yang masih belum dihilangkan walaupun ada vaksin.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menekankan, masih mungkin untuk mengendalikan virus, dengan berbagai upaya. 

"Lintasan ada di tangan kita, dan itu urusan semua orang, dan kita semua harus berkontribusi untuk menghentikan pandemi ini," kata Tedros.

Ahli epidemiologi WHO, Maria van Kerkhove juga mengatakan hal yang serupa. "Kita perlu masuk ke dalam pola pikir bahwa perlu waktu untuk keluar dari pandemi ini." kata van Kerkhove.

Sementara itu PBB memperingatkan pandemi itu menyebabkan tekanan yang luas dan kesehatan mental, terutama di negara-negara di mana ada kurangnya investasi dalam perawatan kesehatan mental.

PBB mendesak pemerintah untuk menjadikan pertimbangan kesehatan mental sebagai bagian dari tanggapan mereka secara keseluruhan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA