Sunday, 6 Ramadhan 1442 / 18 April 2021

Sunday, 6 Ramadhan 1442 / 18 April 2021

Lady Gaga, Madonna & Nicki Minaj Jadi Target Pembajakan Data

Kamis 14 May 2020 11:21 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Reiny Dwinanda

Hacker (Ilustrasi). Pembajak yang diduga berasal dari Eropa Timur meminta tebusan senilai 21 juta dolar AS untuk data hasil curian dari biro hukum dunia hiburan yang menaungi selebritas dunia, mulai dari Lady Gaga, Madonna, hingga Nicky Minaj.

Hacker (Ilustrasi). Pembajak yang diduga berasal dari Eropa Timur meminta tebusan senilai 21 juta dolar AS untuk data hasil curian dari biro hukum dunia hiburan yang menaungi selebritas dunia, mulai dari Lady Gaga, Madonna, hingga Nicky Minaj.

Foto: Flickr
Pembajak curi data pribadi selebritas dunia di biro hukum dunia hiburan di New York.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Sejumlah selebritas dunia melaporkan upaya pembajakan data setelah adanya penerobosan keamanan di biro hukum dunia hiburan, Grubman Shire Meiselas & Sacks. Perusahaan asal New York yang menjadi langganan selebritas itu mengonfirmasikan bahwa pihaknya telah menjadi korban serangan siber.

"Kami sudah memberitahu klien dan staf. Kami mempekerjakan ahli tingkat dunia di bidang ini untuk menyelesaikannya secepatnya," tulis keterangan resmi Grubman Shire Meiselas & Sacks dilansir Access Online dari pada Kamis, (14/5).

Kelompok yang melakukan pembajakan menamai diri REvil atau Sodinokibi. Mereka diduga mencuri data sebesar 786 gigabytes menyangkut selebritas dunia, mulai dari Lady Gaga, Madonna, Nicki Minaj, Bruce Springsteen, Mary J Blige, Ella Mai, Christina Aguilera, Mariah Carey, Cam Newton, Bette Midler, Jessica Simpson, Priyanka Chopra, Idina Menzel, dan Run DMC.

Kelompok pembajak mengeklaim punya dokumen para selebritas, mulai dari kontrak, kesepakatan tertutup, nomor telepon, dan alamat. Belum lama ini, ada dokumen kontrak Madonna untuk konser Madame X di tahun 2019-2020 yang beredar di dark web.

Kabarnya, mereka meminta uang tebusan senilai 21 juta dolar AS untuk data hasil curian tersebut. Diduga mereka berasal dari Eropa Timur.

"Pembajak masuk ke sistem kami di saat semua orang fokus pada virus corona. Mereka meminta 21 juta dolar, tapi kami tak bernegoisasi dengan mereka," kata Grubman Shire Meiselas & Sacks.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA